Helo Indonesia

Sebulan Belum Ada Tersangka Walau Ada Bukti Video dan Saksi Buang Mayat

Annisa Egaleonita - Nasional -> Peristiwa
Selasa, 8 April 2025 14:55
    Bagikan  
Sebulan Belum Ada Tersangka Walau Ada Bukti Video dan Saksi Buang Mayat

Korban dan screenshoot video diduga saat penggotongan jenazah yang hendak dibuang ke laut (Foto Helo)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Sudah sebulan, ada video dan saksi, kasus dugaan pembunuhan dan pembuangan jenazah kakek berusia 68 tahun belum terdengar tersangkanya. Mayat korban juga belum ditemukan dari perairan Pulau Legundi, Kabupaten Pesawaran.

Arina (40), sang putri sulung menuntut pengusutan secepatnya dugaan pembunuhan dan pembuangan jenazah orangtuanya, Aliyan, ke laut dari TKP, Desa Pulau Legundi, Kecamatan Punduh Pidada, Minggu (15/4/2025), pukul 21-22.00 WIB.

Menurut Arina, orangtuanya tewas setelah dikeroyok beberapa orang dari Kampung Si Uncal, Desa Pulau Legundi. Dia juga telah melaporkan dugaan pembunuhan ke Polsek Padang Cermin pada tanggal 17 Maret 2025.

Ada 12 kesaksian Arina atas dugaan pengeroyokan, pembunuhan, hingga pembuangan jenazah orangtuanya. Ini catatan kronologis kesaksian sang anak atas kematian orangtuanya.

1. ANAK

Saya anak pertama dari orangtua kandung bernama Aliyan dan ibu bernama Hasanah, sudah berkeluarga, tinggal di Pulau Si Uncal, berjarak sekitar 20 meteran dari rumah almarhum. Orangtuanya lebih kurang 30 tahun bekerja sebagai petani dan nelayan. Almarhum bapak saya seharinya dikenal dengan panggilan Mang Iyan. Saya memanggil bapak saya mamek yang artinya bapak.

2. TEMPAT TINGGAL

Rumah bapak saya adu dapur dengan rumah keponakannya bernama Safarudin yang memelihara kambing yang kotornanya menimbulkan bau busuk. Bapak saya menegur, namun Safrudin tidak terima. Selain itu, ada masalah tanah keluarga yang dijual Safarudin. Hal tersebut pemicu cekcok antara bapak saya dengan Safarudin. 

3. KEROYOK

Sekira Sabtu malam Minggu (15/4/2025), pukul 21.00-22.00 WIB, ayah saya dikeroyok dan dibunuh selepas Salat Tarawih. Saat peristiwa, saya dan emak menonton televisi di rumah tetangga bernama Soriyah yang juga rumahnya tidak jauh dari rumah Bapak dan Safarudin lebih kurang berjarak 10 meter.

Saat kami asyik nonton, saya mendengar orang ribut, cecok adu mulut di luar, saya keluar rumah ingin tahu. Ternyata bapak saya dan Safarudin lagi cekcok mulut. Saya melihat dengan jelas karena lampu sangat terang, ada juga orang bernama wawi bersama Safarudin.

Tak lama kemudian, cekcok itu berhenti, bapak masuk ke rumahnya dan Safarudin bersama Wawi juga pergi., sedangkan saya kembali masuk ke rumah Sorayah melanjutkan nonton tivi.

4. Sekira lebih kurang 30 menit kemudian atau sekitar pukul 21,30 WIB, saat saya masih nonton tivi dengan emak saya. Di luar terdengar suara perempuan berteriak-teriak minta tolong. Dan saya segera keluar untuk mengetahui apa yang terjadi, “

"Tolong....tolong Safarudin digorok...” teriaknya sambil berlari nenggendong anaknya , ternyata istrinya Safarudin, ia lari kedapan ke arah dermaga, yang juga ikut lari kearah dermaga saya lihat si Wawi, Tuni, dan Edi.

Orang- orang mulai banyak, melihat hal tersebut saya takut , saya pulang kerumah saya lewat pintu belakang dan saya hanya mengintip dari jendela rumah saya, sambil mendengar dan melihat dari jendela orang- orang berkumpul di depan rumah saya, ada Kang Wasih, Oman, Tuni, Verdi, Muchlisin, Bapak Kadus Suhailli dan yang lainnya.

