Penulis Gufron Azis Fuandi
Ustadz
BAGAIMANA Allah Menguji Kita? Qarun adalah salah satu tokoh yang namanya diabadikan dalam Al Qur'an. Karena itu, tidak heran jika nama Qarun sangat populer di Indonesia, bahkan melebihi popularitas komedian Kirun. Saking kayanya, ketika masyarakat menemukan barang berharga—baik di dalam bumi maupun di kedalaman lautan—sering disebut sebagai “harta Qarun” atau “harta karun”.
Menurut beberapa ahli tafsir, Qarun pada awalnya adalah orang saleh yang hidup sederhana. Namun, ketika jumlah anaknya bertambah, kehidupannya menjadi semakin sulit. Ia pun meminta kepada Nabi Musa—yang juga sepupunya—agar mendoakannya menjadi kaya. Sebagai seorang nabi, doa Nabi Musa tentu mustajab. Tidak lama kemudian, kehidupan Qarun berubah drastis: dari hidup sederhana dan serba kekurangan menjadi saudagar yang sangat kaya raya.
Namun, perubahan itu juga mengubah sikapnya. Dari seorang rahib (ulama) pengikut Nabi Musa, ia justru menjadi sekutu dekat Fir’aun dan Haman. Haman sendiri adalah penasihat sekaligus teknokrat kepercayaan Fir’aun. Ketiganya kemudian dikenal sebagai simbol kekuasaan yang memusuhi dakwah.
Kisah ini menunjukkan bahwa nikmat berupa kekayaan, pangkat, dan jabatan pada hakikatnya adalah ujian, bukan semata-mata kemuliaan.
Ujian serupa, dalam skala yang lebih kecil, juga terjadi pada masa Nabi Muhammad saw., yakni pada Tsa’labah bin Hathib. Pada awalnya, Tsa’labah adalah sahabat yang sangat miskin, tetapi sangat taat beribadah hingga dijuluki “merpati masjid” karena hampir tidak pernah meninggalkan salat berjamaah.
Mungkin karena lelah dengan kemiskinan, ia meminta Nabi Muhammad Saw. untuk mendoakannya agar menjadi kaya. Nabi sebenarnya mengingatkan agar ia tidak meminta hal tersebut dan tetap hidup sederhana, karena itu lebih baik baginya. Namun, Tsa’labah tetap bersikeras. Akhirnya, Nabi pun mendoakannya sesuai permintaannya.
Tidak lama kemudian, Tsa’labah menjadi sangat kaya.
Ternaknya berkembang pesat hingga memenuhi desanya, sehingga ia harus pindah ke tempat yang lebih luas. Namun, kesibukan mengurus harta membuatnya mulai lalai. Ia jarang salat berjamaah di masjid, bahkan pada puncaknya menolak membayar zakat karena menganggapnya sebagai pajak atau upeti.
Peristiwa ini disebut-sebut menjadi asbabun nuzul Surah At-Taubah ayat 75–77. Setelah itu, Tsa’labah ingin membayar zakat, tetapi ditolak oleh Nabi Saw. hingga beliau wafat. Bahkan, pada masa Abu Bakar, Umar, dan Utsman, zakatnya juga tidak diterima karena ia pernah menolaknya dengan tegas.
Di masa sekarang, tidak sedikit orang yang gagal menghadapi ujian kenikmatan. Ketika diuji dengan kekayaan, mereka menjadi sombong dan melupakan teman lama yang dahulu sama-sama miskin. Ketika diuji dengan jabatan, mereka melupakan masjid dan aktivitas dakwah. Bahkan, ada yang semakin berambisi meraih kekuasaan dan kekayaan dengan menghalalkan segala cara.
Padahal, Allah menguji hamba-Nya tidak hanya dengan kesempitan, tetapi juga dengan kelapangan. Ujian Allah menyasar titik lemah setiap hamba. Setiap orang pasti diuji, tetapi bentuk ujiannya tidak selalu sama.
Allah menguji manusia dengan beberapa cara: Memberikan apa yang diminta, seperti kekayaan, jabatan, dan kemuliaan. Ini untuk menguji apakah hamba tersebut mampu bersyukur atau tidak, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ibrahim ayat 7.
Menunda apa yang diminta, untuk menguji kesabaran hamba tersebut, sebagaimana dalam Surah Muhammad ayat 31.
Banyak orang mampu bersabar dalam kemiskinan, tetapi gagal saat diuji dengan kenikmatan karena tidak mampu bersyukur. Tidak memberikan apa yang diminta, untuk menguji keimanan. Dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 2 ditegaskan bahwa manusia tidak akan dibiarkan mengaku beriman tanpa diuji.
Ujian adalah alat ukur kualitas seseorang. Setiap ujian memang terasa sebagai kesulitan. Namun, sering kali kita hanya memandang kesulitan sebagai kemiskinan dan penderitaan. Padahal, kesulitan juga bisa berupa ketidakmampuan untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.
Bersyukur bukanlah perkara mudah. Banyak orang lalai bersyukur karena sibuk mengejar perubahan gaya hidup dan orientasi dunia. Bahkan, Nabi Muhammad saw. dan Nabi Sulaiman pun berdoa agar dimampukan untuk bersyukur:
“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, serta untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”
(An-Naml: 19)
Karena itu, ketika suatu subuh Nabi Muhammad saw. melihat jumlah jamaah membludak—karena kabar bahwa Abu Ubaidah baru datang dari Bahrain membawa harta—beliau bersabda:
“Bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba, hingga kalian binasa sebagaimana mereka binasa.”
(HR. Muslim, Al-Bukhari, dan Ibnu Abi Ad-Dunya)
Allahu a’lam bish-shawab.