UNGARAN, HELOINDONESIA.COM - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi Jawa Tengah memastikan adanya langkah-langkah untuk penanganan dan pencegahan banjir yang terjadi di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya.
Anggota Komisi E DPRD Jateng HM Dipa Yustia Pasa menjelaskan, dirinya telah mendampingi Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh untuk mengecek penanganan banjir di Semarang khususnya wilayah Genuk.
Berdasarkan evaluasinya, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti dinas Kesehatan, BPBD dan seluruh infrastruktur sudah dikerahkan dan berusaha maksimal untuk menangani banjir.
Baca juga: Pertama Kali, Tim Bola Basket USM Bawa Pulang Dua Piala Liga Mahasiswa 2025
Menurutnya yang perlu didiskusikan adalah bagaimana agar banjir tidak berkepanjangan dan jangan menjadi kegiatan tahunan. Kota Semarang sedapat mungkin bisa lepas dari banjir tahunan.
“Tidak menjadi kegiatan yang akhirnya itu lagi itu lagi. Kita ingin ada pembaruan. Mungkin pada tahun-tahun depan diskusi-diskusi yang teknis dan mendetail tentang bagaimana caranya agar Kota Semarang tidak banjir lagi,” kata Dipa usai menjadi narasumber Focus Group Discussion di Dreamlight World Media, Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu 29 Oktober 2025.
Dipa mendorong Pemerintah untuk lebih banyak berdiskusi tentang teknis penanganan dan pencegahan banjir, ketimbang melaksanakan kegiatan yang sifatnya seremonial.
“Jangan lagi kita mainan yang hanya seremoni-seremoni saja, datang lalu membagikan (bantuan). Kita harus sudah mulai ngobrol cara menyingkirkan banjir secara cepat,” ucap pegiat industri kreatif itu.
Beri Masukan
Pria yang bergelut dengan bidang hukum sebagai lawyer itu juga akan terus berupaya memberikan masukan Pemprov agar tidak lagi terjadi banjir. Dipa menilai saat ini OPD sudah turun ke lapangan untuk memberikan pelayanan bagi warga yang terdampak banjir.
“BPBD juga berkoordinasi dengan baik dan tidak hanya kota Semarang, didukung juga BPBD kabupaten Semarang dan Kendal. Jadi ini bukan gawenya kota Semarang saja tapi tanggung jawab bersama-sama,” jelasnya.
Baca juga: Harmoni Budaya Wonosobo: Kolaborasi Wayang, Bundengan, dan Tarian Khas
Terkait analisis para akademisi yang menilai penyebab banjir di kota Semarang adalah penurunan muka tanah (land subsidence), menurutnya Pemerintah dan akademisi perlu duduk bersama untuk membahas masalah ini.
“Teman-teman akademisi punya keilmuan sendiri, pemerintah juga punya strategi khusus, sehingga perlu disinkronkan,” ucapnya.
Dia menambahkan, banyak faktor penyebab terjadinya banjir, mulai dari curah hujan yang tinggi hingga dampak dari pembangunan. “Perkembangan pembangunan juga mungkin berdampak terhadap perubahan-perubahan alam. Maka dari itu, kita perlu duduk bersama untuk membahasnya,'' tandasnya. (Aji)
