Helo Indonesia

Temui Kemenhub Hingga Tomy Winata, Demi Degup Pembangunan Way Haru Menyala

Rabu, 7 Mei 2025 22:48
    Bagikan  
Temui Kemenhub Hingga Tomy Winata, Demi Degup Pembangunan Way Haru Menyala

WAY HARU - Ki-ka: Dedi Irawan, Tomy Winata. Irawan Topani, Dirjen Hubla Antoni Arif Priadi.| dok/Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ----- Sadar terpencil, tertinggal, dan terluar; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesisir Barat (Pesibar), pengampu wilayah kabupaten termuda di Lampung ini gigih ikhtiar mengejar pemajuan pembangunan lintas bidang lintas sektor demi meretas keterbatasan, keterisolasian, dan ketertinggalan daerah; termasuk melalui percepatan pengembangan infrastruktur transportasi dan konektivitas wilayah.

Teranyar, Wakil Bupati (Wabup) Pesibar Irawan Topani beranjangsana koordinasi dan konsultasi, menemui Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Dr Capt. Antoni Arif Priadi, di kantor Kemenhub, Jl Medan Merdeka Timur Nomor 5 Gambir, Jakarta Pusat, Senin (5/5/2025).

Sang dirjen ditemani Direktur Kepelabuhanan Ditjen Hubla, M. Masyhud. Kepada keduanya, Wabup Irawan mewakili bupati Dedi Irawan, mendedah isu strategis urgensi percepatan eksekusi peningkatan aksesibilitas antar wilayah, pengembangan pelabuhan rakyat, hingga upaya hadirkan layanan transportasi aman efisien bagi rakyat pesisir di Pesibar.

"Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat memandang penting dukungan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perhubungan dalam merealisasikan rencana-rencana besar pembangunan sektor transportasi," kata Wabup, berharap hasil konsultasi dapat mempercepat langkah konkret di lapangan, terutama demi permudah mobilitas warga, menunjang pertumbuhan ekonomi lokal.

"(Koordinasi dan konsultasi) ini menjadi bagian dari strategi pembangunan jangka menengah daerah kami, dimana transportasi jadi salah satu sektor prioritas penopang sektor lainnya seperti pariwisata, perikanan, perdagangan," imbuh sarjana hukum UBL ini.

Keterangan media, Wabup melugaskan upaya proaktif jemput bola itu menjadi pula bukti keseriusan komitmen kepemimpinan Dedi Irawan-Irawan Topani di Pemkab Pesisir Barat dala membangun konektivitas antar wilayah, demi kesejahteraan rakyat Bumi Khelauni Kibaghong tersebut.

Dalam persuaan yang bertujuan memperkuat sinergi pemerintah pusat-daerah mewujudkan sistem transportasi darat dan laut terintegrasi dan berkelanjutan di Pesibar itu, Irawan didampingi Pj Sekda Tedi Zadmiko, Kadishub Ariswandi, Inspektur Kabupaten Henri Dunan.

Rayu TW, Ajak Bangun Jalan ke Way Haru

Sehari sebelumnya, Dedi Irawan dan Irawan Topani berkesempatan bersua taipan pemilik Grup Artha Graha, pendiri yayasan sosial kemanusiaan dan lingkungan Artha Graha Peduli (AGP), pemilik kawasan megapolitan SCBD juga Hotel Borobudur Jakarta, juga dikenal pendiri Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) terletak di Pesibar, Tomy Winata (TW).

Bagi yang sedikit lupa, nama Tambling ini singkatan, diambil dari perpaduan nama Teluk Tampang dan Tanjung Belimbing yang secara geografis mengapit daerah kawasan ini.

Pengingat, TWNC dioperasikan dan dikelola Yayasan AGP sejak 1996, melepasliarkan 5 harimau Sumatra di lima tahun pertama, jadi bagian program hijau AGP sejak 2007. Ada: Pangeran dan Agam, dilepasliarkan pada 2008. Menyusul, Buyung dan Panti, 2010.

