LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM --Kabar duka datang dari salah satu simpul penting sejarah pemerintahan Indonesia. Kepergian Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia Jendral TNI (Purn) Try Sutrisno bin Subandi meninggalkan jejak kehilangan yang tak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga oleh generasi yang pernah menyaksikan dan merasakan kiprahnya pada masa transisi politik dan militer nasional.
Suasana haru pun menyelimuti lingkungan pemerintahan dan kalangan militer setelah kabar wafatnya Try Sutrisno pada usia 90 tahun, Senin pagi, sekitar pukul 07.00 WIB. Ia mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta—tempat yang kerap menjadi saksi bisu perjuangan para abdi negara hingga akhir hayatnya.
Berita berpulangnya tokoh yang menjabat Wakil Presiden RI Periode 1993–1998 itu pertama kali beredar melalui pesan berantai yang mengatasnamakan keluarga serta Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Tak lama berselang, kabar tersebut dibenarkan oleh sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Dalam pesan yang beredar, disebutkan bahwa jenazah almarhum akan dimandikan di RSPAD sebelum dibawa ke rumah duka di Jl. Purwakarta No. 6, Menteng, Jakarta Pusat, untuk menjalani prosesi penghormatan terakhir.
Rangkaian Prosesi Persemayaman
Pihak keluarga menyampaikan bahwa jenazah akan disemayamkan di kediaman duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng. Rumah itu menjadi titik pertemuan doa, tempat berkumpulnya kerabat, sahabat, rekan seperjuangan, serta para tokoh bangsa yang hendak melepas kepergian sang jenderal dengan penuh hormat.
Pesan duka yang beredar turut memuat permohonan maaf atas segala khilaf dan kesalahan almarhum semasa hidup, serta doa agar seluruh amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Ungkapan tersebut menghadirkan kesedihan yang bukan semata personal, melainkan juga nasional—seiring panjangnya rekam jejak almarhum sebagai figur publik dan abdi negara.
Almarhum dikenal sebagai perwira tinggi TNI yang menapaki jenjang kepemimpinan dengan disiplin dan keteguhan. Ia kemudian dipercaya mendampingi Presiden pada era Orde Baru, menjadi bagian dari fase penting ketika kepemimpinan militer bertransformasi dan beririsan dengan ranah sipil.
Kini, langkahnya telah berhenti. Namun pengabdiannya tertinggal sebagai jejak—terpatri dalam ingatan sejarah dan doa bangsa yang ditinggalkannya.
Biografi Singkat
Jendral TNI (Purn) Try Sutrisno bin Subandi lahir di Surabaya, Jawa Timur, 15 November 1935. Pendidikan: Lulusan Army Technical Academy (Atekad) – Angkatan Darat Indonesia. Keluarga: Menikah dengan Tuti Sutiawati, dikaruniai tujuh anak.
Karier Militer
Try Sutrisno memulai karier militernya sejak tahun 1959 setelah lulus dari Atekad dan terlibat dalam berbagai operasi militer termasuk penumpasan pemberontakan PRRI pada akhir 1950-an.
Dalam jabatan militer, ia mencapai posisi-posisi penting:
1. Kepala Staf Komando Daerah (seperti Kodam XVI/Udayana dan Kodam IV/Sriwijaya)
2. Panglima Kodam V/Jaya (Jakarta)
Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad)
3. Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad)
Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pangab/TNI) dari 1988 hingga 1993, di puncak kariernya sebagai Jenderal TNI.
Selama masa pangab, ABRI (yang mencakup TNI AD, AL, AU, dan Polri) menghadapi sejumlah tantangan keamanan termasuk konflik di Aceh dan peristiwa yang dikaitkan dengan insiden bersenjata di beberapa wilayah Indonesia.
Karier Politik
1. Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6: Menjabat periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto. Ia dipilih melalui Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Masa jabatannya sebagai wakil presiden jatuh di akhir era Orde Baru yang penuh gejolak politik dan ekonomi, menjelang reformasi 1998.
Citra dan Penghargaan
Di masyarakat, Try dikenal sebagai sosok militer yang setia, sederhana, dan memiliki pengalaman panjang di bidang keamanan negara. Ia juga pernah memimpin organisasi Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) setelah pensiun dari jabatan kenegaraan.
Catatan
Try Sutrisno adalah salah satu tokoh militer Indonesia yang berpengaruh di era Orde Baru, baik dalam struktur militer maupun pemerintahan negara. (HBM)
