Helo Indonesia

Kisah Sindhu Laras Bocah: Garda Pelestari Budaya Lewat Karawitan dan Lakon Pedalangan

1 jam 23 menit lalu
    Bagikan  
Kisah Sindhu Laras Bocah: Garda Pelestari Budaya Lewat Karawitan dan Lakon Pedalangan

Aksi anggota Sindhu Laras Bocah saat memainkan karawita dan lakon pedalangan di TBRS Semarang

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Di tengah gempuran teknologi dan lekatnya keseharian anak-anak dengan layar telepon seluler, panggung budaya justru menjadi ruang hangat bagi generasi muda Semarang untuk kembali menyentuh akar tradisinya.

Mereka, anak-anak dari Sanggar Seni Sindhu Laras Bocah  Semarang dengan penuh percaya diri tampil memukul gamelan, menabuh karawitan, hingga memainkan lakon pedalangan. Penampilan ini sekaligus membuktikan bahwa budaya Jawa masih memiliki tempat yang istimewa di hati generasi penerus.

sindu2

Semangat menyala itu terlihat nyata dalam Pagelaran Karawitan dan Pedalangan Sindhu Laras Bocah yang dihelat di Gedung Sri Budoyo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu 5 September 2026.

Ketua Sindhu Laras Bocah, Dananjaya Gesit, mengatakan pagelaran tersebut merupakan bagian dari upaya nguri-uri  (melestarikan) budaya Jawa sejak usia dini.

Menurut dia, pengenalan budaya kepada anak-anak menjadi semakin penting di tengah derasnya perkembangan teknologi. Ketergantungan terhadap telepon seluler, kata dia, perlu diimbangi dengan kegiatan yang mendorong kreativitas, interaksi sosial, dan pembentukan karakter.

“Tujuan kami nguri-uri budaya Jawa sejak dini. Anak-anak sekarang sangat dekat dengan handphone. Kami ingin memberikan kegiatan yang positif supaya mereka tidak terlalu larut dalam pengaruh negatif handphone,” katanya.

Proses Belajar

Dananjaya menegaskan, karawitan dan pedalangan bukan sekadar aktivitas kesenian. Di dalam proses belajar tersebut, anak-anak ditempa untuk disiplin, bekerja sama, berani tampil di depan orang lain, serta memahami sopan santun dan nilai-nilai kehidupan dalam budaya Jawa.

“Kalau budaya sudah dikenalkan sejak dini, harapannya generasi muda ke depan menjadi lebih bagus. Mereka bisa mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, tetapi tetap punya pegangan budaya dan karakter,” ujarnya.

Baca juga: Buka Masta 2026, Unimus Gandeng KP2MI Hadirkan Migrant Center untuk Perluas Karier Global

Ia menyebut pelestarian budaya tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses panjang dan pengalaman langsung agar anak-anak tidak sekadar mengetahui budaya Jawa, tetapi tumbuh dengan rasa memiliki terhadap warisan tersebut.

Hal itu terlihat dari penampilan anak-anak Sindhu Laras Bocah di atas panggung. Dengan penuh percaya diri, mereka memainkan karawitan dan pedalangan di hadapan masyarakat.

Panggung tersebut sekaligus menjadi ruang belajar. Anak-anak berinteraksi, bekerja bersama, mengasah keberanian, dan mengekspresikan kreativitas melalui kesenian tradisional.

Bagi Sindhu Laras Bocah, teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi. Namun, anak-anak perlu memiliki ruang yang seimbang agar kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan kecintaan terhadap budaya.

Pagelaran tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin.

Kehadiran orang nomor dua di Kota Semarang itu menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap anak-anak yang sejak dini telah terlibat langsung dalam seni tradisional Jawa. Mereka tidak hanya belajar memainkan gamelan atau mendalami pedalangan, tetapi juga diperkenalkan pada nilai-nilai budaya yang membentuk karakter.

“Terima kasih kepada Sindhu Laras Bocah. Kami sangat mengapresiasi anak-anak yang hari ini tampil dan ikut menjaga budaya kita. Ini yang membuat kita senang karena melihat generasi emas yang sangat berbakat sekaligus memiliki kepedulian terhadap budaya,” ujar Iswar.

Menurutnya, perkembangan zaman tidak seharusnya membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya. Anak-anak perlu tumbuh sebagai generasi yang mampu beradaptasi dengan kemajuan, namun tetap mengenal identitas dan nilai-nilai daerahnya.

“Cita-cita kita adalah menjadikan anak-anak ini sebagai generasi yang maju. Maju boleh, modern harus, tetapi jangan sampai melupakan budaya. Jaga kesehatan, terus belajar dan berkarya, serta bawa nama baik Kota Semarang di mana pun berada,” pesannya.

Dari panggung sederhana itu, pesan yang lebih besar pun muncul yakni, melestarikan budaya tidak harus menunggu generasi dewasa.

Justru sejak anak-anak mengenal gamelan, pedalangan, unggah-ungguh, dan nilai kebersamaan, sejak saat itu pula estafet budaya mulai diserahkan kepada generasi berikutnya.

Karawitan dan pedalangan pun tak lagi sekadar kesenian masa lalu. Di tangan anak-anak Semarang, keduanya menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan akar budaya Jawa dengan masa depan. (Aji)