LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Menjadi akhir pekan yang membahagiakan, demi turut menyimak diseminasi informasi penting dari Pemerintah Provinsi Pemprov Lampung, soal tingginya perputaran uang kas daerah kasda setempat demi untuk mempercepat realisasi serapan APBD-nya guna membiayai kegiatan program pembangunan provinsi ini.
Sebagaimana dipublikasikan, disitat Minggu (11/5/2025), Pemprov Lampung kuat ikhtiar, tak mau berpangku tangan menghadapi dua arus besar keterbatasan: kerangkeng nasional efisiensi anggaran pemerintah sesuai beleid Instruksi Presiden Inpres Nomor 1/2025, dan fakta defisit APBD Provinsi Lampung Tahun Anggaran senilai fantastis: Rp1,7 triliun!
Adalah orang nomor satu di Bumi Ruwa Jurai, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, disokong penuh unsur Bendahara Daerah, yakni Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Lampung Marindo Kurniawan Tumenggung, tampak kuat terus "putar otak" demi mempercepat realisasi demi realisasi serapan anggaran dana APBD guna mendukung pembangunan provinsi ini.
Tercermin, dari tingginya volume perputaran uang di kasda provinsi: setiap penerimaan daerah langsung dimanfaatkan optimal guna membiayai belanja pembangunan.
Gubernur Mirza, menegaskan, Pemprov Lampung terus berupaya optimalkan APBD untuk pembangunan di provinsi ini.
Dan, realisasi pendapatan dan belanja daerah oleh Pemprov Lampung per data pengkinian 10 Mei 2025, tercatat merupakan yang tertinggi kurun lima tahun terakhir.
Buktinya, berdasar laporan BPKAD Provinsi, realisasi pendapatan daerah per tanggal itu menunjukkan, peningkatan signifikan terjadi di tahun ini, tahun per tahun (yoy).
Sebagaimana perinci, realisasi pendapatan daerah pada tahun 2021 mencapai sebesar Rp1,88 triliun setara 25,02 persen per 10 Mei.
Selanjutnya, realisasi pendapatan daerah pada tahun 2022 mencapai sebesar Rp2,04 triliun setara 29,05 persen per 10 Mei 2022.
Lalu, realisasi pendapatan daerah pada tahun 2023 mencapai sebesar Rp2 triliun setara 24,83 persen per 10 Mei 2023.
Berikutnya, realisasi pendapatan daerah pada tahun 2024 mencapai sebesar Rp2,04 triliun setara 23,72 persen per 10 Mei 2024.
Dan, realisasi pendapatan daerah pada tahun 2025 mencapai sebesar Rp2,25 triliun setara 30,23 persen per 10 Mei 2025.
"Capaian tahun ini melampaui rentang realisasi 23 persen hingga 29 persen pada periode 2021-2024. Sekaligus mencatatkan nilai tertinggi," demikian akun ofisial media sosial Pemprov Lampung melaporkan, Ahad.
Lantas, bagaimana dari sisi belanja daerah? Trennya oke punya. Realisasi belanja daerah per 10 Mei 2025 jua menunjukkan tren positif. Asyik.
Perinci, realisasi belanja daerah tahun 2021 mencapai sebesar Rp1,38 triliun setara 18,34 persen per 10 Mei 2021.
Selanjutnya, realisasi belanja daerah tahun 2022 mencapai sebesar Rp1,35 triliun setara 19,02 persen per 10 Mei 2022.
Lalu, realisasi belanja daerah tahun 2023 mencapai sebesar Rp1,42 triliun setara 17,24 persen per 10 Mei 2023.
Berikutnya, realisasi belanja daerah tahun 2024 mencapai sebesar Rp1,82 triliun setara 20,82 persen per 10 Mei 2024.
Dan, realisasi belanja daerah pada tahun 2025 mencapai sebesar Rp1,85 triliun setara 24,62 persen per 10 Mei 2025.