Selanjutnya, saya lihat mereka semua berlari menuju rumah bapak dan rumah Safarudin Sambil membawa karung besar dan tali putih. Saya melihat dengan jelas yang membawa karung besar si Oman dan tali putih dibawa imiI masuk kerumah bapak.

5.

Sekira lebih kurang lima menit kemudian saya melihat dengat jelas dalam keadaan terang lampu PLTS dari rumah saya berjarak lebih kurang 20 meteran mereka semua menuju dermaga jembatan si uncal sambil membawa pikulan karung besar yang digotong dengan dua batang bambu, ada empat orang yang saya lihat dengan jelas memikulnya menuju kapal , Si Oman makai baju putih, Si Tuni makai kaos singlet Celana Panajang Coklat, Si Rohili memakai baju merah dan si Heri bombom memakai kaos abu-abua celana pendek hitam, melihat hal tersebut saya tambah ketakutan dan tak tau apa yang terjadi selanjutnya.

6. Sekira jam . 22.30 wib , emak dari nonton tivi tadi kerumah saya , sambilang ke saya “ mana mamek (bapak) kamu ? “ “ nggak tau mak, orang-orang masih bnyak diluar, saya takut . kemudian emak keluar menuju orang- orang yang masih berkumpul di depan rumah pak kasus suhaili, kata emak “ mana aliyan nya ...? “ pak kadus suhaili menjawab. “ tenang teh, sudah di amankan... “ mendengar itu emak saya diam dan pulang kerumahnya.

7. Atas kejadian itu hingga pagi saya tidak bisa tidur dan pagi nya emak kerumah saya , kata emak “ kok mamek kamu nggak pulang... ? “ tanya nya ke saya, saya bilang nggak tau, emak mencari bapak lagi.

8. Sekira pada hari minggu tanggal 16 maret 2025 jam 07.00 wib saya di datangi pak kadus Suhaili, katanya, “ tolong panggil emak kamu ..” kemudian saya memanggil emak saya, setelah emak datang di hadapan pak kadus, pak kadus bilang ke emak “ Gini teh Hanah...., kejadian tadi malam itu namanya orang banyak.....” katanya, emak langsung motong pembicaraan , kata emak “ sekarang mang liyannya dimana...? “, pak kadus suhaili menjawab “ sudah ditaroh di tempat yang aman teh... nanti diambil, tapi kalo sudah nggak ada nyawanya berarti anggap saja sudah nggak jodoh....” kata kadus suhaili “ mungkin sudah takdirnya , ikhlasin saja , jangan di perpanjang berabe urusannya..” kemudian pak kadus pergi.

9. Sekira pada hari minggu tanggal 16 maret 2025 jam 09.wib saya dapat kabar telpon dari suami saya bahwa Safarudin sedang berobat menjahit lukanya dibidan Ika di Cilesung, dan suami saya mengatakan , bapak saya telah dibunuh dan dibuang kelaut pada malam kejadian itu juga, mengetahui hal itu emak saya tak terima, menjerit sejadi-jadinya.

10. Sekira pada hari minggu tanggal 16 maret 2025 pada jam 16.00 wib Saya di damping keluarga saya melaporkan kejadian yang menimpa saya dan keluarga ke Polsek padang padang Cermin, diterima seorang polisi yang sedang piket, laporan kami belum di terima, kami di suruh dating besok pagi, mendengar itu dengan perasaan kecewa kami pulang.

11. Sekira pada hari senin tanggal 17 maret 2025 pada jam 09.00 wib Saya di dampingi keluarga saya melaporkan kejadian yang menimpa saya dan keluarga ke Polsek padang padang Cermin No LP./ B/24/III/2025/SPKT/PoLSEK PADANG CERMIN/POLRES PESAARAN/POLDA LAMPUNG, namuh hingga saat ini belum ada pelaku yang di tangkap bahkan usuha pencarian mayat almarhum orang tua kami pun belum di lakukan, kami sangat ketakutan, bahkan ada pengacaman kepada kami,

12. Deemikian kronoligis ini saya ceritakan peristiwa yang sebenarnya, guna mencari keadilan dan perlindungan hukum bagi kami, terutama segera adanya tindakan pencarian mayat almarhum orang tua kami yang dibuang oleh para pelaku oleh apratur penegak hokum. (HBM)