Helo Indonesia

Home Sweet Home, Juniardi Balik Kandang, Pimpin PFI Lampung

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Minggu, 2 November 2025 20:08
    Bagikan  
-
HELO LAMPUNG

- - SELAMAT - Ketua terpilih Juniardi (tengah). dok. PFI Lampung (Muzzamil)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Mantan wartawan desk hukum Lampung Post 2003–2011, Ketua Komisi Informasi (KI) Lampung 2011–2014, Wakabid Pembelaan Wartawan PWI Lampung 2012–2022, dan Pimred Sinar Lampung per 2018, Juniardi; terpilih aklamasi sebagai Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Lampung 2025–2028.

Bang Jun, sapaan Juniardi yang juga Plt. Ketua menggantikan ketua sebelumnya: pewarta foto LKBN Antara Biro Lampung, Ardiansyah Jambak, yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan; terpilih dalam forum konsolidasi dan pengambil keputusan tertinggi provinsi, Musyawarah Daerah (Musda) dirangkai Rakerda PFI Lampung 2025 di sekretariatnya, Ahad (2/11/2025).

Ketua pelaksana Musda dan Rakerda 2025, Arlius Rahman didampingi sekretaris Robby Mahesa melaui siaran persnya bilang, helat demokratis tersebut digelar secara hibrida luring daring. Sebagian peserta dari total 13 pemilik suara sah, ikuti via Zoom Meeting.

Hasilnya terbelah dua. Hasil Musda, "Kami semua, anggota, pengurus, sepakat memilih dan menetapkan Sauudara Juniardi sebagai ketua periode mendatang," warta Arlius.

Hasil Rakerda, menetapkan ketua terpilih Juniardi sebagai formatur kepengurusan mendatang, persiapan Kongres PFI 2025, koordinasi persiapan pelantikan opsional (mandiri di Lampung atau di arena Kongres), pendataan dan rekrutmen keanggotaan, perpanjangan masa berlaku Kartu Tanda Anggota yang akan berakhir Desember ini.

Juniardi berseri, berterima kasih atas segala dukungan diberikan, dan ajak semua awak PFI Lampung solid. Sang ketua terpilih, juga hunus tiga program kerja mendesak. Yakni, penguatan kelembagaan, kaderisasi, dan peningkatan kapasitas profesi.

Asal tahu saja, diksi "pewarta foto" dibesut sebagai temukenali bagi individu wartawan foto yang karyanya menjadi karkhas produk jurnalistik. Selain memudahkan identifikasi, sekaligus membedakannya dengan jurnalis foto dan fotografer profesional umumnya.

Ketua terdahulu, Ardiansyah Jambak, lega. "Kita sama-sama majukan PFI," tutur Ardi sapaan sosok ramah ini, apresiatif. Dia bertekad dukung habis, dan majukan PFI.

Historiografi PFI, per embrionik organisasi ini dideklarasikan 22 Maret 1992 dengan nama Focus. Atas prakarsa pewarta foto media cetak di Jakarta yang prihatin dengan kekerasan fisik dan intimidasi aparat kala itu, lalu didirikan menjadi PFI 18 Desember 1998.

PFI jadi senjata legal perjuangkan hak-hak kebebasan pers dan kemerdekaan pers dari campur tangan pihak non pers, melawan kriminalisasi pers, melindungi pewarta foto dari pelanggaran HAKI, tindakan kekerasan, intimidasi hingga penganiayaan fisik, serta melindungi kerja-kerja jurnalistik sekaligus mendorong kemandirian pers yang hakiki.

Secara portofolio, PFI hadir di 21 provinsi, (bersama AJI, IJTI, dan PWI) diakui negara melalui Dewan Pers, merupakan salah satu konstituen Dewan Pers terdaftar SK Nomor 19/SK-DP/III/2020, di Kemenkumham via SK Nomor AHU-0000317.AH.01.08.Tahun 2020.

Selain aktif mengadvokasi dan helat agenda tahunan Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) sejak 2009, usai ditetapkan menjadi lembaga Uji Kompetensi Wartawan via SK Dewan Pers Nomor 24/SK-DP/IV/2022 aktif menaja Uji Kompetensi, teranyar PFI cetak sejarah pertama: salah satu anggotanya terpilih jadi anggota Dewan Pers 2025–2028, Maha Eka Swasta.

Dan tak lama lagi, hajat nasional, Kongres PFI ke-VIII jua bakal segera digelar. "Forum tertinggi ini akan mengundang Ketua dan Sekretaris 21 PFI Kota untuk menyusun dan merumuskan kebijakan organisasi selama tiga tahun ke depan, sekaligus memilih Ketum-Sekjen periode 2025–2028," warta ketuplak Sopian, via situs resmi. (Muzzamil)

 -