Helo Indonesia

Seminar Kebangsaan di UIN Sunan Kalijaga, Benny Ajak Gen Z Gunakan Pilihan secara Rasional pada Pemilu 2024

Jumat, 7 Juli 2023 21:06
    Bagikan  
Seminar Kebangsaan di UIN Sunan Kalijaga, Benny Ajak Gen Z Gunakan Pilihan secara Rasional pada Pemilu 2024

Antonius Benny Susetyo saat menjadi narasumber pada Seminar Kebangsaan di UIN Sunan Kalijaga

YOGYAKARTA, HELOINDONESIA.COM - Gemericik jelang pesta demokrasi dalam bentuk Pemilihan Umum (Pemilu) sudah terasa menghangat. Partai-partai dan para calon pemimpin bangsa ini muncul kepermukaan.

Namun, pesta lima tahunan ini sejatinya harus tetap mengedepankan penghayatan atas nilai-nilai Pancasila, karena di atas hiruk-pikuk politik adalah kemanusiaan. Pemilu harus melahirkan rasa keadilan dan prosesnya harus berjalan di atas jiwa bangsa yang beradab.

Baca juga: Merespon Cepat Laporan Masyarakat, Pemkot Semarang Bersihkan Timbunan Sampah

Bertolak dari hal itu, Institute of Southeast Asian Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Fakultas Ilmu sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyelenggarakan Seminar Kebangsaan Bertajuk “Pemilu untuk Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” di kampus setempat, Yogyakarta, Jumat 7 Juli 2023.

Seminar ini mengundang Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo sebagai pembicara dan para civitas akademika UIN serta tamu dari UIN Sunan Kudus sebagai peserta.

Dalam pembukaannya, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Dr. Mochamad Sodik SSos MSi menyatakan, sebagai miniatur Indonesia, UIN Sunan Kalijaga selalu menjaga komitmen dalam menjaga keragaman dengan berbagai macam latar belakang dalam tiap unsur pendidikan.

Diharapkan dengan potensi keberagaman tersebut kampus ini selalu dapat menjadi ruang terbuka yang nyaman dan aman untuk setiap unsur di internal dalam berbagi sudut pandang dan berdialektika.

benny2
Terkait dengan tema Seminar Kebangsaan, Sodik menyatakan bahwa adil merupakan kata yang paling banyak tertulis di dalam naskah pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Hal ini mungkin terjadi karena para Founding Fathers kita sadar, adil merupakan hal dan cita - cita yang luhur namun dalam kenyataan kehidupan sehari - hari merupakan hal yang paling sulit diwujudkan.

''Karena hal tersebutlah, UIN Sunan Kalijaga selalu menjaga komitmen dalam menjadi Kawah Candradimuka dan menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk benar benar dapat merefleksikan keadilan, kemanusiaan dan keberagaman,'' bebernya.

Baca juga: 20 Tahun Mengabdi, Agus Hariyanto Akhirnya Terima SK Pengangkatan PPPK Bersama 609 Guru Lainnya di Kendal

Dia menyatakan bahwa perlu sinergi dari berbagai kelompok untuk menjamin dan mengedepankan kemanusiaan dan keadilan. Karenanya kita harus dan wajib meneruskan cita - cita para pendiri bangsa untuk terus menjaga keadilan, kemanusiaan dan keberagaman yang terangkum dalam Pancasila.

''Bersama BPIP diharapkan selalu terjalin sinergi yang kuat terkait pembumian Pancasila karena bersama BPIP, kami, masyarakat dapat belajar mengenai kemanusiaan dan kepancasilaan sehingga kita belajar mengenai kehidupan, keberadilan dan keberadaban yang terangkum dalam Pancasila,'' tegasnya.

Pemilih Potensial

Dalam kesempatan itu, Stafsus Ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo menyatakan, Pemilu sebagai sarana demokrasi yang ideal dan benar - benar adil adalah suatu hal yang utopis.

Pasalnya, kata dia, di lapangan kita menghadapi kenyataan bahwa ongkos pemilu yang mahal menjadikan hal yang seharusnya menjadi perayaan dan penghormatan terhadap demokrasi ini menjadi hal yang penuh intrik, dinamika dan transaksi.
Lanjut dia, pada akhirnya kita harus kembali pada pandangan Romo Magnis tentang Minus Mallum atau Lesser Evil yang menyatakan bahwa kita harus memilih mereka yang dosanya paling sedikit.

Baca juga: Puluhan Ribu Emak Jatim Titipkan Sembilan Mandat ke Ganjar, Apa Saja Isinya?

''Karenanya sebelum pemilu, kita sudah harus mulai bisa memperhatikan para calon pemimpin dengan melihat rekam jejak, kestabilan psikologis dan kemampuan mereka dalam berdiri bersama rakyat dan pemilih, kita harus bisa melihat pemimpin mana yang memiliki keutamaan yaitu mereka yang menghormati keberagaman, hak asasi manusia dan peduli pada mereka yang terpinggirkan,'' terangnya.

Ditambahkan Doktor Komunikasi Politik itu, para pemilih potensial dalam Pemilu 2024 nanti adalah generasi Z (Gen Z). Maka dari itu, kita bersama harus bisa mengajak dan membawa mereka untuk dapat memilih secara rasional dan tidak terjebak memilih atas dasar afeksi, politik identitas dan romantisme masa lalu yang digunakan pihak pihak yang tidak bertanggung jawab untuk meraih kekuasaan.

''Masyarakat khususnya para Gen Z sadar bahwa martabat tidak bisa direduksi dengan uang dan Identitas , dan menjadi bermartabat berarti mereka benar - benar bisa memilih atas dasar pikiran sehat ,dan terhormat,'' tambah staf khusus yang bekerja di badan yang dikepalai Profesor Yudian Wahyudi itu.

Dalam kesempatan tersebut, Benny juga menyatakan sebagai agen perubahan kiranya para peserta Seminar Kebangsaan ini dapat memberikan contoh dan edukasi politik kepada masyarakat di sekitarnya.

Para peserta seminar dapat memberikan informasi kepada masyarakat bagaimana cara memilih pemimpin, misalnya dengan metode analisis kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) pada setiap calon calon pemimpin yang akan dipilih hingga benar benar didapatkan pemimpin yang benar - benar efektif dan mampu bekerja sesuai ekspektasi masyarakat. (Aji)