LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lampung (BEM KBM Unila) mengecam oknum anggota DPRD Lampung Tengah yang bawa-bawa nama lembaga untuk "menekan" tiga mahasiswa agar mendahului mobilnya saat berpapasan di gang sempit Wayhalim Permai, Kota Bandarlampung.
BEM Unila akan mengawal kasus ini sampai ada pertanggungjawabannya. "Kami menuntut agar DPD PDIP Lampung dan DPRD Lampung Tengah segera memberikan pernyataan resmi serta menjatuhkan sanksi terhadap pelaku," kata Ketua BEM KBM Unila M. Ammar Fauzan, Senin (3/11/2025).
Menurut dia, perilaku arogan yang ditunjukkan oknum kader PDIP tersebut menunjukkan ketidakmatangan moral, krisis keteladanan, serta mencederai marwah jabatan publik yang seharusnya mengayomi dan melayani rakyat, bukan menunjukkan superioritas.
Sebagai lembaga mahasiswa yang memegang teguh nilai-nilai demokrasi dan etika publik, BEM KBM Unila menilai ucapan “saya anggota” yang dilontarkan oleh sopir dan disertai tindakan tidak terpuji dan bagian dari bentuk penyalahgunaan status dan simbol kekuasaan.
"Kalimat itu menunjukkan adanya mentalitas feodal, jabatan jadi alat untuk merasa lebih tinggi dari warga biasa. Padahal, jabatan politik adalah amanah rakyat yang seharusnya dijalankan dengan rendah hati dan tanggung jawab moral," ujar Ammar kepada Helo Indonesia.
Katanya, peristiwa ini tidak hanya persoalan adu mulut biasa, melainkan memperlihatkan wajah asli dari krisis integritas pejabat publik di daerah. Oknum tersebut seharusnya menjadi contoh dalam menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin, bukan justru memprovokasi dan menantang warga.
Tindakan ini jelas merusak citra lembaga DPRD sebagai representasi rakyat, serta menciptakan jarak sosial antara pejabat dan masyarakat yang seharusnya mereka wakili.
Kejadiannya, Sabtu (31/9/2025), oknum wakil rakyat adu gerot tak mau mengalah ketika mobilnya berpapasan dengan mobil tiga mahasiswa di Gang Mahoni, Kelurahan Wayhalim Permai, Kota Bandarlampung.
Ketika tak ada yang mau saling mengalah karena ada perbaikan jalan dengan memundurkan kendaraannya, diduga, seorang anggota DPRD Lampung Tengah turun dari mobil dan mengatakan “setahanan aja” hingga muncul kata: saya anggota (Dewan).
Para mahasiswa yang meminta kendaraan milik sang wakil rakyat untuk mundur sebelumnya berdebat keras dengan sopirnya. Sang "anggota Dewan" yang awalnya bersikeras kemudian terlihat melerai agar tak terjadi adu fisik antara mahasiswa versus sopirnya.
Dalam video, seorang mahasiswa juga tak mau kalah. Terdengar kata "tolol" sambil menunjuk jalan rusak sedangkan kawannya memvideokan jarak yang jauh jika pihaknya yang harus mundur. Kendaraan anggota Dewan lebih dekat jika mundur.
Seorang dari tiga mahasiswa tak mau kalah inisial AM, keluar juga adu gerot: Orangtua saya juga anggota Dewan. Perang ludah tak dapat dihindarkan, kedua belah pihak saling "gas". Ada yang bilang, sopir wakil rakyat mengambil sesuatu dari dalam mobil.
Perdebatan adu gerot bawa-bawa identitas anggota Dewan menarik perhatian warga sekitar. Mereka kemudian berusaha menengahi dan melerai "adu congor" itu sehingga tak berlanjut menjadi "perdebatan fisik".
Meskipun tidak terjadi adu fisik, video perdebatan tersebut viral lewat ponsel ke berbagai flatform media sosial. Belum ada penjelasan resmi apa sesungguhnya terjadi dari viralnya perdebatan yang membawa-bawa identitas sebagai wakil rakyat yang katanya terhormat. (HBM)