Sedikitnya 32 harimau Sumatra liar ada di sini hingga Juni 2016, 7 diantaranya tengah masa rehabilitasi sebelum kembali dilepasliarkan, termasuk 'Nyonya' Panti tadi yang ditemukan sakit terluka, rupanya hamil, lalu beranak 3: Bintang, Petir, Topan (nama berian Ibu Negara Ani SBY). Panti dan Petir dilepasliarkan 2015.

Habitat "si kumis" satu ini diketahui terus terancam punah. Di TWNC, harimau yang direhab berasal dari kebun binatang, atau yang berkonflik dengan warga.

Ingat, harimau liar takkan berani mendekat dengan manusia. Begitu melihat manusia, "kabuuur!" pekik dalam hati dia.

Awal 2012, TWNC dan Badan Narkotika Nasional besut program pascarehabilitasi berbasis konservasi alam bagi eks pengguna narkoba hingga turut diapresiasi Executive Director United Nations of Drugs and Crime (UNODC) Yuri Fedotov yang kepincut kunjungi TWNC, akhir 2012. UNODC bahkan undang TW presentasi program di Sidang Tahunan UNODC ke-54 di Vienna, Austria, Maret 2013.

TWNC ini kawasan konservasi hutan, satwa liar (48.153 hektare) bagian kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan cagar laut (14.082 hektare) dengan topografi bervariasi dari hutan hujan tropis dataran rendah, danau, hutan pantai, hutan bakau, rawa air rendah, hutan sekunder dataran rendah, dan hutan enclave sisi timur TWNC yang berbatasan langsung dengan wilayah Pemangku (Dusun) Pengekahan, Pekon (Desa) Way Haru, Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesibar.

Pengekahan, Pemangku paling ujung Sumatra bagian wilayah Marga Belimbing Bangkunat ini, satu dari empat Pemangku yang masuk wilayah administratif Pekon Way Haru bareng Pemangku Sukamaju, Way Binjai, Way Titi Jati.

Sekilas info kehidupan rakyatnya, Pemangku Pengekahan, dihuni sedikitnya 156 kepala keluarga berpopulasi seribu jiwa lebih.

Seperti rakyat Pesibar umumnya, warga Pengekahan yang kini juga ramai latar etnis Batak, Jawa dan Sunda, juga bercocok tanam, berkebun, melaut, berniaga, adapula yang bekerja menjadi karyawan TWNC.

Butuh 3-4 jam jalur laut naik perahu nelayan bertarif sewa Rp1,5 -2,5 juta sekali jalan, demi untuk bisa menjangkaunya. Jalur darat lebih lama lagi. Sebab jalan ke Pengekahan hanya dapat dituju melalui tepian pantai, hutan, pun harus puluhan kali seberangi muara sungai.

Pemangku ini juga tergolong 'duafa' sinyal. Alat komunikasi seperti gawai belum leluasa digunakan, sebab terbatasnya sinyal. Pun penerangan andalkan lampu tempel dan disel.

Tokoh masyarakat setempat, Mat Yani, 2019, pernah menyeru keinginan besar rakyat Pengekahan ke bupati saat itu. Agar Pemkab membuka, bangun badan jalan plus akses listrik PLN dari Way Haru ke empat Pemangku.

"Sampai kapan kami harus terus terisolir?" tanya dia bernada menggugat, kala itu.

Kondisi enam tahun silam, cuma ada dua sekolah di sini: SDN 2 Way Haru dan SMP Satu Atap. Jika anak Pengekahan mau lanjut SMA harus merantau ke Way Haru atau ke Pekon Penyandingan yang sudah ada SMA Negeri.

Bila orangtua merestui, lulusan SMP sini bisa lanjut SMA bahkan hingga kuliah universitas di Bogor, Jawa Barat, dibiayai penuh TWNC.

Notabene bagian Way Haru, sebagai wilayah senasib sepenanggungan, menjadikan ikatan solidaritas organik kuat terbentuk, menjadi sekokoh landasan kekuatan jiwa dan ikhtiar bersama mengejar pemajuan, membungkus ketertinggalan.