Akun ofisial media sosial Pemprov Lampung menyebutkan, realisasi belanja daerah tahun 2025 ini melampaui kisaran 17 persen hingga 20 persen pada tahun-tahun sebelumnya.
Itu artinya, menunjukkan efisiensi anggaran dan percepatan serapan anggaran. Bekerja.
Olah data, merujuk data Kementerian Dalam Negeri tiga bulan sebelumnya, tercatat bahwa realisasi pendapatan daerah provinsi ini per Februari 2025 baru sebesar 8,83 persen dan untuk realisasi belanja daerahnya sebesar 5,67 persen.
Dengan demikian, kurun tiga bulan ini, ada lompatan realisasi pendapatan daerah hingga 21,4 persen, dan lompatan realisasi belanja daerah hingga 18,95 persen.
Tidak untuk pamer, cuma membeber, Kepala BPKAD Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan yang juga alumnus SMA Negeri 2 (Smanda) Bandarlampung dan jago bahkan atlet sofbol era remaja ini, terakhir Pj Bupati Pringsewu,
merincikan keberhasilan Gubernur Mirza merealisasikan pendapatan daerah hingga Rp2,25 triliun atau setara 30,23 persen dan belanja daerah hingga Rp1,85 triliun atau setara 24,62 persen per 10 Mei 2025 itu.
Jika, semua realisasi pendapatan dan belanja daerah tersebut, di luar kas daerah, sudah terlaporkan ke Kementerian Dalam Negeri, "maka realisasi APBD Provinsi Lampung berada di atas rata-rata nasional," ujar mantap dia, Sabtu (10/5/2025).
Lho, kok bisa? Pembaca seruput dulu kopinya dan habis itu kita lanjut dengan jawabannya: pasti, karena.
Ya, "Karena dalam struktur anggaran, pengelolaan dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) dan BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) tidak melalui kas daerah yang nilainya saat ini mencapai lebih dari Rp350 miliar. Realisasi terhadap pengelolaan keuangan di luar kas daerah tersebut, terutama dana BOS masih dalam tahap pengesahan, sesuai Permendagri tentang Pengelolaan Keuangan Dana BOSP setiap satu semester," terangnya.
Namun demikian, Marindo menandaskan, secara de facto, revolving (penggantian) terhadap penerimaan dan pengeluaran Dana BOS dan BLUD telah terealisasi sehingga masuk dalam perhitungan realisasi APBD Pemerintah Kabupaten/Kota.
"Nilai realisasi keseluruhan ini secara utuh akan kami laporkan, dirilis pada periode rapat koordinasi berikutnya. Realisasi, menunjukkan kinerja yang baik dan optimal, dapat dilihat dari jumlah uang yang berada di kas daerah setiap harinya tidak lebih dari 0,03 persen," sebut doktor ekonomi ini.
Dia mengintensi pesan Gubernur Mirza, agar jajarannya dapat mengoptimalkan semua penerimaan daerah yang masuk pada setiap harinya untuk didistribusikan menjadi belanja daerah. "Demikian," pungkas Marindo. Oke.
Sekadar penyelia, soal istilah "revolving", yang turut Marindo sebut. Dalam ranah penganggaran keuangan daerah, istilah revolving anggaran daerah (dana bergulir), ialah mekanisme pengalokasian anggaran dana yang bersifat fleksibel, dapat digunakan secara berulang-ulang.
Dana, diberikan ke pihak terkait, kemudian dapat dikembalikan dan digunakan kembali untuk kegiatan serupa, sehingga membentuk siklus penggunakan dana yang berkelanjutan.
Fungsi/tujuannya: berikan dukungan finansial berkelanjutan bagi berbagai kegiatan, seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat, proyek infrastruktur, atau kegiatan sosial. Contoh, dalam program pemberdayaan ekonomi keluarga miskin, di mana dana pinjaman dikembalikan penerima manfaat kemudian dialokasikan kembali kepada penerima manfaat lainnya.
