LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Puluhan hektar peladangan petani porak poranda akibat serbuan gajah liar asal kawasan hutan TNWK. Akibatnya, petani urung panen dan merugi ratusan juta.
Peristiwa yang terjadi beberapa hari terakhir, puluhan satwa bertubuh tambun itu merangsek peladangan sejak sore hingga larut malam. Di sana, gajah liar asal kawasan taman nasional seluas 125 ribu hektar lebih, selain melahap tanaman seperti jagung, ubi kayu, kelapa juga memorak porandakan lahan.
Di Desa Braja Asri Kecamatan Way Jepara, paling tidak 50 hektar ladang petani berantakan. Semua tanaman porak poranda dan dipastikan gagal panen. Karena jumlah kawanan gajah liar lebih dari 30 ekor, petani atau warga kewalahan mengusir satwa berbelalai itu masuk hutan. Setelah kenyang melahap tanaman palawija, gajahpun kembali ke hutan. Sementara petani hanya bisa pasrah melihat tanaman mereka porak poranda dan gagal panen. Petanipun merugi hingga puluhan juta.
Humas TNWK Sukatmoko mengatakan, populasi gajah liar di kawasan taman nasional saat ini 175-200 ekor. Gajah liar kerap merangsek peladangan tidak berarti di hutan tak ada lagi pakan. Tapi faktor lain disebabkan peladangan petani berbatasan langsung dengan hutan. Sementara, infrastruktur seperti tanggul atau kanal untuk mencegah agar gajah tak masuk lahan sangat memprihatinkan.
"Karena tanggul atau kanal tak berfungsi dengan baik, gajah dengan mudah masuk peladangan,"ujar Sukatmoko.
Faktor lain perubahan perilaku sang gajah. Dimana sejak beberapa tahun terakhir, hewan bertubuh tambun itu ada yang melahirkan di areal peladangan. Setelah dewasa, gajah dibawa sang induk keluar hutan atau masuk peladangan tempat dimana dilahirkan.
"Gajah satwa yang cerdas dan punya daya ingat yang tinggi. Perubahan perilaku adalah salah satu faktor. Jadi bukan berarti di dalam hutan nggak ada makanan,"kata dia.
Agar pergerakan satwa liar itu dapat ditekan seoptimal mungkin, pemerintah hendaknya membangun kanal permanen yang mampu mencegah gajah masuk peladangan.
"Jika telah dibangun tanggul atau kanal permanen, Insya Allah lahan petani di 38 desa penyangga bisa aman," pungkas Sukatmoko.
(Khairuddin)
