Helo Indonesia

Gandeng Kampus Turki, Tim Peneliti Undip Rancang Model Matematika untuk Ramal Kebijakan Bank

1 jam 11 menit lalu
    Bagikan  
Gandeng Kampus Turki, Tim Peneliti Undip Rancang Model Matematika untuk Ramal Kebijakan Bank

Moch. Fandi Ansori dari FSM Undip yang bersama tim mengembangkan matematika mutakhir yang mampu meramal perkreditan di bank

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Kabar membanggakan datang dari dunia akademik Tanah Air. Tim peneliti dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, berkolaborasi dengan Zonguldak Bülent Ecevit University, Turki, sukses mengembangkan model matematika mutakhir yang mampu meramal dinamika simpanan dan kredit perbankan di Indonesia.

Hebatnya lagi, model ini memiliki tingkat kesalahan (MAPE) di bawah 1 persen. Artinya, formula ini sangat akurat dalam menakar dampak dari kebijakan regulator seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Riset inovatif yang dipimpin oleh Dr Moch Fandi Ansori SSi MSi dari Departemen Matematika Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip ini telah resmi dipublikasikan pada Juli 2026 di jurnal internasional bergengsi, International Journal of Financial Studies.


Dr Fandi menawarkan pendekatan baru dalam memahami hubungan antara likuiditas bank, kepercayaan nasabah, dan penyaluran kredit. Berbeda dari model-model sebelumnya yang menganggap tingkat penarikan dana nasabah sebagai angka tetap, model ini mengasumsikan bahwa penarikan dana dipengaruhi oleh kondisi likuiditas bank.

Baca juga: Luis Figo Nilai Prancis Paling Berpeluang Menjuarai Piala Dunia 2026

"Ketika bank memiliki aset likuid yang memadai, kepercayaan nasabah meningkat sehingga tekanan penarikan dana berkurang. Di sisi lain, likuiditas yang sama juga menjadi bahan bakar bagi pertumbuhan kredit. Model kami menangkap dualitas peran likuiditas ini secara matematis," demikian inti gagasan yang diangkat tim peneliti dalam publikasinya. Asumsi tersebut terinspirasi dari kerangka teori klasik bank run Diamond–Dybvig yang telah diganjar Hadiah Nobel Ekonomi.

Diuji dengan Data Perbankan Nasional

Yang membuat riset ini menonjol adalah pengujiannya terhadap data riil. Tim peneliti mengkalibrasi model menggunakan data bulanan bank umum Indonesia dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode Oktober 2021 hingga Juni 2025, mencakup dana pihak ketiga, kredit, ekuitas, dan rasio kredit bermasalah (NPL).

Sejumlah parameter model diambil langsung dari ketentuan regulator yang berlaku, seperti giro wajib minimum 9 persen sesuai peraturan Bank Indonesia dan rasio kecukupan modal minimum 8 persen sesuai peraturan OJK. Parameter lainnya diestimasi menggunakan algoritma kecerdasan komputasi particle swarm optimization (PSO).

Hasilnya, model mampu mencocokkan dan meramalkan data dengan tingkat kesalahan (MAPE) di bawah satu persen, sedikit lebih akurat dibandingkan model pembanding yang tidak memperhitungkan efek likuiditas terhadap perilaku penarikan dana.


Salah satu temuan menarik muncul dari analisis sensitivitas kebijakan. Kenaikan giro wajib minimum terbukti menekan penyaluran kredit karena semakin banyak dana yang harus diparkir sebagai cadangan dan tidak dapat dipinjamkan. Sebaliknya, dalam kerangka model ini, kenaikan rasio kecukupan modal justru mendorong ekspansi kredit karena memperbesar likuiditas yang tersedia.

Tim peneliti memberi catatan penting atas temuan kedua tersebut. Dalam literatur empiris perbankan, syarat modal yang lebih ketat umumnya justru mengurangi penyaluran kredit. Karena itu, efek positif yang muncul dalam model ini harus dibaca sebagai "saluran kepercayaan likuiditas" yang spesifik pada kerangka yang mereka bangun, bukan kesimpulan universal tentang dampak regulasi permodalan.

Penelitian ini tidak berhenti pada peramalan. Melalui pendekatan kontrol optimal berbasis Prinsip Maksimum Pontryagin, tim merumuskan bagaimana regulator dapat mengatur giro wajib minimum dan rasio kecukupan modal secara dinamis dari waktu ke waktu untuk menjaga rasio kredit terhadap simpanan (loan-to-deposit ratio/LDR) dan rasio likuiditas tetap berada di kisaran target.

Dengan target LDR 84–94 persen sebagaimana ketentuan Bank Indonesia, simulasi menunjukkan kebijakan optimal mengarahkan giro wajib minimum menuju sekitar 11,7 persen dan rasio kecukupan modal sekitar 5,6 persen. Hasilnya, LDR bergerak jauh lebih dekat ke target dibandingkan skenario tanpa intervensi, dengan biaya kebijakan yang tergolong wajar.

Baca juga: Lampung Jadi Pangkalan Kapal Induk Pertama Indonesia: Giuseppe Garibaldi

Tim juga memperluas model ke versi stokastik yang memperhitungkan guncangan acak pada penarikan dana dan kredit bermasalah. Simulasi 200 lintasan menunjukkan bahwa meskipun sistem menjadi lebih fluktuatif dan ketidakpastian membesar seiring waktu, rata-rata pergerakannya tetap konsisten dengan model deterministik — pertanda sistem perbankan dalam model ini cukup tangguh terhadap gejolak berskala moderat.

Alat Bantu bagi Bank dan Regulator

Para peneliti berharap model ini dapat menjadi alat bantu kuantitatif bagi regulator maupun manajemen bank dalam mengevaluasi konsekuensi perubahan kebijakan, merancang strategi yang menyeimbangkan ekspansi kredit dengan ketahanan likuiditas, serta menilai kinerja perbankan dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti.


Kendati demikian, tim mengakui adanya keterbatasan.

Model saat ini mengasumsikan ekuitas bank sebagai proporsi tetap dari kredit, sehingga belum menangkap dinamika permodalan akibat laba ditahan, kerugian, dividen, maupun suntikan modal. Pengembangan selanjutnya diarahkan pada pemodelan ekuitas sebagai variabel dinamis, model antarbank, hingga integrasi variabel makroekonomi dan risiko sistemik.

Penelitian ini didanai melalui hibah "Riset Kompetisi FSM Undip 2026" dari FSM Undip. Selain Ansori, tim peneliti beranggotakan Dr Fatma Hilal Gümüş (Zonguldak Bülent Ecevit University), serta Ratna Herdiana MSc PhD, Hafidh Khoerul Fata, MSi, Nurcahya Yulian Ashar SSi MSc, dan Handika Lintang Saputra MMat dari Undip. (Aji)