Ada dua manfaatnya: pertama, efisiensi, di mana revolving anggaran memungkinkan penggunaan dana lebih efisien karena dana dapat digunakan berulang. Kedua, perkuatan, dana ini dapat memperkuat kemampuan ekonomi penerima manfaat dan mendukung kegiatan yang berkelanjutan.
Revolving anggaran dapat memudahkan pihak terkait mengelola dana dan melakukan kegiatan berkelanjutan. Pengelolaan revolving anggaran biasanya dilakukan oleh lembaga penanggung jawab program atau kegiatan dilakukan, sesuai amanat beleid pengatur pelaksanaannya, termasuk ihwal tata cara pengajuan, pengembalian, penggunaannya.
Sampai di sini, sudahkah hormon bahagia Anda bekerja, Pembaca Budiman?
Pewarta ajak sejenak, berefleksi atas apa, atas jerih kepemimpinan Gubernur Mirza yang notabene Magister Manajemen jebolan Unila ini di dalam membawa kebaruan suasana kinerja tata kelola keuangan daerah, menuju aras transformasi sistem penatakelolaan anggaran keuangan daerah yang sesuai dengan amanat konstitusi.
Cukup mencolok, strategi "serap cepat", dan "cepat serap" yang sang gubernur taja, tajam.
Tajam rasionalisasi, tajam manajerialisasi, dan tajam hasil pada akhirnya. Ini mengingatkan pada statemen kondang Gubernur muda ini, saat bertandang bersilaturahmi pengenalan kepada segenap jajaran BPKAD setempat.
Bahwa, "BPKAD adalah dapurnya Pemprov."
Orang Betawi bilang, "kalo kompor mbeleduk, alamat dapur kagak ngebul."
Dalam hal ini tampak kuat, komitmen atas transparansi dan akuntabilitas anggaran daerah, senyatanya duet Mirza-Jihan jaga. Itu amanat visi misi, itu amanat negara, dan itu mandat konstitusi.
Sepintas lalu, upaya keras upaya nyata Mirza dalam mewujudkan idealisasi itu menjadi sesuatu yang niscaya, yang menapak bumi --membumi dan menjadi material, seperti sesuatu yang mustahil mampu dilakukan. Per awal. Akan tetapi, praktis jelang triwulan masa kepemimpinan seumur jagungnya bersama Wagub Jihan Nurlela, asumsi: terbantahkan.
Rakyat Lampung, 9,45 juta jiwa rakyat Bumi Ruwa Jurai ini harus dikabarkan, ini dia sosok pemimpin cerdas. Cerdas finansial. Berhasil keluar dari lubang jorokan, berhasil keluar dari lubang berkubang, kendati baju dan celana mesti legam berbaur lumpur, dan sedikit camping robek sana-sini.
Sebagai pengibaratan, Mirza pun dengan telaten merajutnya kembali. Meminta benang, tak ada mesin obras tak ada mesin jahit, jahit pakai tangan pun, jadi!
Dan, hasilnya pun bisa dipelototi di atas.
Sebagai disclaimer bukan buat membanding, apa yang Mirza perjuangkan tersebut bak semirip, sudut berbeda, kisah lampau.
Kisah pria kelahiran Buttenheim, Bayern, Jerman, 26 Februari 1829 dengan nama lahir Lob Strauss dari keluarga pasangan Hirsch Strauss dan istri keduanya, Rebecca. Pria ini, saat 18 tahun pindah bersama ibu dan dua saudarinya ke New York, Amerika Serikat (AS) untuk bergabung dengan ke-2 saudaranya Jonas dan Louis Lob, pebisnis barang kering.
Lantas saat dia berusia 21 tahun, mengubah namanya sendiri menjadi Levi Strauss, tahun 1850, atau tiga tahun sebelum dia pindah ke San Francisco, California, untuk membuka perusahaannya sendiri: Levi Strauss & Co.
Di tahun bersejarahnya itu, 1853, dia sekaligus resmi menjadi warga negara AS.
Adapun, saudara perempuannya, Fanny, dan suaminya, David Stern pindah ke St. Louis, Missouri, sedang dia ke Louisville, Kentucky.