Way Haru, yang baru saja kehilangan putra terbaiknya, 'local hero', Peratin (kepala desa) Dian Setiawan wafat di Puskesmas Bangkunat pada 2 Mei 2025 lalu karena sakit --takdir bentang alamnya notabene termasuk daerah 3T senada wilayah kecamatannya Bangkunat, pun senada wilayah Pesibar.

Selain Way Haru, di Kecamatan Bangkunat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tanggamus, tiga desa lainnya juga masih terisolasi: Pekon Bandardalam, Siring Gading, dan Way Tiyas.

Keempatnya belum terakses infrastruktur jalan, listrik, pun internet memadai. Lokasi keempatnya: meletak dekat hutan TNBBS hingga menyulitkan berbagai layanan dasar tersebut bisa masuk, adalah kendala utama.

Mengutip ulang rilis Pemkab Pesibar, melalui Kadiskominfotik Suryadi dua tahun lalu, masih ada 71 desa di Pesibar: nirsinyal (blank spot). Sebab itu, Pemkab sini terus meningkatkan jaringan telekomunikasi dengan ragam jalan atasi area nirsinyal (penguatan jaringan), agar rakyat Pesibar nikmati koneksi telko lancar.

Pemkab Pesibar antara lain mengusulkan ke Kemkominfo (kini Kemkomdigi) dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), juga ke provider telko Telkomsel guna sediakan layanan sinyal agar rakyat setempat bisa menikmati jaringan internet dan tak ada lagi daerah yang mengalami susah sinyal.

Way Haru sedikit beruntung. 2023 lalu, proyek pengadaan internet inisiasi Kemkominfo yang berada di desa ini, diresmikan.

Memoar epik lainnya, bagian cuplikan ilustrasi keberpihakan, wabil khusus Pekon Way Haru ini yakni saat (saat itu masih berstatus calon gubernur dan wakil gubernur Lampung pada Pilgub 2024) duet Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela (Mirza-Jihan) menjadikan Way Haru bagian entitas konten utama kampanye politik Pilkada.

Istimewa bahkan, dengan cagub Mirza berada dan menginap di rumah warga Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, dan Jihan berada dan menginap di rumah warga Pekon Way Haru dalam rangka kampanye hari pertama dari kawasan 3T di Lampung, profil Way Haru turut semakin meroket menjadi isu arus utama daerah bahkan nasional.

Perjuangan Way Haru membuka jerat isolasi akses internet -berikut dengan kepemimpinan "smooth" nan egaliter Peratin Dian mendiang, tak ayal menjadi makin mengharu biru.

Melalui aktivis digitalisasi desa sejak 2014, pentolan Inkubator Desa Cerdas (IDC), yang juga anggota Bidang Penggerak Desa TPT Mirza-Jihan, Davit Kurniawan, memimpin langsung uji coba layanan internet desa di sini, akhir Agustus 2024 lalu. Berhasil.

Penyelia, IDC ini lembaga vokasi bergerak di bidang penyediaan fasilitas, sumber daya dan pengembangan usaha baik manajemen pun teknologi serta mendorong kolaborasi dengan pemerintah desa untuk beri dampak kepada ekosistem digital desa. Tujuan IDC, membina desa melalui mentoring sebagai dukungan mewujudkan perubahan signifikan peradaban digital di desa menuju Indonesia Emas 2045.

Gabungan reportase Admin Web Desa Pekon Way Haru, juga pewarta LKBN Antara, Riadi Gunawan saat itu mengilustrasikan capaian akses internet, kebahagiaan baru Way Haru.

"Di sebuah desa terpencil yang tersembunyi di balik hijaunya hutan dan hamparan lautan, hari ini menjadi momen bersejarah bagi anak-anak Desa Way Haru. Koneksi internet yang selama ini hanya jadi impian akhirnya resmi tersedia, membawa perubahan besar yang menyentuh hati banyak pihak," tulis Admin Web Desa, melaporkan.

