UDARA dini hari masih basah oleh embun ketika sekitar 70 anggota Komunitas Bikers Subuhan memadati Masjid Baitun Nabat, Kompleks Perumahan PTPN Regional 7 Kedaton, Kota Bandarlampung, Sabtu (16/5/2026). Mereka melangitkan doa buat Bripka Anumerta Arya Supena.
Tak jauh dari lokasi, "Sang Bhayangkara" gugur demi pagi yang nyaman buat warga kota ini. Mereka datang bukan sekadar untuk menunaikan salat subuh berjemaah. Pagi itu, mereka membawa duka dan doa untuk mengenang Bripka Anumerta Arya Supena.

Salat Gaib di Ujung Duka Seorang Bhayangkara
Kegiatan dimulai sejak pukul 04.30 WIB. Selepas salat subuh, jemaah melaksanakan salat gaib untuk almarhum, dilanjutkan kajian keagamaan dan sarapan bersama dalam suasana hening yang penuh penghormatan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pembina Bikers Subuhan Kombes Pol Edi Purnomo, Awalun Bikers Subuhan MD Rizani, serta puluhan jemaah dari berbagai komunitas.
Namun pagi itu tidak berhenti di dalam masjid. Setelah doa-doa dipanjatkan, rombongan bergerak menuju lokasi penembakan di halaman Toko Kue Yussi Akmal. Di titik itulah karangan bunga diletakkan sebagai penghormatan atas dedikasinya.

Mengenang Arya Supena: Doa Subuh dari Jalanan yang Sunyi
“Di titik inilah almarhum mengorbankan nyawanya demi rasa aman dan damai. Ini pengorbanan luar biasa dan menjadi teladan bagi kita semua,” kata Rizani dalam sambutannya. Ia menyebut, rasa aman yang selama ini dirasakan masyarakat kerap hadir tanpa disadari berasal dari pengorbanan aparat di lapangan.
Ketika sebagian orang dapat beribadah dengan tenang atau pulang ke rumah tanpa rasa takut, ada petugas yang berjaga di garis terdepan, bahkan mempertaruhkan hidupnya. “Saat kita beribadah dengan tenang, ada yang menjaga, bahkan sampai kehilangan nyawa,” ujarnya.
Rizani juga menyinggung penanganan kasus penembakan tersebut. Menurut dia, Polda Lampung bergerak cepat mengungkap pelaku dalam waktu relatif singkat. “Dalam enam hari, pelaku berhasil diungkap meskipun harus dilakukan tindakan tegas terukur,” katanya.

Baca juga: Terungkap, 2 Residivis Pembunuh Bripka Arya, 1 Tewas dan 1 Sekarat
Di hadapan para jemaah, Rizani turut mengajak mereka merenungkan makna kematian—sesuatu yang pasti datang kepada setiap manusia, namun cara menjemputnya menjadi bagian dari pilihan hidup. “Dengan cara apa pun kita akan meninggalkan dunia ini. Kita tentu berharap berakhir dengan cara yang baik,” ujarnya lirih.
Menurutnya, doa-doa yang dipanjatkan dalam salat gaib mungkin tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan almarhum. Namun setidaknya, itu menjadi bentuk penghormatan paling tulus yang dapat diberikan masyarakat kepada seorang Bhayangkara yang gugur dalam tugas.
Kegiatan ditutup sekitar pukul 06.30 WIB. Matahari mulai naik perlahan di ufuk Timur, sementara para jemaah meninggalkan lokasi dengan langkah yang lebih sunyi—membawa pulang duka, penghormatan, sekaligus kesadaran bahwa rasa aman kadang dibayar dengan nyawa. (Rls/HBM)