Keluarganya memutuskan buka cabang toko barang-barang keringnya di San Francisco yang saat itu pusat Demam Emas California.
Levi dipilih mewakili keluarga, jadi perwakilan di San Francisco, diikuti kakaknya. Dia buka toko grosir "Levi Strauss & Co", jual ragam barang kering termasuk pakaian, saputangan dan tas.
Di sinilah dia bersua Jacob W. Davis, penemu celana jins, ternyata salah satu pelanggannya. Lev, Jacob, lalu berkolaborasi memproduksi jins biru pada tahun 1871. Lalu mematenkan desain celana jins mereka pada tahun 1873.
Hingga kelak kini kemudian, dunia mengenal sosok Levi yang meninggal dunia di usia senja 73 tahun di San Francisco, California, pada 26 September 1902 dan dimakamkan di Home of Peace Cemetery di Colma, California.
Dan, dia tercatat mewariskan perusahaannya kepada empat keponakannya, atau anak dari Fanny dan David Stern, yaitu Jacob, Sigmund, Louis, dan Abraham Stern, dengan warisan kekayaan bernilai 6 juta dolar AS di masa itu.
Autobiografi Levi Strauss ini, yang menjadikan dirinya dikenal sekaligus dikenang sebagai pendiri perusahaan pertama di dunia yang memproduksi celana jins biru yang dikenal dengan nama dagang Levi Strauss & Co.
Namanya pun terus harum identik, tidak saja menjadi merek jins yaitu Levi's. Akan tetapi, orang keburu fasih mengucapkan kata dari asal namanya itu: "Levi's" setiap menyebut celana jins. Padahal kini, banyak merek jins. Tetapi tidak termasuk Jin dan Jun, ya. Hehe.
Kisah hidupnya yang dimulai di Jerman tanah kelahirannya, akan tetapi saat dia pindah ke Amerika, saat itu pula impiannya lahir. Levi Strauss datang ke San Francisco dengan harapan menjual kain tepat saat era Demam Emas meledak.
Dikisahkan, di saat semua orang mencari keberuntungan dengan menggali tambang emas, namun saat itu dia justru hanya ingin menjual apa yang bisa dia jual. "Aku tidak menciptakan celana, tetapi, menciptakan "kulit kedua" untuk mereka yang berjuang dari bawah," ujar Levi Strauss satu ketika.
Namun, saat dirinya berbicara dengan para penambang, dia lantas memahami satu hal yang jelas dan dari sini dia melihat peluang, peluang emas, bahwa apa yang mereka (penambang) butuhkan, bukanlah emas.
Lalu apa? Para penambang itu, simpul Levi, notabene membutuhkan pakaian yang cukup kuat dan cukup tahan lama saat dipakai oleh para penambang mengingat kondisi Medan galian tambang yang penuh menantang.
Bak intelijen pasar, Levi Strauss cerdas asah pisau analisa bisnisnya. Penambang jelas meminta dibuatkan celana yang kokoh, berkontur kuat, dan tak mudah rusak misal gampang robek, yang mampu melindungi kulit mereka dari marabahaya di antara cadasnya batu dan bebatuan, dan legamnya lumpur yang menghadang.
Hasilnya, Levi Strauss bersama sang inventor celana jins tadi, Jacob Davis, lantas berupaya memenuhi permintaan para penambang.
Keduanya lantas bereksperimen melakukan yang menurut awam, tak lazim. Apa itu? Levi dan Jacob coba memperkuat jahitan celana tersebut dengan paku-paku tembaga dan menggunakan terpal coklat. Lalu, menukarnya dengan kain biru (denim) yang lebih nyaman.
Nobody knews, tiada yang tahu, bahwa yang keduanya tak lazim lakukan itulah kelak yang lantas menasbihkan keduanya menciptakan jeans pertama dalam sejarah.
Dan bukan perkara mudah. Pada awalnya orang-orang pun menaruh curiga, menyana bahwa celana itu adalah untuk orang miskin.