"Pagi ini, suasana ceria memancar dari setiap sudut desa. Warga desa, yang terdiri dari perangkat desa, dan anak-anak, berkumpul di samping pelataran kantor pemerintahan desa dengan penuh antusias. Mereka merayakan peluncuran koneksi internet yang baru saja terhubung," sambungnya.

"Anak-anak yang sebelumnya harus puas dengan kegiatan luar ruangan dan membaca buku di perpustakaan desa kini dapat merasakan sensasi dunia digital. Dengan tatapan penuh keajaiban, mereka duduk di depan komputer yang baru dipasang, mengakses informasi, belajar online, dan berinteraksi dengan dunia luar yang selama ini hanya bisa mereka bayangkan."

Sang Admin mewarta, koneksi internet ini hasil kerja keras dan dedikasi multipihak, seperti IDC dan Relawan SEDESA RMD yang peduli pendidikan anak-anak daerah terpencil.

"Setiap tetes keringat, setiap usaha yang dilakukan, akhirnya membuahkan hasil yang sangat menggembirakan," admin impresif.

Peratin Way Haru, Dian Setiawan, tidak bisa sembunyikan rasa haru. "Ini adalah hari yang sangat bersejarah untuk kami. Kami tahu betapa pentingnya akses informasi dalam dunia yang terus berkembang ini. Dengan adanya internet, anak-anak kami memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang seperti anak-anak kota besar."

Selain itu, imbuh Peratin Dian, koneksi internet ini bisa memberi harapan baru bagi perbaikan layanan publik, layanan pemerintahan desa, serta perekonomian desa agar dapat lebih menyesuaikan dengan perkembangan digital.

Di sisi lain, internet dan media sosial sangat berpeluang dimanfaatkan secara positif untuk rakyat. Banyak hal bisa dilakukan, dari kemudahan akses informasi pendidikan, hingga pengembangan UMKM digital.

Ketua IDC, Davit Kurniawan, mengingatkan pentingnya koneksi internet di daerah 3T karena dapat beri akses informasi maupun pendidikan setara ke seluruh anak yang tinggal di pedalaman.

"Koneksi internet bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang memberikan akses yang setara kepada semua anak. Kami percaya bahwa setiap anak, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dengan adanya internet, kami berharap anak-anak di Desa Way Haru dapat mengejar impian mereka dan berkontribusi pada masyarakat lebih luas," tutur Davit, Presiden BEM Darmajaya 2004–2005 silam, caleg DPD RI dapil Lampung nomor urut 7 Pemilu 2024 lalu.

Pemasangan jaringan internet di desa ini menggunakan teknologi yang beroperasi melalui frekuensi Ku-band dan Ka-band untuk komunikasi data. Untuk memasang piranti di desa ini, warta Riadi, teknisi harus naik ojek.

IDC akui pemasangan internet ini mempunyai tantangan tersendiri: lokasi desa terpencil, warga harus menempuh jalan terjal, tiga jam, untuk menuju kawasan listrik memadai.

"Kondisi ini tak mematahkan semangat untuk mendapatkan sinyal internet yang optimal, melalui pemasangan tiang, router, kabel, dan kabel tenaga, dengan sumber energi utama berasal dari mesin disel," imbuh warta Riadi.

Koneksi ini juga diharapkan dapat bekerja selaras dengan proyek pengadaan BTS 4G yang telah pemerintah siapkan guna dorong pemerataan infrastruktur digital nasional.

Kabar naas Way Haru pernah terdengar saat musibah kebakaran melanda Balai Pekon setempat diduga akibat arus pendek panel listrik tenaga surya, Kamis (29/2/2024) jam satu siang. Tak ada korban jiwa, hanya saja ATK, laptop kantor hingga ratusan kursi plastik ludes terbakar. Kegurian materiil ratusan juta.

