Helo Indonesia

Kadafi dan Tiga Saudaranya Tak Lagi di Malahayati dan Altek

Annisa Egaleonita - Nasional -> Peristiwa
Jumat, 7 Februari 2025 15:13
    Bagikan  
Kadafi dan Tiga Saudaranya Tak Lagi di Malahayati dan Altek

Gunawan Hamid Rahmatullah

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Terjadi penegasan kepemimpinan di Universitas Malahayati Lampung dan Yayasan Alih Teknologi (Altek) Bandarlampung. Muhammad Kadafi ditegaskan tak lagi jadi rektor. Tiga saudaranya juga dicopot dari yayasan.

Rusli Bintang menegaskan hal itu lewat surat pemberitahuan terbuka berkop Yayasan Altek pada Kamis (6/2/2025) sebagai pendiri sekaligus ketua Dewan Pembina Yayasan Altek Bandarlampung dan Universitas Malahayati.

Rusli Bintang menegaskan Dr. Achmad Farich, d, MM sebagai rektor Universitas Malahayati Lampung dan Ir. H. Musa Bintang, MM sebagai ketua umum Yayasan Altek Bandarlampung.

"Tak ada dualisme kepemimpinan di kedua lembaga tersebut," tandas Gunawan Hamid Rahmatullah (GHR), kuasa hukum pendiri Universitas Malahayati Lampung Rusli Bintang kepada Helo Indonesia, Jumat (7/2/2025).

Sebelumnya Muhammad Kadafi sebagai rektor Universitas Malahayati untuk periode 2018-2022. Anggota DPR RI ini telah menjabat rektor sejak 2010. Yayasan dikuasai tiga saudaranya: Ruslan Junaedi, Elli Suara, Maidayani.

"Keempat anak dan isteri Rusli Bintang tidak dibenarkan ikut campur dalam struktur Yayasan Altek Bandarlampung maupun Universitas Malahayati Lampung," kata GHR dari Kantor Law Firm Osep Doddy and Partners.

Rusli Bintang lahir di Gampong Lam Asan, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar pada 28 April 1950, merupakan Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah.

Dalam perjalan hidupnya, Rusli Bintang pernah menjadi pengusaha warung kopi, buruh harian, buruh angkat pasir, penjaga gudang, mandor, hingga pada 1976 Rusli memutuskan menjadi wiraswastawan sebagai pemborong (kontraktor kecil-kecilan) di Banda Aceh.

Pada tahun 1980, ia bertemu dengan Profesor Ali Hasjmy, Gubernur Aceh periode 1957-1964 yang kala itu menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh pada tahun 1983. Hasil pertemuan itulah, Rusli Bintang mendirikan yayasan Abulyatama yang berarti ‘bapak anak yatim’.

Sebagai badan pendiri dan komisaris umum yayasan Abulyatama yang disahkan dalam bentuk akta notaris pada 31 Mei 1983 dan disempurnakan 18 Juli 1983. Rusli Bintang mempercayakan Profesor Ali Hasjmy menjadi ketua yasasan dan Joni Makmur sebagai sekretaris yayasan.

Yasayan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya sekolah dasar, sekolah menegah pertama, sekolah menengah atas, dan perguruan tinggi yang bernama Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Abulyatama yang saat ini telah ditingkatkan statusnya menjadi Universitas Abulyatama.

STKIP Abulyatama pada saat itu menjadi perguruan tinggi swasta pertama di Aceh mendampingi dua perguruan tinggi negeri, yakni Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry.

Untuk terus mengembangkan mimpinya, pada 1993, Rusli Bintang Hijrah ke Lampung dan mendirikan Yayasan Alih Teknologi (Altek) Bandar Lampung.

Maka lahirlah Universitas Malahayati Bandar Lampung pada Jumat, 27 Agustus 1993 dan disahkan melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.02/D/0/1994 pada tanggal 28 Januari 1994. Tanggal inilah yang menjadi hari jadi berdirinya (Diesnatalis) Universitas Malahayati yang diperingati setiap tahunnya.

Rusli Bintang terus mengembangkan kiprahnya di dunia pendidikan, dengan mendirikan Universitas Batam pada tahun 2000 berdasarkan akta notaris 4 Mei 2000 melalui badan hukum Yayasan Griya Husada. Pada 2014, Rusli melanjutkan mendirikan Institut Kesehatan Indonesia (IKI) Jakarta pada 12 Agustus 2014 melalui Yayasan Nusa Bhakti Husada. Berkat Kiprahnya, tahun 2014 ia mendapat penghargaan sebagai tokoh pendidikan dari Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau.

Tak sampai di situ, Rusli Bintang lalu mendirikan Universitas Kartamulia, di bawah naungan Yayasan Griya Gemintang Husada Sejahtera yang disahkan berdasarkan SK Menristekdikti Nomor 1041/KPT/I/2019, pada 18 Oktober 2019. (HBM)