Helo Indonesia

Samsara Korban Banjir, Bantuan Kemanusiaan Mengalir, Dosen Ini Ajak Kita Kendalikan

Minggu, 2 Februari 2025 13:18
    Bagikan  
Samsara Korban Banjir, Bantuan Kemanusiaan Mengalir, Dosen Ini Ajak Kita Kendalikan

Searah jarum jam: Gubernur Lampung terpilih Rahmat Mirzani Djausal, Wamensos Agus Jabo, Wagub Lampung terpilih Jihan Nurlela, peneliti banjir Arif Rohman, relawan Yayasan Budhha Tzu Chi saat baksos bantu korban banjir. | Kolase Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ------ Bencana hidrometeorologi, landa bencana alam banjir awal tahun di wilayah enam kabupaten/kota area terdampak di Lampung, masih terus menyisakan jumlah kerugian materiil dan immateriil tak sedikit. Juga pilu memerih.

Hingga detik ini, belum ada satu pihak pun yang berani merilis berapa jumlah total nilai kedua kerugian dimaksud.

Dari Bumi Tuwah Bepadan, terdampak sekitar 2.062 warga penyintas dan sedikitnya 907 hektar sawah produktif di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur (Lamtim), catat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

26 Januari lalu, Kades setempat Sukarman, menerima donasi kemanusiaan sumbangsih Bank Syariah Indonesia Cabang Sribhawono, PT Tirta Gemilang Rahayu Lamtim, dibawah koordinasi Gerakan Pemuda Ansor Lamtim Peduli pimpinan HR Muslih. Selain, donasi senada Fatayat NU dan Pagar Nusa sini.

Dari Bumi Ragom Mufakat, hingga 31 Januari, banjir masih betah, enggan surut, sebagian surut tapi perlahan di sepanjang area muasal rawa, bilangan Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan. "Banjir Palas", istilah setempat merujuk banjir langganan, banjir tahunan ini semirip area tetap terdampak banjir di Kota Tapis Berseri Bandarlampung.

Sejumlah warganet, seperti rutin dipantau, rajin unggah bahkan siaran langsung dari area tergenang antara lain di Desa Bali Agung dan Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas.

Riset Unila beberapa warsa silam bahkan telah mengelompokkan khusus Bali Agung dengan potensi sawah produktif 747,065 hektar, desa kategori sangat rawan banjir. Pewarta, organiser petani setempat kurun 1998-2003, acap dengar seloroh warga sini, presiden boleh silih berganti, tetapi "banjir lautan asmara" pasti datang tiap curah hujan tinggi. Risiko warga eks Rawasragi, celoteh silam mereka.

Dari Bumi Sai Bumi Nengah Nyappur, ratusan hektar sawah petani Kampung Sido Mekar, Kecamatan Gedung Aji Baru, Kabupaten Tulang Bawang, terancam gagal produksi. Tetanaman padi lahan sawah hitungan minggu, terpantau kedinginan pasrah digenang banjir tak jua surut berlalu.

Di dalam kota, sedikitnya 14 ribuan kepala keluarga, warga di 17 titik terdampak di 16 kecamatan se-Kota Bandarlampung, sepekan lamanya tercekam pelbagai dampak mulai kecil hingga dampak mengerikan pascabanjir.

Banyak yang luput dari picing media, ikan-ikan air tawar aneka nama riang berjumpalitan keluar terpaksa gegara debit air menggila, saat banjir perdana pekan kedua Januari lalu, di bilangan sentra kolam peternakan ikan air tawar terbesar Lampung, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu.

Diksi viral, "ubur-ubur ikan lele, banjir le", belum viral saat itu. Jutaan rupiah pasti, kerugian para warga peternak ikan dalam kolam itu, yang pastinya pula tak sempat setel lagu viral Ikan Dalam Kolam dua tahun lalu.

Helo Indonesia, apresiatif, kepekaan sosial tinggi, duet Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung terpilih Mirza-Jihan, sikapi banjir. Gubernur terpilih Rahmat Mirzani Djausal misal, bersama Nyonya, Batin Wulan, juga Wagub terpilih Jihan Nurlela, berjibaku ikut menyemangati warga, menyalurkan bantuan darurat, mendengar keluh kesah sekaligus menghibur warga penyintas. Berbasah ria.

Wagub terpilih Jihan, dokter milenial hijabers usia kepala tiga ini terpantau terjun langsung ke wilayah terdampak di sejumlah kecamatan di Lampung Tengah, Lampung Timur, dan juga Lampung Selatan.

Dari Jakarta, dua warga Kabinet Merah Putih, Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono didampingi istri dan jajaran Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Ditjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, turun langsung meninjau warga penyintas, berdialog, dan berbelasungkawa kepada ahli musibah korban tewas, serta menyalurkan bantuan tanggap darurat bencana alam di Bandarlampung Rp1,1 miliar.

