Helo Indonesia

TPS Beringin Jaya Kemiling Overload, Warga Keluhkan Bau hingga Ancaman Banjir

1 jam 10 menit lalu
    Bagikan  
TPS Beringin Jaya Kemiling Overload, Warga Keluhkan Bau hingga Ancaman Banjir

Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Beringin Jaya di Kecamatan Kemiling,

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM---- Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Beringin Jaya di Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, dilaporkan mengalami kelebihan muatan (overload) yang menimbulkan bau menyengat hingga menyebar ke permukiman, area pedagang, dan lapangan olahraga di sekitarnya.

Kondisi ini terungkap dari hasil pengumpulan data yang dilakukan sekelompok mahasiswa pada Juni 2026 melalui studi literatur, wawancara warga, dan observasi langsung di lokasi.

Berdasarkan data literatur, timbulan sampah di Kelurahan Beringin Jaya diperkirakan mencapai 7.040 kilogram per hari. Namun di lapangan, tim menemukan kontainer TPS dinilai kurang memadai untuk menampung volume sampah warga, sehingga sampah kerap meluber ke luar area TPS.

Warga sekitar menyebutkan penumpukan sampah bukan semata soal ukuran bak yang kecil, melainkan karena truk pengangkut menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bakung kerap terlambat datang. Jika armada mengalami kerusakan, sampah bisa menumpuk selama dua hingga tiga hari.

Jadwal Pengangkutan Jadi Sorotan
Data literatur mencatat pengangkutan sampah semestinya dilakukan dua hingga tiga kali sehari. Di lapangan, sebagian warga menilai armada sudah cukup rutin beroperasi, kendati sesekali terlambat. Namun pedagang di sekitar TPS punya kesan berbeda, mereka mengaku truk pengangkut nyaris tidak pernah terlihat pada siang hari, sehingga menduga pengangkutan baru dilakukan pada malam hari.

Tim peneliti mencatat, meski frekuensi pengangkutan dinilai sudah rutin, penumpukan sampah berlebih tetap terjadi. Temuan ini mengindikasikan masalah bukan sekadar soal jadwal, melainkan kapasitas angkut per ritasi yang tidak sebanding dengan volume sampah yang terus bertambah.

Pemilahan Sampah Belum Berjalan
Hasil wawancara dan observasi sama-sama menemukan bahwa praktik pemilahan sampah di tingkat rumah tangga di Beringin Jaya belum berjalan. Sampah organik dan anorganik masih tercampur dalam satu kantong plastik, dan baru dipilah oleh petugas setelah tiba di TPS, dengan sebagian sampah organik berakhir dibakar.

Kondisi ini diperparah oleh nasib Bank Sampah Beringin Jaya, yang fasilitas fisiknya sudah berdiri sejak 2019 namun belum beroperasi maksimal akibat keterbatasan modal dan lemahnya koordinasi antarpihak. Bank sampah yang berlokasi di sebelah TPS itu bahkan disebut lebih sering mengambil komoditas bernilai jual dari luar wilayah, ketimbang mengelola sampah warga setempat.

Warga Keluhkan Bau hingga Risiko Banjir
Warga melaporkan bau menyengat dari TPS tercium hingga radius sekitar seratus meter saat musim hujan atau saat sampah menumpuk. Aktivitas pembakaran sampah tanpa pemilahan turut menghasilkan asap yang dikhawatirkan mengandung zat berbahaya. Warga juga mengeluhkan aliran air lindi yang bercampur luapan sungai saat hujan deras, yang dikhawatirkan memperparah risiko banjir di kawasan tersebut.

Tim peneliti menekankan bahwa klaim-klaim warga soal radius bau dan kandungan asap tersebut masih bersifat persepsi dan perlu diverifikasi dengan instrumen pengukuran, karena observasi lapangan yang dilakukan tim hanya mampu mendeskripsikan bau secara kualitatif.

Rekomendasi Perbaikan merujuk Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, tim merekomendasikan sejumlah langkah perbaikan, di antaranya penguatan edukasi pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga, perbaikan manajemen armada dan jadwal pengangkutan, revitalisasi kelembagaan Bank Sampah sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012, peningkatan koordinasi lintas pihak antara pengelola TPS, Bank Sampah, Dinas Lingkungan Hidup, dan aparat kelurahan, serta pemantauan kuantitatif berkala terhadap kapasitas riil TPS dan kualitas udara.

“Temuan di lapangan menunjukkan cukup banyak kesenjangan dibanding data literatur, sehingga diperlukan pembaruan data serta verifikasi berkala agar kebijakan yang diambil benar-benar berbasis kondisi riil,” demikian salah satu kesimpulan yang digarisbawahi dalam laporan tim.( rls/ elh)