SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Kelegaan mendalam tengah dirasakan oleh Dr Supriyatno SE MBA. Mantan Direktur Utama Bank Jateng ini semakin tenang setelah Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia secara resmi menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/ Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Surakarta.
Kepastian hukum tersebut tertuang dalam Amar Putusan MA RI Nomor 9175 K/Pid.Sus/2026 yang bertanggal 16 September 2026 dan diunggah secara resmi oleh MA RI pada 24 September 2026.
Pemberitahuan petikan putusan ini disampaikan langsung oleh Jurusita Pengganti Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Ambar Setyowati, atas perintah Hakim Ketua dalam perkara Tipikor Nomor 168/Pid.Sus TPK/2025/PN Smg melalui relaas resmi pada Kamis, 24 September 2026. Putusan ini sekaligus mengukuhkan vonis bebas yang sebelumnya telah diterima oleh Supriyatno.
Baca juga: Jenuh Makan Nasi Lauknya itu-itu saja, Mix Platter jadi Menu Pilihan Pengganti Karbohidrat
Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral sekaligus memulihkan harkat dan martabat di tempatnya dulu mengabdi, Supriyatno melangkahkan kaki kembali ke Gedung Griya Bina Artha (Grinatha) atau Kantor Pusat Bank Jateng di Jalan Pemuda, Semarang, pada Selasa, 29 September 2026.
Datang dari Sleman, pria yang akrab disapa Nano ini tiba di gedung tersebut pukul 11.45 WIB dan menghabiskan waktu sekitar dua setengah jam dalam suasana yang akrab sebelum keluar pukul 14.15 WIB diantar oleh para kolega serta sahabat.
Kedatangan sang mantan nakhoda disambut hangat oleh Direktur Kepatuhan & Manajemen Risiko Bank Jateng, Erik Abibon, serta Direktur Utama PT Grinatha (perusahaan afiliasi/pengelola gedung Bank Jateng), Sulistiyono, beserta jajaran. Suasana pertemuan berlangsung cair dan penuh kekeluargaan. Kedua belah pihak saling menguatkan dan membesarkan hati.
Baca juga: Gubernur Luthfi Apresiasi 2.348 Pendonor Darah Jateng: Ini Bentuk Amal Nyata
Di hadapan jajaran manajemen, peraih penghargaan bergengsi seperti Top 100 CEO of The Year, Top Regional Banker, dan The Best Indonesia Leaders ini menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan organisasi (sustainability). Bagi Nano, pencapaian sebuah lembaga perbankan tidak bisa dinilai secara parsial per periode kepengurusan, melainkan sebagai sebuah satu kesatuan prestasi sejak awal berdiri hingga hari ini.
"Bank Jateng kan tidak bisa kita melihatnya secara per periode, tapi kelangsungan organisasi sejak Bank Jateng lahir hingga sekarang, itulah yang satu kesatuan prestasi. Dan itulah yang harus diutamakan dan dijaga dibanding lainnya," ujar Nano.
Dia juga berpesan kepada Erik Abibon agar manajemen yang baik senantiasa dibuktikan dan dijaga kualitasnya ke depan, dengan tetap memperhitungkan risiko secara cermat dalam setiap langkah profesional.
Hobi Menulis
Di tengah kesibukannya saat ini, Supriyatno mendedikasikan waktunya untuk menulis. Dia merasa hidup dan dinamis jika menulis. Mengutip perkataan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer bahwa "Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian," dia membagikan buku-buku karyanya kepada para koleganya tersebut.
Buku-buku tersebut merekam perjuangannya selama menjalani proses hukum di Pengadilan Tipikor hingga divonis bebas. Buku itu di antaranya berjudul Menjemput Keadilan, Refleksi atas Polemik Kriminalisasi Kebijakan pada Industri Perbankan serta Jangan Jadi Orang (Terlalu) Baik, Mengapa Integritas Lebih Penting Daripada Disukai yang disunting oleh Amir Machmud NS dan Ade Oesman.
Menurut Supriyatno, karya-karyanya mengupas praktik bisnis Bank Jateng yang selalu menjunjung tinggi prinsip kesehatan dan integritas, serta mengulas berbagai keputusan strategis masa lalu, mulai dari transformasi digital, modernisasi layanan, strategi penyelamatan bank, hingga kiat menghadapi dilema dalam mengelola dana masyarakat.
"Menjemput Keadilan adalah kesaksian secara ilmiah yang bisa menjadi referensi hidup bagi bankir bahwa di antara tugas-tugas kita, kadang hal yang tidak diharapkan bisa terjadi. Namun, selama kita menjaga moralitas, integritas, dan menjalankan kebiasaan baik, kita bisa mempertanggungjawabkannya," terang Nano.
Baca juga: Peminat Membeludak, Pascasarjana USM Sambut 285 Mahasiswa Baru dengan Capaian Tembus 130 Persen
Melalui buku Jangan Jadi Orang (Terlalu) Baik, ia juga menitipkan pesan mendalam bahwa ketika kebaikan diuji, ketegasan untuk mengatakan "Tidak" pada hal yang melanggar prinsip adalah sebuah keharusan. "Tanggung jawab harus didahulukan ketimbang hubungan personal," pungkasnya.
Kunjungan hari ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sebuah pembuktian nyata bahwa apa yang telah dia jalankan selama memimpin Bank Jateng berada di jalur yang benar, bersih, dan berintegritas tinggi.
Sementara itu, Dirut PT Grinatha Sulistiyono mengaku sangat senang bisa kembai bertatap muka dengan Supriyatno, sosok yang selama ini dia anggap sebagai guru sekaligus praktisi perbankan yang luar biasa.
Sulistiyono juga menyampaikan apresiasi mendalam atas buku-buku yang dihadiahkan oleh Supriyatno. Menurutnya, karya-karya tersebut akan menjadi referensi berharga yang memperkaya khazanah pemikiran tentang kepemimpinan serta ketepatan sikap dalam mengambil keputusan strategis di sektor keuangan.
"Dari sini, saya akan belajar betapa pentingnya menjaga integritas, memegang teguh regulasi demi menjaga kepercayaan publik," ungkap Sulistiyono. (Aji)
