Helo Indonesia

Mahasiswa Undip Dorong Legalitas Usaha Shuttlecock Serengan untuk Daya Saing Ekonomi Lokal

Kamis, 31 Juli 2025 17:04
    Bagikan  
Mahasiswa Undip Dorong Legalitas Usaha Shuttlecock Serengan untuk Daya Saing Ekonomi Lokal

Tim KKN-T IDBU 20 foto bersama pelaku UMKM shuttlecock di Kelurahan Serengan, Surakarta.

SOLO, HELOINDONESIA.COM - Upaya memperkuat sektor usaha mikro terus digencarkan melalui kolaborasi dunia pendidikan dan masyarakat. Di Kelurahan Serengan, Kota Surakarta, kelompok mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) mendorong pelaku industri shuttlecock untuk bertransformasi menuju usaha formal dan terorganisasi.

Sebanyak 16 pelaku UMKM shuttlecock di RW 008 Kelurahan Serengan, Kecamatan Serengan, menjadi sasaran program pengabdian masyarakat yang dijalankan oleh Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik Iptek Bagi Desa Binaan Undip (KKN-T IDBU) 20 selama Juli 2025.

Baca juga: KEK dan Pemkab Kendal Raih Penghargaan Realisasi Investasi Tertinggi di Jateng

Mengusung tema "Penguatan Kelembagaan Usaha Shuttlecock serta Legalitas dan Akses Formalitas Pelaku Usaha", Tim KKN-T berupaya meningkatkan daya saing ekonomi lokal melalui pendekatan kelembagaan dan penyuluhan formalitas usaha.

Kelurahan Serengan dikenal sebagai salah satu pusat produksi shuttlecock rumahan di Solo, namun sebagian besar pelaku usahanya belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Minimnya akses informasi dan pemahaman prosedural menjadi tantangan utama.

Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Undip memberikan pendampingan intensif dalam pengurusan legalitas usaha melalui sistem OSS (Online Single Submission) serta layanan daring Direktorat Jenderal Pajak. Edukasi juga mencakup manfaat legalitas untuk pengembangan usaha, akses pembiayaan, dan perluasan pasar.

Pembentukan Kube
Selain pendampingan teknis, mahasiswa turut memfasilitasi pembentukan kelembagaan Kelompok Usaha Bersama (Kube) “Makam Bergolo Selaras” sebagai wadah koordinasi antar produsen shuttlecock lokal. Kube diharapkan menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha untuk mengakses program-program pemberdayaan dari pemerintah.

“Program ini dirancang untuk memberi solusi nyata atas tantangan usaha masyarakat. Mahasiswa belajar langsung dari lapangan, sekaligus memberikan nilai kebermanfaatan yang nyata,” ujar Intania Effendi, SKom, MBA, selaku dosen pembimbing lapangan.

Baca juga: BPS: Jumlah Warga Miskin di Jateng Turun, Pertumbuhan Ekonomi Naik

Selama masa KKN, mahasiswa juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan seperti Posyandu Balita dan Lansia, pengajaran di TPA, kerja bakti, hingga senam bersama warga. Kegiatan tersebut melengkapi pendekatan holistik yang tidak hanya menyasar aspek ekonomi, tetapi juga kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.

Sapto Santoso (47), salah satu pelaku usaha shuttlecock lokal mengapresiasi kegiatan ini. “Kami jadi tahu pentingnya legalitas usaha. Mudah-mudahan usaha kami makin berkembang dan kerja sama seperti ini bisa berlanjut ke depannya,” ungkapnya.

Dengan tercapainya legalitas dan terbentuknya kelembagaan usaha, program ini diharapkan mampu memperkuat posisi UMKM shuttlecock Serengan dalam ekosistem ekonomi yang lebih formal, terintegrasi, dan berkelanjutan. (Aji)