LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ----- Fenomena ojek pertama kal bercikal bakalnya di pedesaan Indonesia era 1960-an sebagai alternatif transportasi terutama di daerah sulit jangkau moda lain.
Ojek sepeda, populer di pedesaan, beralih ke ojek motor seiring perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan transportasi. Ojek di perkotaan juga kian jadi pilihan alternatif terutama di sentra macet sentra kemacetan.
60 tahun kemudian, saat tiba era disrupsi digital ala rezim Revolusi Industri 4.0, sesosok jenius jebolan Harvard, kelak bahkan jadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Kabinet Indonesia Maju 2019-2024, Nadiem Makarim dan sohibnya Michaelangelo Moran; mendirikan Gojek, perusahaan rintisan (startup) teknologi pelopor layanan ojol di Tanah Air pada 13 Oktober 2010.
Saat awal beroperasi cuma sebagai layanan pemesanan ojek melalui call center, saat itu ojol belum dikenal luas dan masyarakat masih bergantung pada ojek pangkalan (opang).
Perubahan revolusioner baru terjadi saat Gojek luncurkan aplikasi mobile untuk Android dan iOS, Januari 2015. Dengan aplikasi ini, pengguna dapat pesan layanan transportasi lebih mudah, jumlah mitra pengemudi Gojek pun pesat sekitar 1,7 juta driver aktif pada 2019, jadi 2,6 juta mitra pengemudi (2021), mencapai 2,7 juta orang di akhir 2022.
Waktu singkat, layanan ini jadi fenomena nasional. Gojek berhasil menarik perhatian investor, yang makin perkuat posisi sebagai pemain utama di industri ride-hailing. Gojek tak hanya sediakan layanan transportasi, tapi juga perluas ekosistem dengan menghadirkan inovasi layanan keseharian 1 x 24 jam warga.
Dari jasa layanan transportasi dan logistik: ojol GoRide, taksol GoCar, pengiriman barang GoSend, pemindahan barang GoBox. Lalu, layanan pengiriman makanan dan barang konsumen bergerak cepat alias Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) seperti pesan antar makanan GoFood, promo makanan GoFood Festival, belanja online GoShop, belanja kebutuhan sehari-hari GoMart.
Lalu, layanan pembayaran dompet digital GoPay, bayar tagihan GoBills, pembelian pulsa GoPulsa. Juga, layanan kebutuhan sehari-hari: jasa pijat GoMassage, jasa kebersihan rumah GoClean, layanan otomotif GoAuto, jasa kecantikan GoGlam, jasa binatu GoLaundry, jasa perbaikan elektronik GoFix.
Serta, layanan hiburan dan berita: jasa streaming GoPlay, beli tiket GoTix. Dan lainnya seperti jasa konsultasi dokter online GoMed, layanan kebutuhan sehari-hari GoDaily, dan layanan bisnis GoBiz yang memungkinkan merchant gabung ekosistem Gojek.
Dengan inovasi ini, Gojek sang pengampu Salam Satu Aspal ini bertumbuh kembang jadi Superapp pertama di Indonesia, juga menjadi startup decacorn dengan valuasi lebih dari 11 miliar dolar AS setara Rp178 triliun pada 2019!
Situasi mutakhir, dengan posisi Indonesia kini jadi rumah bagi 2.300 startup, menjadikannya negara dengan startup terbanyak di Asia Tenggara, dengan 14 startup di antaranya berhasil capai status unicorn (sebutan untuk startup dengan valuasi lebih dari 1 miliar dolar AS) atau decacorn (sebutan untuk startup dengan valuasi lebih dari 10 miliar dolar AS).
Gojek, yang telah kumpulkan 4,72 miliar dolar AS dari investor seperti Google, JD.com, dan Tencent, hingga 2018; memiliki 36 pesaing aktif termasuk tiga yang telah didanai dan satu yang telah keluar, berpesaing utama Grab, LINE MAN Wongnai, dan NUJEK, kini sejak merger antara Gojek dan Tokopedia pada Mei 2021 menjadi GoTo (Gojek dan Tokopedia), menjelma menjadi salah satu decacorn terbesar di Indonesia dengan valuasi sebesar 30 miliar dolar AS.
