SEMARANG. HELOINDONESIA.COM - Bencana tidak pernah hadir sebagai statistik semata. Ia menjelma menjadi rumah yang hanyut, akses hidup yang terputus, dan manusia-manusia yang bertahan di tengah ketidakpastian.
Gambaran itulah yang mengemuka dalam Ngobrol Asyik Unlimited Talks, Sabtu 13 Desember 2025 bersama host Unik Oke—sebuah ruang bincang yang mempertemukan cerita kemanusiaan dan aksi nyata Universitas Diponegoro melalui Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART).
Baca juga: Kalah Dramatis Adu Penalti, PS USM Runner Up Turnamen Piala PSSI Kota Semarang
Dalam diskusi tersebut, terlihat jelas bahwa Undip memilih tidak berjarak dengan penderitaan. Saat banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatra, kampus tidak menunggu situasi mereda. Undip bergerak cepat, hadir lebih awal, dan menempatkan timnya langsung di garis depan bencana.
Prof dr Achmad Zulfa Juniarto, Wakil Ketua Bidang Kebencanaan LPPM Undip, mengungkapkan bahwa keputusan menurunkan tim D-DART bukan respons emosional, melainkan hasil mekanisme yang terukur.
“Kami memanfaatkan early warning dari BPBD, media resmi, serta jejaring relawan. Setelah rapid assessment, terlihat urgensi kemanusiaan dan medis. Prinsip kami sederhana: golden time penyelamatan tidak boleh hilang karena birokrasi,” ujarnya dari Padang, Sumatera Barat, tempat ia memimpin langsung misi kemanusiaan.

Undip tercatat telah mengirimkan dua gelombang D-DART ke Sumatera Barat pada 2 dan 10 Desember 2025. Misi tersebut diperkuat dengan kolaborasi bersama Ikatan Alumni Kedokteran Undip (IKA Medica) yang mengirimkan dokter-dokter alumni ke Aceh Tamiang, wilayah yang hingga kini masih menjadi lokasi kerja tim medis. Secara keseluruhan, 29 personel diterjunkan langsung dari Undip, di luar dukungan alumni yang berada di daerah terdampak.
Baca juga: Dampak Kebijakan Ekonomi Gubernur Jateng, Wings Air Tambah Tiga Rute Baru
Kondisi lapangan, menurut Prof. Zulfa, jauh dari kata ringan. Kerusakan infrastruktur dasar terjadi secara masif, air bersih sangat terbatas, dan fasilitas kesehatan lumpuh. Hujan yang terus turun memperpanjang kecemasan warga.
“Permukiman tidak hanya terendam air, tapi juga dihantam kayu, batu, dan lumpur. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil membutuhkan perhatian khusus,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kerja kemanusiaan tidak cukup dengan niat baik. Seluruh relawan D-DART telah melalui sekolah kebencanaan dan disaster drilling. “Keselamatan penolong adalah prioritas utama. Relawan yang tidak kompeten justru berpotensi menjadi korban,” tegasnya.
Dari sisi kebijakan institusi, Wijayanto SIP MSi PhD, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Undip, menegaskan bahwa pengabdian masyarakat adalah mandat moral universitas.
“Duka Sumatera adalah duka bangsa. Undip tidak boleh membiarkan saudara-saudara kita merasa sendirian,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa respons Undip tidak berhenti pada pengiriman relawan. Kampus juga menyiapkan langkah sistemik, mulai dari pengiriman teknologi desalinasi air siap minum untuk menjawab krisis air bersih, penggalangan dana bersama BEM Undip, hingga mekanisme bantuan bagi mahasiswa Undip yang keluarganya terdampak bencana. Hingga kini, 95 mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan telah terdata untuk menerima keringanan UKT, bantuan biaya hidup, dan dukungan pembelajaran.
Baca juga: Pengurus Pengkot Wushu Dilantik, Ini Harapan Ketua Umum KONI Kota Semarang
Sementara itu, dari perspektif medis, Dr dr Sumy Hastri Purwanti SpF DFM, Ketua IKA Medica Undip, mengingatkan bahwa fase pascabencana menyimpan risiko kesehatan yang serius.
“Selain luka fisik, kami menemukan potensi tinggi ISPA, diare, penyakit kulit, dan demam pada anak-anak akibat air dan makanan yang tidak bersih. Risiko outbreak sangat nyata,” ujarnya.
Menurut dr Sumy, keterlibatan alumni—khususnya tenaga medis—menjadi kekuatan penting dalam memperkuat layanan kesehatan darurat, termasuk tindakan bedah emergensi terbatas. Namun ia menegaskan bahwa pemulihan tidak hanya soal fisik.
“Trauma healing sangat dibutuhkan. Banyak penyintas mengalami tekanan psikologis berat karena ketidakpastian dan bencana yang berulang,” tambahnya.
Menariknya, dalam diskusi ini Undip menegaskan sikapnya terhadap kerja kemanusiaan yang minim seremonial. Prof. Zulfa menyebut, D-DART hadir untuk bekerja, bukan untuk tampil.
“Kami jarang melakukan seremoni. Fokus kami adalah aksi nyata dan dampak langsung bagi warga,” ujarnya. Bahkan dalam kondisi ekstrem, tim memilih membatalkan misi ke desa tertentu jika cuaca dan medan dinilai membahayakan keselamatan relawan.
Baca juga: Pemdes Panggung Rejo RJU Bagikan BLT Kepada 20 KPM
Melalui D-DART, Undip menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi dalam kebencanaan bukan sekadar wacana akademik. Dari Sumatera Barat hingga Aceh, dari layanan medis hingga pendampingan psikososial, dari dosen hingga alumni, seluruh elemen bergerak dalam satu irama: kemanusiaan.
Di tengah hujan, lumpur, dan duka, semboyan “Undip Bermartabat, Undip Bermanfaat” tidak lagi berhenti sebagai slogan. Ia hadir sebagai kerja nyata—dan harapan—bagi mereka yang terdampak bencana. (Aji)
