Helo Indonesia

Kepala SPPG Trimulyo Stop Makanan 2 Siswa, DPRD Pesawaran Ancam Tutup

Rabu, 21 Januari 2026 20:55
    Bagikan  
Kepala SPPG Trimulyo Stop Makanan 2 Siswa, DPRD Pesawaran Ancam Tutup

Wakil Ketua I DPRD Pesawaran M. Nasir sidak dapur SPPG Desa Trimulyo Kecamatan Tegineneng/Foto: Ist

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ---- DPRD Pesawaran merekomendasikan penutupan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Trimulyo Kecamatan Tegineneng kabupaten setempat.

Pasalnya, Kepala SPPG kecamatan setempat Dewi Ratih diduga bersikap arogan dengan menghentikan makan bergizi gratis (MBG) kepada dua siswa madrasah di Kecamatan Tegineneng.

Siswa Madrasah Ibtidaiyah Al Fatah Al, dan adiknya Ar siswa Raudhatul Athfal (RA) Ma' Arif Kecamatan Tegineneng menjadi korban pemutusan MBG lantaran ibu kandung mereka mengkritik kebijakan dapur MBG melalui media sosial dan sempat viral.

Wakil Ketua I DPRD Pesawaran M. Nasir bersama Komisi IV dengan didampingi Camat Tegineneng, Pj Kades Trimulyo, Babinsa, Babinkantibmas serta masyarakat setempat, memastikan laporan masyarakat dengan mendatangi kedua siswa yang tidak menerima MBG tersebut.

"Kami sudah melihat langsung dan memastikan, bahwa adanya pelanggaran yang dilakukan oleh pihak SPPG Trimulyo. Saya kira dari hasil diskusi tadi, antara kami dengan pihak SPPG, pertama memang terjadi diskriminasi oleh SPPG Trimulyo terhadap dua anak itu, karena protes layanan MBG oleh orang tua mereka. Kedua, kami juga melihat ada pembullyan, psikis kedua anak ini jelas terganggu, karena melihat kawan-kawanya dapat MBG, mereka tidak dapat. Dan juga ada intimidasi dari pihak SPPG kepada orang tuanya yang berujung diberhentikannya MBG kedua siswa ini," kata Nasir usai sidak ke dapur SPPG Desa Trimulyo, Rabu (21/1/2026).

Menurutnya, pengelola dapur SPPG Trimulyo dinilai gagal faham dalam menerjemahkan force majeure (keadaan darurat). Dimana, langkah tersebut diambil manajemen SPPG Trimulyo dengan membagikan MBG kering pada masa libur akhir tahun 2025 lalu di dapur SPPG setempat.

"Force majeure itu kalau ada bencana, ini kan hanya pembangunan jalan. Memang gak ada akses lain, sehingga anak-anak penerima manfaat ini harus mengambil MBG ke dapur SPPG. Lalu, adakah kewenangan dapur MBG memberhentikan pembagian MBG?," tanya Nasir.

"Maka kami simpulkan, bahwa dapur MBG ini sudah layak ditutup. Kami minta Badan Gizi Nasional (BGN) mengganti dapur MBG ini dengan dapur MBG yang lain. Kalau tidak, nanti bakal terjadi gejolak, bahkan tadi kita lihat bersama-sama, ada makanan (buah salak) yang busuk. Yang pasti kita akan menindaklanjuti hasil ini dalam rapat bersama dengan pihak lainnya," kata dia.

Ia mengatakan, DPRD Pesawaran bakal menggelar rapat terkait permasalahan ini, nantinya hasil rapat (rekomendasi) bakal diteruskan ke pemerintah daerah setempat, Gubernur Lampung, BGN bahkan akan kita teruskam kepada Presiden RI.

"Ada indikasi kita tembuskan ke APH, karena sudah terjadi diskriminasi, intmidasi dan bullying. Nah ini ranahnya ke APH," tambahnya.

Sementara, Kepala Dapur SPPG Desa Trimulyo Kecamatan Tegineneng Dewi Ratih menyangkal melakukan intimidasi terhadap orang tua (Ibu, red) kedua siswa Al dan Ar lantaran mengkritik pembagian MBG di dapur SPPG di media sosial, meskipun sempat mendatangi kediaman orang tua yang bersangkutan dan sempat terjadi konfrontasi antara keduanya sehingga terjadi pemutusan pemberian MBG kepada keduanya.

"Betul saya datang ke rumah orang tuanya dan menjelaskan aturan terkait pembagian MBG di dapur SPPG, namun ibunya menyatakan bahwa tidak masalah anaknya tidak dapat MBG," kata Ratih.

"Dan menurut aturan, kami bisa memutus MBG siswa bahkan sekolah, dan untuk anak yang dua ini, sebetulnya dapat setiap hari, dan saya ada buktinya. Kan ada anak-anak yang tidak masuk, dan jatah mereka diberikan ke yang bersangkutan," dalihnya.

Menutitnya, terkait kedua siswa ini, Dewi mengaku memberikan sanksi dalam kurun satu periode (satu Minggu) dengan tidak memberikan MBG.

Ia menilai kritikan yang diberikan orang tua Al dan Ar telah merugikan dan merusak nama nama baik SPPG Trimulyo Kecamatan Tegineneng.

"Dalam postingannya kami mendistribusikan MBG sebanyak 1000 porsi, tapi tidak ada keterangan 1000 per hari," ujarnya.

"Padahal, dalam pembagian MBG disini (SPPG, red) kami menyediakan tenda layaknya orang hajatan, sehingga tidak menyusahkan masyarakat," kata dia.

Diketahui, kejadian bermula pada masa libur sekolah akhir Desember 2025 lalu. Pihak SPPG Trimulyo tidak menyalurkan MBG ke tiap sekolah. SPPG Trimulyo mengambil kebijakan sendiri dengan dengan membagikan MBG di dapur SPPG setempat.

Hal ini menimbulkan antrian dan kerumunan massa lantaran tidak terjadwal. Dan menurut keterangan warga, sebagian bahkan tidak kebagian karena jatah MBG habis dan musti kembali esok hari.

Dari kejadian itu, video yang diunggah salah seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah negeri di Kecamatan Tegineneng viral dan membuat pihak SPPG Trimulyo berang.

Setelah ditelusuri pihak SPPG, kepala SPPG mendatangi rumah guru tersebut dan terjadi konfrontasi. Imbasnya, anak guru tersebut yang bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Al Fatah dan di Raudhatul Athfal (RA) Ma' Arif Kecamatan Tegineneng, sejak Jumat 16 Januari lalu hingga hari ini Rabu (21/1/2025) hak makannya dihentikan oleh Kepala SPPG Trimulyo. (Rls/Rama)