Tapi lidah tak bisa bohong. Para penambang itu pun menjadi berlaku seperti tagline KPK: berani jujur, hebat. Dan jadilah mereka: anti "bokis". Itu celana, setelah dipakai lalu jujur mereka akui, bahwa relatif jauh tahan lama dibandingkan lainnya, setidaknya dengan yang para penambang kenakan sebelumnya.
Pada perkembangannya kemudian, celana jins kreasi Levi Strauss dn Jacob Davis ini juga mengalami dan menjadi bagian dari proses dinamisasi peradaban busana anak-anak muda di seluruh dunia. Pun, menjadi bagian dari filosofi penggunaannya sebagai suatu perlambang, sebagai simbol pemberontakan.
Walhasil, bertransformasilah jins Levi's, yang semula diciptakan sebagai solusi busana khas pekerja tambang emas yang selain nyaman, tahan lama dan oke, menjadi: revolusi mode.
Adalah satu penggalan quotes langgeng sang Levi Strauss: "Terkadang kamu tidak perlu menemukan emas. Kau hanya perlu menjahit idemu dengan kuat, dan percaya bahwa itu akan bertahan." Uyee.
Seolah semirip, kisah Levi Strauss bersusah payah meyakinkan calon pelanggannya: para penambang emas yang kehidupannya serba keras, hingga takluk dan mempercayainya kelak kemudian (dengan mengenakan jins kreasi Levi dan Jacob), dan merubah wajah keras mereka menjadi wajah penuh senyum khas pelanggan yang meras puas.
Memahami landasan filosofis dari apa yang para calon pelanggannya itu nyata-nyata butuhkan, hingga memformulasikan bahan celana jins itu dengan material yang aman, nyaman, tahan lama dan disukai kemudian. Dan bahwa kelak sepeninggalnya (Levis) itu menjadi warisan bagi dunia hingga kini.
Dengan, apa yang telah sejak 20 Februari lalu (hari pelantikan Mirza-Jihan) hingga hari-hari ini dan semoga disemogakan berlanjut hingga hari-hari mendatang, oleh Gubernur Mirza lakukan, yang dia besut agar semakin hari semakin "ter-nomenklatur-kan" menjadi tradisi baru penatakelolaan anggaran dan keuangan daerah di tubuh Pemprov Lampung yang senapas dengan mandat konstitusi.
Lantas (turunannya) senapas pula dengan Visi Mirza-Jihan: Lampung Maju Menuju Indonesia Emas. Lantas (turunannya pula) senapas dengan Misi Ketiga Tricita Misi Mirza-Jihan yakni "Meningkatkan kehidupan masyarakat beradab, berkeadilan, dan berkelanjutan".
Dan sebagai turunannya lagi, senapas dengan Program Kerja ke-16 Mirza-Jihan yaitu "Mewujudkan birokrasi berintegritas".
Pamungkas, turunan terakhirnya, senapas pula dengan poin ke-7 dari program kerja tersebut, yakni "Mewujudkan pengelolaan APBD secara tertib, efisien, ekonomis, efektif,
transparan, dan bertanggung jawab
dengan memperhatikan rasa keadilan,
kepatutan, manfaat untuk masyarakat,
serta taat pada ketentuan peraturan
perundang-undangan."
Sebagai penutup, pujian pun sanjungan barangkali saja bisa memabukkan, lantas berikutnya bisa pula menyesatkan. Dan sosok Gubernur Mirza disebut-sebut jauh dari sifat atau pun watak itu: gila hormat, gila pujian.
Tetapi, data dan fakta "tertinggi kurun lima tahun terakhir" sebagaimana diulas di atas, bisa menjadi basis data jika Anda hendak tulus melayangkan pujian, melandaskan sanjungan kepada sang gubernur muda.
Baru seumur jagung, lompatan-lompatan terukurnya, sudah bikin kalkulator kita kok jadinya suka salah hitung. Alias, anak muda kerap bilang, "kukira cupu, ternyata suhu." Itu dia, ini Mirza. (Muzzamil)
