HELOINDONESIA.COM -Polisi menangkap musisi legendaris Fariz RM di Bandung, Jawa Barat, dengan barang bukti narkoba jenis ganja dan sabu.
"Kami mengamankan barang bukti berupa ganja dan sabu," ujar Kasat Resnarkoba Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Andri Kurniawan, Rabu (19/2). Namun, ia belum memberikan detail lebih lanjut terkait kasus ini.
Fariz RM sebelumnya sudah tiga kali ditangkap karena kasus narkoba.
Pada Oktober 2007, ia tertangkap memiliki 1,5 linting ganja seberat 5 gram dalam bungkus rokok dan divonis delapan bulan penjara.
Januari 2015, ia kembali ditangkap di rumahnya di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, saat sedang mengisap ganja sambil bermain gitar. Polisi menemukan ganja di asbak, heroin, serta alat isap sabu.
Agustus 2018, Fariz ditangkap lagi dengan barang bukti dua paket sabu, sembilan butir Alprazolam, dua butir Dumolid, dan alat isap sabu.
Lantas mengapa Fariz RM tidak bisa menghentikan kebiasaan mengkonsumsi narkoba hingga ditangkap ke 4 kalinya?
Orang yang mengalami ketergantungan narkoba sering kali menghadapi kesulitan besar untuk berhenti karena berbagai faktor yang saling terkait. Berikut adalah beberapa alasan mengapa proses berhenti dari narkoba sangat menantang:
Faktor Biologis dan Genetik
- Sistem Dopamin
Narkoba mempengaruhi sistem dopamin di otak, yang berperan dalam perasaan senang dan penghargaan. Ketika seseorang menggunakan narkoba, otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar, menciptakan pengalaman euforia. Namun, seiring waktu, otak menjadi kurang responsif terhadap dopamin alami, sehingga individu merasa perlu menggunakan narkoba untuk merasakan kesenangan
- Kecenderungan Genetik
Penelitian menunjukkan bahwa ada faktor genetik yang membuat beberapa orang lebih rentan terhadap kecanduan. Jika ada riwayat penyalahgunaan narkoba dalam keluarga, risiko seseorang untuk mengalami ketergantungan juga meningkat.
Faktor Psikologis
- Masalah Kesehatan Mental
Banyak pengguna narkoba juga mengalami gangguan mental seperti depresi, kecemasan, atau PTSD. Mereka sering menggunakan narkoba sebagai mekanisme untuk mengatasi masalah emosional atau psikologis yang mereka hadapi
- Pengendalian Diri
Individu dengan masalah pengendalian diri cenderung lebih mudah terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba. Ketidakmampuan untuk mengatasi stres atau konflik emosional dapat membuat mereka mencari pelarian melalui penggunaan zat
Faktor Lingkungan dan Sosial
- Pengaruh Teman Sebaya
Lingkungan sosial yang mendukung penggunaan narkoba, seperti teman-teman yang juga menggunakan narkoba, dapat memicu individu untuk terus menggunakan. Tekanan dari kelompok sebaya sering kali menjadi pendorong utama bagi remaja untuk mencoba dan akhirnya terjerumus ke dalam kecanduan.
- Kondisi Ekonomi dan Sosial:
Ketidakstabilan ekonomi dan kurangnya kesempatan kerja dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan narkoba. Beberapa orang mungkin menggunakan narkoba sebagai cara untuk melarikan diri dari realitas sulit yang mereka hadapi
- Pengalaman Trauma
Riwayat Trauma Banyak pecandu memiliki latar belakang trauma, baik fisik maupun emosional. Pengalaman buruk ini sering kali menjadi alasan mereka mencari penghilang rasa sakit melalui narkoba
Kesulitan dalam Proses Pemulihan
- Memori dan Sugesti
Ketika seseorang berusaha berhenti, ingatan tentang pengalaman positif saat menggunakan narkoba dapat memicu keinginan untuk kembali menggunakan. Memori ini sering kali sangat kuat dan sulit diatasi.
- Dukungan Sosial
Proses pemulihan tidak hanya bergantung pada usaha individu tetapi juga memerlukan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Tanpa dukungan yang memadai, individu mungkin merasa terisolasi dan lebih rentan untuk kembali ke kebiasaan lama.
Secara keseluruhan, ketergantungan narkoba adalah masalah kompleks yang melibatkan interaksi antara faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. Untuk membantu individu berhenti dari penggunaan narkoba, pendekatan holistik yang mencakup dukungan medis, psikologis, serta perubahan lingkungan sosial sangat diperlukan.***
