Oleh Herman Batin Mangku*
LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- DI Bawah rumah kayu panggung, saya bertemu Umar Ahmad dalam acara pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung di Kabupaten Tulangbawang Barat, Rabu (12/4/2023).
Usai pembukaan acara, teman-teman JMSI langsung "menodong" saya memandu penyampaian materi oleh Mantan Bupati Tulangbawang Barat (Tubaba) Umar Ahmad tentang "Diskusi Model Pembangunan Tulangbawang Barat".
Spontan saja, saya bertanya dua hal yang barangkali pertanyaan banyak orang pula, yakni:
(1). Bagaimana dirinya membangun kabupaten di tengah ribuan hektare kebun karet ini dengan penuh karakter, kembali ke nilai-nilai lokal dalam wujud banyak bangunan dan jiwa masyarakatnya yang kemudian jadi destinasi dan investasi.
(2). Apa alasannya bersedia menjadi Dewan Pakar JMSI Tubaba.
Umar Ahmad mengatakan pernah ditanya pula oleh koleganya, M. Ridho Ficardo ketika masih menjabat gubernur Lampung, kenapa dirinya membangunan Tubaba dari "nilai". Alasan M. Ridho, pemerintahkan tugasnya mensejahterakan rakya yang barangkali terangkum dalam sandang pangan.
Pertanyaan tersebut tak langsung dijawabnya. Umar balik bertanya lebih dulu: apakah yang dijanjikan dalam kampanye dan kemudian dituangkan dalam visi dan misi pembangunan setiap pergantian pemimpin kemudian telah mensejahterakan rakyat?
Menurut Umar, nilai itu penting, seperti yang dilakukannya di Tubaba, bagaimana dirinya membangun fisik berawal dari pembangunan nilai. Saya berusaha memahaminya, mungkin seperti lagu "Indonesia Raya": bangunlah jiwanya barulah bangunlah badannya.
Umar mengatakan Tulangbawang Barat atau Tubaba itu bukan hanya wilayah, tapi suatu nilai. Dicontohkannya, di Yogjakarta, hal-hal yang sepantasnya, hal-hal yang sebaiknya disebut seyogjanya. Kebaikan-kebaikan itu, nilai-nilai itu melekat pada karakter masyarakat daerah istimewa tersebut.
Demikian pula Tubaba, bukan hanya sekadar nama tempat, wilayah, tapi sebuah nilai, filosofis, way of life, masyarakat yang memiliki prinsip hidup Nenemo (nemen, nedes, nerimo).
Prinsip hidup bagi masyarakat Tubaba yang diambil dari falsafah budaya setempat, yakni nemen (kerja keras), nedes (tahan banting), nerimo (ikhlas menerima yang diberikan Tuhan).
Nilai-nilai kebaikan langit yang dibumikan dan masuk dalam diri pribadi untuk bersama "Pulang ke Masa Depan". Silahkan siapa pun masuk ke Tubaba, katanya, yang penting membawa nilai-nilai kebaikan.
"Ditubabakan," tandas Umar Ahmad pada acara yang dihadiri Ketum JMSI Pusat Teguh Santosa, Kadiskominfotik Ganjar Jationo, jajaran Pemkab Tubaba, serta pengurus JMSI kabupaten/kota di Lampung.
Dari nilai-nilai tersebut, dia membangun Tubaba dari nol, dari kabupaten yang dikepung ribuan hektare pohon karet dan bukan daerah perlintasan, selama tujuh tahun. Hasilnya, banyak "legacy" yang ditinggalkannya berupa nilai-nilai dan pembangunan fisik yang menjadi ikon magnet banyak orang berinvestasi dan menengok kabupaten ini.
Ada yang patut dicermati, Umar yang selama ini membatasi diri fokus pada tanggungjawabnya membangun Tubaba, di forum JMSI Lampung, nyerempet ke visi pembangunan Provinsi Lampung. Hal yang selama jadi bupati terkesan paling dihindarinya.
"Lampung itu tidak hanya sekadar wilayah, tempat, tapi nilai," ujar Mantan Bupati Tulangbawang Barat (Tubaba) yang berhasil meninggalkan banyak "legacy" di kabupatennya, mulai dari beberapa bangunan fisik hingga jiwa "Nanemo" masyarakatnya.
