LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Tak hanya sebagian anggota yang tak hadir kecewa dengan Mubes ke-5 IKA Faperta Unila, tapi juga ada beberapa peserta yang hadir malu dengan mubes yang carut-marut jauh dari semangat demokrasi.
Iskandar Zulkarnain yang hadir mubes pakai id card bilang bahwa pada pembahasan Laporan LPJ, saat laporan keuangan, para Srikandi A98 terlihat bisik-bisik kiri-kanan di Aula Faperta Unila, Minggu (28/7/2024).
Ada peserta dari Angkatan 84 maju menanyakan sumber dana dan dijawab sepintas berasal dari iuran awal alumni kemudian pimpinan sidang terlihat terburu-buru menanyakan apakah LPJ diterima?
Koor suara menerima menimpa suara yang masih ingin mempertanyakan LPJ. Pimpinan sidang langsung ketok palu, katanya lewat whatsapp group baru yang jadi saluran silaturahmi sekaligus mengkritisi pelaksanaan mubes.
Dia kemudian merasa situasinya tak kondusif. "Sayang, saya kehilangan selera menulis minute of meeting setelah mengingat-ingat kembali terlalu banyak kesan pimpinan sidang mendominasi," tandasnya.
Catur Agus Dewanto yang juga hadir melihat kurang keterbukaan dan adanya rasa kekhawatiran yang berlebih sehingga mencoba untuk mengkerdilkan regulasi yang seharusnya buat landasan mubes para sarjana.
Menurut dia, laporan keuangan seharusnya mendetail, terlepas saldo minus atau saldo plus biar menjadi pembelajaran ke depan. "Menjadi lebih baik sebagai organisasi yang bisa besar untuk mimpi besar bersama," ujarnya.
Catur Agus Dewanto FP87 memberikan lima catatan hingga munculnya gonjang-ganjing pascamubes, yakni:
1. Adanya pergantian AD dan ART ISP menjadi IKA tidak melalui mekanisme yang ada sehingga ujuk-ujuk muncul meski dijelaskan sebagai bentuk menampung aspirasi.
2. Masih adanya ruang atau celah dalam AD dan ART yang belum mengatur tata cara persidangan, pemilihan dan lainnya.
3. Ada ruang mengatur secara teknis tetapi belum digunakan, yakni petunjuk operasional (PO).
4. Kurang teliti panitia mubes dalam rangka menginformasikan kegiatan padahal alumni Faperta Unila itu sangat banyak dan era digitalisasi kurang dimanfaatkan.
5. Ada upaya pengkerdilan AD dan ART yang memang masih perlu pengkayaan.
Almuheri Ali Paksi yang juga hadir di mubes mengatakan terbuka untuk mendiskusikannya jika pihak penyelenggara menilai perlu dan bertujuan membesarkan IKA Faperta Unila.
Catur Agus Dewanto melihat kurang keterbukaan dan adanya rasa kekhawatiran yang berlebih sehingga mencoba untuk mengkerdilkan regulasi yang ada. "Menjadi lebih baik sebagai organisasi yang bisa besar untuk mimpi besar bersama," ujarnya.
Syamsul Arifin, anggota luar biasa IKA Faperta Unila (AD-ART), bilang tujuan mengkritisi pelaksanaan mubes bukan buat menang kalah, tapi mencari kebenaran dan memperbaiki yang keliru. Dia menyesalkan malah direspon resisten para pelaksananya.
TERBELAH DAN SOMASI
Pasca Mubes Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pertanian (IKA Faperta) Unila, polemik soal keabsahannya masih berlanjut bahkan makin panas hingga terbelah dua kubu dan "para penguasanya" main delete anggota dari whatsapp group.
Kedua pandangan soal keabsahan musda kelima tersebut semakin menjauh bahkan main ancaman setelah muncul somasi. "Ada apa ya, diberi masukan, malah makin kesurupan," kata Syamsul Arifin dari IFU 84.
Almuheri Ali Paksi dkk akhirnya melayangkan somasi ke Elvira Umihani. Menurut dia, somasi dilayangkan karena mubes tak mencerminkan semangat silaturahmi dan legitimasi.
"Hak anggota dipasung, tatib direkayasa dan melanggar AD-ART untuk menghilangkan hak suara bahkan sekedar berpendapat," kata alumni Angkatan 86 itu kepada Helo Indonesia.
Kuasa hukumnya, Law Firm TJD and Attorneys, akan mendaftarkan gugatan ke PN Tanjungkarang setelah pengukuhan IKA Faperta 2024-2027. (HBM).