Pengingat, Way Haru juga Dian, pernah turut ramai diperbincangkan publik nasional, saat beberapa waktu lalu sempat viral salah satu warganya, seorang ibu hamil harus dibawa dengan ditandu bergantian oleh puluhan warga lainnya menyusuri kawasan pantai menuju ke Puskesmas Bangkunat, demi untuk dapat menjalani persalinan. Video amatirnya, menyentak naluri kemanusiaan sesiapapun yang menontonnya. Nurani, tercabik.

Pun kembali sama viral, saat video amatir menunjukkan sejawat Dian Setiawan, yakni Peratin Bandardalam, Kecamatan Bangkunat, Rudi Meilano, yang mengeluhkan sakit perut kelewat parah hingga harus dibawa keluar dari wilayah Way Haru; terpaksa dievakuasi puluhan warganya senada cara dengan digotong menggunakan tandu dari susunan papan dan bambu sekadarnya, menempuh empat jam perjalanan kaki hingga sekitar 12,2 kilometer dengan rute melewati jalan darat, bibir pantai, hingga menyeberangi beberapa sungai besar menuju Puskesmas Bangkunat, pada Jum'at pagi, 18 April 2025 lalu.

Peratin Dian, sontak turut jadi "jubir dadakan" lantaran keterangannya diburu awak media ikut menjelaskan, "Jika ditotal jarak tempuh Bandardalam menuju Sumberrejo mencapai 12,2 kilometer dengan perkiraan perjalanan butuh hingga 4 jam. Maka dari itu evakuasi memang mengharuskan melibatkan banyak warga bergantian," jelas Dian, lelagi menitip harapan agar upaya membuka keterisoliran Way Haru dapat segera terwujud, sehingga kejadian serupa tak lagi terjadi dan warga setempat dapat lebih mudah mendapatkan layanan kesehatan yang terbilang mendesak.

Way Haru, sebagian besar dihuni masyarakat adat Marga Belimbing, telah mengalami lebih dari dua abad masa-masa sulit: terisolasi.

Sejak penduduk mulai bermigrasi ke sini pada 1918, populasinya terus berkembang nun tidak dengan infrastrukturnya. Jalan utama menuju sini bahkan tak pernah dibangun sejak itu.

Gerobak sapi dan trail modifikasi yang mampu menembus medan sulit menuju sini, dua moda transportasi 'termewah' Way Haru, desa seluas 12.661 meter persegi ini.

Sulitnya medan, bayangkan: ada tujuh muara yang harus dilewati untuk mencapai jalan lintas Lampung-Bengkulu, lima di antaranya tak ada jembatannya. Saat musim hujan tiba, muara-muara ini kerap banjir, menjadikan perjalanan warga sini jadi tak mungkin dilalui.

Bahkan di titik paling berbahaya seperti Tebing Batu Krokos (menjorok ke laut), warga harus berani hadapi deburan ombak yang dapat mengancam nyawa. Kehidupan di sini bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga tentang bertahan hidup dari alam yang kadang-kadang bersikap ganas.

Kaya hasil bumi, harga keekonomiannya kalah dengan ongkos angkut. Harga kelapa di Way Haru misal, bisa jauh lebih murah dibanding biaya angkutnya ke pasar terdekat, Way Heni.

Terisolir fisik, berimbas terisolir ekonomi. Petani Way Haru terpaksa jual hasil panennya jauh lebih rendah dibanding pasar-pasar di kota besar seperti Krui. Ongkos angkut tinggi tak hanya menambah biaya produksi mereka, tetapi juga membuat mereka rentan terhadap fluktuasi harga komoditas seperti pisang.

Peratin Way Haru, Agustus 2024 lalu tegas menyatakan, mereka tak ingin hanya dijadikan komoditas politik jelang Pemilu, tetapi mereka menginginkan solusi konkret berkelanjutan atas problem dua abad keterisolasiannya.

Cercah harapan mulia itu membuncah salah satunya dengan terentaskannya kendala soal akses internet tersebut. Kini terus berproses, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal juga Bupati Pesisir Barat Dedi Irawan, baik bersamaan maupun terpisah, terus sama berjuang mendekatkan upaya dibangunnya akses infrastruktur jalan dan jembatan serta akses listrik ke desa simbol perjuangan lawan ketertinggalan belahan barat Lampung ini.