Nilai-nilai ini, katanya, yang harus dikembalikan lagi menjadi pegangan, prinsip, nilai-nilai masyarakat Lampung, termasuk dalam membangun agar selaras dengan filosofi masyarakat Lampung "Piil Pasenggiri".
"Siapa pun itu, asalnya dari mana, masyarakat Lampung harus memegang prinsip kelampungan, piil pasenggiri yang terurai dalam empat prinsip: Juluk Adek, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan," katanya.
Walau selintas, jarang tokoh satu ini nyerempet ke visi pembangunan Provinsi Lampung. "Lampung bukan sekadar nama tempat, wilayah, tapi merupakan suatu nilai," tandasnya dengan intonasi, emosi, dan narasi terjaga.
Saya sedikit terkejut Umar nyerempet ke bagaimana seharusnya membangun Lampung yang barangkali saat ini, karena heterogennya, bahasanya pun bahasa Indonesia, mulai terkoyak nilai-nilai filosofinya sehingga berpengaruh pada visi dan misi pembangunannya.
Ternyata, tak hanya saya yang jadi berpikir "senggolannya" ini terkait dengan Pemilu 2024. Di antara peserta rakerda, muncul pertanyaan yang cenderung minta kepastian Umar untuk mencalonkan diri menjadi gubernur Lampung.
Lagi-lagi, dengan intonasi, emosi, dan narasi terjaga, Umar menjawab: Sekarang, saya sudah menjadi pengangguran, ke depan, banyak pilihan, legislatif dari tingkat daerah hingga posisi-posisi lain untuk berbuat bagi masyarakat.
Yang pasti, katanya, dirinya masih terus menggali dan mengembalikan nilai-nilai yang telah diwariskan sejak nenek moyang namun sudah "hilang" tergerus masa. Walau tak jadi bupati lagi, kecintaannya membangun nilai-nilai bersama masyarakat terus berproses.
Dia sedang menggali nilai-nilai kebiasaan orang Lampung menyebut keburukan. Dalam tradisi Lampung dikenal beberapa makhluk mitos, duguk, ta?un, kughis (kuris), cut bacut, sang gasey, bumbung tekeyung. Semua perangai makhluk ini buruk, rakus, tamak, suka ambil hak orang lain, kata Umar.
Makhluk ini biasanya dipakai untuk menghukum manusia yang berperangai buruk, bila dia rakus disebut duguk, tamak disebut cut bacut- untuk mengajarkan kebaikan dengan menyebut keburukan, kalau ga mau di sebut cut bacut ya jangan tamak. Kalau sebaliknya di Lampung ga ada sebutan, karna kebaikan itu kewajiban
Makanya, di Era Milenial, bunian lahir untuk sebutan orang yang telah berbuat baik, suka menjaga alam (merawat pohon, menjaga sumber air, tidak membuang sampah sembarangan)?namanya bunian, ujarnya.
Banyak yang diuraikannya terkait visi dan misinya. Yang pasti, katanya, dalam perjalanan "Pulang ke Masa Depan" itu, dia berusaha mengajak banyak orang untuk bersama-sama, termasuk JMSI. Ini jawabannya, kenapa Umar bersedia menjadi Dewan Pakar JMSI Tubaba.
Pikiran saya dan mungkin semua yang hadir masih menggarisbawahi dua kalimat, yakni" pulang ke masa depan" dan "mengajak bersama-sama"dalam satu frekuensi pikiran, satu visi dan misi membangun jiwa dan badan untuk Sang Bumi Ruwa Jurai?
Walau berseliweran informasi, saya tahu diri untuk menebak-nebak dan tak berkompeten menjawab apakah ulasan Umar tentang Lampung kode santun mulai mengajak bersama menuju Pemilu 2024? Ajakan halus yang tidak seheboh polemik Tik Tok @awbimaxreborn yang lagi gaduh saat ini.
Tabik puuun
* Pengurus Pusat JMSI
* Pimred Helo Indonesia Lampung