LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Di rumah sederhana berdinding geribik di kawasan Sukamenanti Baru, Kedaton, seorang siswi kelas XII-8 SMAN 9 Bandarlampung kini lebih banyak mengurung diri. Gadis yang biasanya ceria itu mendadak berubah pendiam atau histris.
Rumah berukuran 6 X 6 meter tersebut bukan milik keluarganya tapi dipinjamkan orang baik di kelurahannya: Sutrisno. Di rumah itu, tinggal sang siswi, ayuk yang ikut kerja dengan temannya, dan kedua orangtuanya.
Baca juga: SMAN 9 Balam Bantah Terjadinya Bullying di Sekolahnya, Ini Kronologisnya
Sedangkan ayahnya yang bernama Sujadi (45) tidak bisa bekerja berat lagi akibat kecelakaan kena longsoran bukit sebagai pemecah batu sejak 10 tahun lalu.
Tulang punggung keluarga, ibunya, Endang Setiawati (40) yang seorang buruh cuci pakaian berhonor Rp600 ribu per bulan. Untuk membantu keluarga, sang siswi sesekali ikut kesenian tari lumping.
Baca juga: Pemkot Balam dan Disdikbud Lampung Turun Dampingi Siswi Korban Bully SMAN 9
Sang siswi enggan berangkat sekolah, bahkan sudah dua pekan lamanya absen dari bangku kelas. Gadis belia berusia 17 tahu itu lebih banyak termenung atau histris ketika diminta ibunya sekolah.
Telunjuk sepertinya masih ke arah sang siswi. Dirinya dinilai pendiam walau pengakuannya sudah melaporkan perundungan ke wali kelasnya, flying victim, sibuk kuda kepang, dan lain-lain yang bukan malah menyelami hati seorang pelajar yang sedang dalam proses membangun kepercayaan diri.
Keluarga kecil ini hanya berharap pihak sekolah bisa memberi perhatian dan perlindungan. Ibunya hanya ingin anaknya kembali punya keberanian untuk menatap masa depan, bukan justru hancur oleh kata-kata yang melukai.
Selasa (16/9/2025), Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( PPPA) kota Bandarlampung Maryamah dan Camat Kedaton, berkunjung ke kediamannya untuk memberikan pendampingan dan menguatkan kondisi korban bully secara psikologi.
“kami memberikan pendampingan dengan membawa psikolog dari PPPA, kita ingin tahu seperti apa yang dialami sang siswi, setelah sempat berbincang dengan korban dan kedua orang, korban bully ini jadi minder di lingkungan kelasnya, katanya.
Baca juga: Lolos dari Pantauan Guru Kelas, Siswi SMAN 9 Diduga Jadi Korban Bullying
"Untuk itu perlu penguatan dan pendampingan psikolog ini sangat penting,kami juga berkoordinasi dengan dinas PPPA provinsi terkait masalah si korban," tuturnya.
"Apalagi ini ranahnya provinsi kan menyangkut siswi SMAN, untuk pendalaman terhadap kejiwaannya akan dilakukan ke tahap berikutnya,Ini baru awal, nanti akan dibawa sendiri pendalaman terhadap kejiwaannya, ujarnya.
Dengan pendampingan ini mudah-mudahan dapat memberika semangat agar dia tetap mau sekolah, dan itu perlu dukungan dari berbagai pihak, baik keluarga, lingkungan, dan intinya dia harus tetap sekolah.
Dari obrolannya dengan sang siswi, memang dari pertama masuk sudah mendapatkan perundungan,tapi kan akan kita dalami lagi.
Menurutnya, kondisi orang yang tidak mampu kalau mendapat tekanan bisa langsung lemah, tidak sekuat dengan orang yang ekonominya baik sehingga celah ini yang dimanfaatkan.
Sementara itu psikolog yang ikut mendampingi MDM mengungkapkan, trauma itu pasti ada ,tapi tadi sudah mulai ceria, kelihatan sudah mulai tersenyum. Untuk hasilnya belum bisa dipaparkan secara publikasi, tandasnya.( Hajim).