Selain Wamensos Jabo, juga Menko Pangan Zulkifli Hasan hadir meninjau dan beri bantuan pangan di Lampung Selatan.

Apresiasi senada pula bagi seluruh uluran tangan, hati dan jiwa seluruh elemen rakyat Lampung sipil-militer, pemerintah pusat dan daerah, partai politik, anggota legislatif, TNI dan Polri, dunia usaha dunia industri (DUDI), filantrop, komunitas hobi, komunitas etnis minoritas, organisasi profesi, organisasi sosial kemanusiaan, organisasi sosial keagamaan, organisasi sosial kemasyarakatan, komunitas etnis minoritas, dan lain sebagainya; pakai atau tanpa komando, senapas sengal para korban terpaksa ngungsi, seiring tangis bayi pecah terjaga dari lelap tengah malam sesaat atap rumah orang tuanya sejurus 'kelelep'.

Sejalan air banjir yang tak tahu mesti mengalir ke mana. Air hanya ingat tembang Gesang. Air mengalir sampai jauh. Lagu Bengawan Solo.

Banjir Perkotaan Pasti Datang, Tapi Bisa Dikendalikan

Tetapi, demi menghadapi fenomena berulang: hujan deras turun, sungai meluap, berbagai kawasan perkotaan kembali terendam, seolah jadi rutinitas tahunan yang tak terhindarkan.

Namun demikian, yang sering kita lupakan: banjir bukan hanya peristiwa alam tapi juga hasil interaksi manusia dengan lingkungan.

Dari itu, alih-alih terus menyalahkan cuaca atau kondisi geografis, pendekatan yang lebih tepat adalah memahami bahwa banjir pasti terjadi tapi dampaknya bisa dikurangi; telah jadi kesepakatan dalam studi kebencanaan melalui pendekatan pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction atau DRR).

Adalah Ir. Arif Rohman, S.T., M.T., namanya, dosen Teknik Geomatika yang saat ini juga menjabat Wakil Rektor Keuangan dan Umum Institut Teknologi Sumatera (Itera), secara khusus membedah solusi imparsial tata kelola pengendalian banjir perkotaan.

Peneliti banjir, Ph.D Candidate School of Geography, University of Leeds, Inggris ini, ingin ajak kita semua untuk memahami, banjir adalah fenomena yang pasti terjadi, tetapi risiko dan dampaknya bisa dikendalikan.

"Manusia bertanggung jawab atas perubahan lingkungan yang dapat memperparah bencana banjir, dan oleh karena itu, kita harus berupaya mengelolanya secara lebih bijak," gugah Arif Rohman, dalam artikelnya di situs resmi kampus, Januari lalu, disitat.

Banjir pasti terjadi, tetapi risikonya bisa dikurangi, intensinya. Banjir adalah bagian dari siklus hidrologi yang alami. "Ketika curah hujan tinggi, air yang turun akan mencari jalannya sendiri, terutama ke daerah yang secara alami merupakan dataran banjir."

Namun, lugas dia, urbanisasi yang pesat membuat air kehilangan tempat resapannya, sehingga aliran permukaan meningkat drastis dan menyebabkan genangan.

Diulang: alih-alih terus menyalahkan cuaca atau kondisi geografis, pendekatan lebih tepat adalah memahami bahwa banjir pasti terjadi, tetapi dampaknya bisa dikurangi.

Ini jadi kesepakatan dalam studi kebencanaan melalui pendekatan pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction/DRR).

"Strategi DRR dapat diterapkan melalui berbagai upaya mitigasi, seperti peningkatan kapasitas drainase, penerapan konsep kota spons (sponge city), dan optimalisasi lahan hijau sebagai daerah resapan. Sayangnya, banyak kota masih mengandalkan solusi jangka pendek, seperti pompa air dan peninggian tanggul, yang sebenarnya hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar permasalahan," ungkap Arif rasional.

Satu wilayah terdampak, wilayah lainnya bertanggung jawab. Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami banjir adalah menganggapnya sebagai masalah lokal semata. Lugas Arif berikutnya.

Padahal, kawasan yang tergenang banjir merupakan hasil dari perubahan tata guna lahan di tempat lain.

"Kita sering mendengar, deforestasi di daerah hulu meningkatkan limpasan air ke daerah hilir, sehingga debit sungai meningkat dan memperbesar risiko banjir. Dengan prinsip yang sama, jika banjir terjadi di daerah Way Lunik, Kecamatan Panjang, Bandarlampung, maka seharusnya kita dapat mengidentifikasi daerah mana saja yang berkontribusi besar dalam mengalirkan air ke sana," ilustrasinya.

Kesadaran bahwa banjir adalah masalah sistemik harus diterjemahkan dalam kebijakan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, dari pemerintah hingga komunitas lokal.