Sang kedua pemimpin, terkonfirmasi sama sekali menjauhkan Way Haru dari sematan komoditas politik alih-alih pampasan perang, keduanya lebih jauh mengharu-birukannya, menjadikan masa depan Way Haru yang tak lagi terisolasi, datang lebih cepat. Keduanya, mendekatkannya: tereksekusi, pecah di kaki.

Belum terlantik, baru berstatus gubernur terpilih, Rahmat Mirzani Djausal telah terbang ke Jakarta bersua Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melobi anggaran khusus program pembangunan tiga unit fasilitas kesehatan sekaligus: RSUD Tulang Bawang Barat, RSUD Pesisir Barat, dan Puskesmas Rawat Inap Pekon Way Haru!

Gubernur terpilih Mirza, Menkes dua periode Budi Gunadi Sadikin pun sama berkomitmen. Mewujudkannya, dengan sinergi kolaborasi. Lewat pertemuan hangat 16 Januari lalu itu.

"Mirza-Jihan berkomitmen untuk menjadikan pembangunan desa-desa 3T sebagai prioritas utama dalam program kerja kami. Guna memastikan seluruh masyarakat Lampung, terutama yang berada di wilayah terpencil, dapat menikmati hasil pembangunan yang adil dan merata. Harapan kami, melalui program strategis yang kami usung ini, Lampung dapat menjadi provinsi yang lebih inklusif dan sejahtera bagi seluruh warganya," rilis kampanye hari pertama Pilgub lalu, Mirza dari Desa Tejang di Pulau Sebesi, dan Jihan dari Pekon Way Haru. Kampanye tematik.

Hingga kini seperti terpantau, Way Haru yang berpopulasi sedikitnya 1.162 jiwa: 648 laki-laki dan 514 perempuan tersebar 11 dusun antara lain Atar Sikuk, Citta Mulya, Kappung Baru, Pengekahan, Titi Jati, Way Batang, Way Batu, Way Binjai, Way Haru Induk, Way Kandis, Way Napal, dan Way Nebak; yang sejenak sempat terjeda lara batin warta merta kepergian Dian Setiawan, sang Peratin, masih terus menjadi pelototan mata republik.

Sang Bupati, Dedi Irawan dan Wabup Irawan Topani, bertemu akrab dengan Tomy Winata, di Hotel Borobudur Jakarta, Jl Lapangan Banteng Selatan 1, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Minggu (4/5/2025) lalu.

Pertemuan yang disebut kehormatan ini, sekaligus membuka harapan baru terjalinnya kolaborasi Pemkab Pesibar dan TWNC khususnya dalam mendukung kepentingan masyarakat di Way Haru dan sekitarnya.

"Kami bahas potensi kolaborasi. Fokus utama, pembangunan jalan menuju Way Haru, daerah terluar yang hingga kini belum memiliki akses jalan memadai. Kami melihat TWNC yang selama ini berfokus pelestarian alam dan perlindungan satwa liar, memiliki potensi besar dukung kesejahteraan masyarakat, melalui program konservasi berbasis pemberdayaan,” terang Dedi Irawan.

Bupati latar politisi Ka'bah eks legislator DPRD cum pengusaha hasil bumi sukses ini bilang, sinergi antara pelestarian lingkungan dan pembangunan infrastruktur harus dijalankan berimbang.

"Dengan semangat gotong royong, saling pengertian, kami harap kerja sama ini mampu menjawab kebutuhan rakyat tanpa abai akan kelestarian alam. Sinergi ini dapat menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih baik, di mana konservasi dan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan beriringan,” imbuh Dedi, menaruh harapan besar ada tindak lanjut konkret hasil pertemuan, khususnya percepatan pembangunan akses jalan ke Pekon Way Haru. Segera. (Muzzamil)