Gojek bersama Tokopedia dirian William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison Februari 2009, platform e-dagang terkemuka Indonesia, resmi me-lantaibursa-kan GoTo catatkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada April 2022.
Berikut, selain Gojek, pelopor ojol di Indonesia lainnya, ada Uber, perusahaan asal AS yang dikenal sebagai pelopor ride-hailing global dirian Travis Kalanick dan Garrett Camp di Paris, Prancis, 2008, beroperasi pertama kali di New York AS, 2010 sebelum lebarkan sayap ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Tercatat, Uber pertama kali masuk Indonesia 13 Agustus 2014 lewat layanan taksol Jakarta terutama SCBD Kuningan. Keunggulan utama Uber ini berteknologi canggih, tarif kompetitif, pengalaman pengguna nyaman. Model bisnis Uber berbasis aplikasi menarik minat investor, menjadikannya korporat ride-hailing terbesar di dunia.
Uniknya, kehadiran Uber di Indonesia tidak berlangsung lama, kalah saing dengan produk anak bangsa: Gojek, dan Grab, yang lebih agresif "bakar uang" menawarkan ragam promo eksponensial dan ekspansi layanan kompetitif.
Pada 2018, Uber kesulitan bersaing dan angkat bendera putih: memutuskan jual operasionalnya di Asia Tenggara ke Grab dengan imbalan kepemilikan 27,5 persen saham di Grab. Resmi diakuisisi, seluruh layanan Uber di Asia Tenggara dihentikan, resmi tutup aplikasi pada 8 April 2018.
Kemudian, Grab (awalnya GrabTaxi), korporat ride-hailing dirian Anthony Tan di Malaysia pada 2012. Awalnya, Grab hanya sediakan layanan taksi berbasis aplikasi, tapi kemudian berekspansi ke layanan ojol, meluncurkan GrabBike di Vietnam pada Oktober 2014.
Mulai mengaspal di Indonesia pertengahan 2014, layanan GrabBike resmi diluncurkan di Indonesia Mei 2015, didukung dana besar, Grab mampu bersaing dengan Gojek melalui strategi promosi agresif termasuk tarif promo Rp5.000 per trip, lebih murah dibanding Gojek saat itu, bikin GrabBike dengan cepat mendapatkan basis pengguna yang besar.
Seiring perjalanan Grab berkembang bak jadi "Gojek Junior", menjaja layanan pengiriman makanan GrabFood, pengiriman barang GrabExpress, hingga layanan keuangan digital. Grab bahkan jadi decacorn pertama di Asia Tenggara, dengan valuasi lebih dari 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp162 triliun.
Kini, Gojek dan Grab, decacorn ride-hailing pelopor utama pengubah wajah transportasi di Indonesia, yang tak cuma berperan sebagai penyedia layanan sekaligus membuktikan industri ride-hailing di Indonesia terus tumbuh berkembang cepat, namun juga membentuk ekosistem baru dalam industri transportasi.
Dalam 15 tahun perjalanannya, melahirkan kontradiksi baru. Dan ini erat terkait dengan problem sosial bahkan kemanusiaan, terkait citra diri perusahaan bisnis yang bukan saja semata berorientasi laba kapital dan melulu menganggap mitra pengemudi hanya sebatas sebagai statistik human capital belaka.
Lebih dari itu, jurang disparitas pendapatan sosial ekonomi yang melingkupinya pun mesti dikembalikan lagi pada praksisme demokrasi ekonomi Pancasila sebagai ruh mendasarnya.
Upaya, semisal dari pihak pemerintah, melalui Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman yang pernah merekomendasikan agar pengemudi ojol dimasukkan dalam kategori UMKM, ataupun tempuhan solusi berkeadilan lainnya, terus mesti didorong demi ekosistemnya tidak saja semakin kuat, resilien, dan mewujud (manifes) menjadi garda terdepan pengungkit ekonomi ala gig economy.
Melainkan pula, agar ojol, yang kini tak lagi cuma sebatas alat transportasi belaka, juga terus manifes sebagai solusi digital berbagai aspek kehidupan sehari-hari, dan bahkan terus mengkristal menjadi bagian tak terpisah dari bagian kehidupan masyarakat modern.
Yang pasti, bagaimana agar fenomena ojol ini tetap memanusiakan manusia. (Muzzamil)