Dari itu, garis bawah dia, "Pendekatan sektoral yang selama ini diterapkan harus diubah menjadi pendekatan holistik yang mempertimbangkan keterkaitan antara wilayah hulu, tengah, dan hilir. Tanpa pemahaman ini, solusi yang diambil sering kali hanya bersifat tambal sulam dan tidak menyelesaikan akar permasalahan."

Arif menjelaskan soal Analisis Spasial: Land Use Examination Global Model (LEx-GM). Untuk atasi banjir secara sistematis, butuh pendekatan berbasis data yang dapat mengidentifikasi wilayah mana yang berkontribusi terhadap kejadian banjir di perkotaan.

Salah satu konsep pengambilan keputusan yang dapat digunakan adalah multi criteria decision making (MDMC) melalui analisis spasial. MDMC dalam konteks analisis banjir sering digunakan untuk menilai risiko banjir, menganalisis dampak penggunaan lahan, dan menentukan alokasi lahan.

"LEx-GM (Land Use Examination Global Model) adalah model yang kami kembangkan untuk menganalisis dampak penggunaan lahan dan menentukan alokasi lahan. Model ini berfungsi memetakan pola perubahan tata guna lahan, memprediksi dampaknya terhadap hidrologi, serta mengidentifikasi area mana yang memiliki kontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko banjir," jelas dia.

Dengan adanya model seperti ini, tandasnya, pengambilan keputusan dapat lebih berbasis bukti (evidence-based decision making).

Pemerintah dapat menentukan zona yang perlu dilindungi, menetapkan kebijakan tata ruang yang lebih adaptif, mengembangkan strategi mitigasi yang lebih efektif.

Selain itu, model ini juga bisa digunakan untuk mendukung konsep Nature-Based Solutions (NBS), yaitu pendekatan mitigasi banjir yang memanfaatkan ekosistem alami seperti penghijauan, lahan basah, dan ruang hijau perkotaan sebagai solusi berkelanjutan.

"Teknologi saat ini memungkinkan penerapan model banjir secara lebih akurat. Dengan pesawat nirawak drone, kita dapat hasilkan model topografi yang sangat detail, yang sebelumnya jadi kelemahan dalam menentukan hulu dan hilir di daerah yang relatif datar.

Selain itu, smartphone yang kita miliki juga dapat digunakan untuk menerima informasi secara real-time (saat itu juga), menampilkan zona rawan banjir, serta berfungsi sebagai alat bantu evakuasi.

Arif Rohman mengajak sesiapapun kita: dari reaktif ke proaktif. Pada akhirnya, banjir di perkotaan bukan hanya masalah air yang meluap, tetapi juga masalah bagaimana kita mengelola ruang dan lingkungan. Tanpa kesadaran bahwa setiap wilayah saling berkaitan, kebijakan yang diambil akan tetap bersifat parsial dan tidak efektif serta hanya akan menjadi siklus reaktif yang tidak pernah tuntas. Arif sahih.

"Coba kita gali kembali memori kita dan bertanya, sejak kapan banjir di Lampung terjadi? Kita membutuhkan pendekatan yang lebih sistemik, berbasis data, berorientasi pada mitigasi risiko, bukan sekadar respon reaktif. Dengan memahami bahwa banjir pasti datang, kita harus memastikan, dampaknya bisa dikurangi melalui perencanaan tata guna lahan yang lebih cerdas dan inovatif," ujar dia.

Analisis spasial (seperti Lex-GM) bisa menjadi alat yang membantu perencanaan berbasis bukti, sehingga mitigasi banjir bukan lagi sekadar wacana, tapi benar-benar jadi bagian dari kebijakan tata ruang yang berkelanjutan.

"Mengelola banjir bukan tentang menghindari air, tetapi tentang memahami bagaimana air bergerak, dari mana asalnya, dan bagaimana kita bisa beradaptasi dengannya. Saatnya bertindak lebih aktif, bukan sekadar menunggu banjir datang."

Dari angkringan langganan, lamat terdengar, "Banjir, banjir, banjir, datang lagi sayang.. Yuk kita ngungsi ke tempat orang...," petikan refrain lagu yang dipopulerkan Orkes Melayu (OM) Pengantar Minum Racun (PMR) dimotori mendiang Joni Iskandar, top era 90-an. Joni, pernah beristrikan Mega Mustika, biduanita jelita putri bos Radio Omega, warga Lampung.

Intinya pengendalian diri, ikhtiar tata kendali banjir bisa dimulai dari yang paling sederhana di rumah. Sisakan halaman jangan disemen semua. Sisakan untuk tanah terbuka, lengkapi dengan lubang biopori.

"Ubur-ubur ikan lele, yuk kita kendalikan banjir Le." Happy weekend. (Muzzamil)