LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Petani menjerit harga singkong anjlok, warisan pekerjaan rumah (PR) pertama pascaterpilihnya Mirza-Jihan yang tinggal sekitar dua bulan lagi dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur Lampung, kata Gino Vanollie.
Kepala Sekretariat DPD RI Lampung yang juga aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan mengharapkan gubernur yang baru dapat mengatasi permasalahan pertamanya. "RMD mesti menjadi yang terdepan dalam mensejahterakan petani," harapnya.
"Kumpulkan semua perusahaan, hitung bersama, diskusi, cari solusi terbaik: petani untung, pengusaha untung, pemerintah yang menetapkan harga sesuai kesepakatan," ujarnya kepada Helo Indonesia, Selasa (10/12/2024).
Pernah terjadi, kata Kepala Sekretariat DPD RI Lampung yang juga aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan, ketika Kepala Dinas Pertanian Tibrizi Asmarantaka, muncul permasalahan anjloknya harga jagung.
Pabrik kala itu hanya mau membeli Rp250/kg. Padahal, petani baru untung kalau harga Rp900/kilo. Difasilitasi akademisi Unila, petani dan pengusaha, gubernur akhirnya menetapkan harga Rp650/kg, katanya.
"Tanpa biaya APBD, tanpa proses ribet, petani langsung dapat kenaikan harga 400-an rupiah,"kala itu. Tak boleh lagi saling mengedepankan ego, kalau yang model begini terus berlangsung tanpa solusi, maka rakyat akan mencari solusinya dengan caranya sendiri, ujarnya.
Menurut alumni Universitas Lampung itu, persoalan harga hasil pertanian yang fluktuatif merupakan masalah klasik yang terus berulang. "kita perlu langkah konkrit dari pemerintah dan sikap tegas para petani.
Forum Petani Singkong atau apapun namanya sudah saatnya kompak dan solid agar menjadi petani berdaulat di negeri sendiri, katanya. "Petani kita benar benar gak berdaulat, lemah dan hanya bisa pasrah," tandasnya.
Sungguh anomali, miris dan memprihatinkan, hampir semua pabrik tapioka gak ada yang punya kebun singkong sendiri, semua singkong disuplai dari petani, tapi harga pabrik yang menentukan semaunya.
Kondisi yang paradok ini yang menjadi faktor penyebab Nilai Tukar Petani Lampung selalu rendah, usaha pertanian (perkebunan) semakin memiskinkan, jauh dari mensejahterakan, pungkasnya.
DEMO PETANI SINGKONG
Sebelumnya, puluhan petani singkong melakukan aksi damai di perusahaan PT. Bumi Waras (BW) Tiyuh (Desa) Penumangan, Kecamatan Tulangbawang Tengah (TBT), Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung.
Aksi damai itu, meminta perusahaan agar menaikan kembali harga belinya singkong, yang mana harga beli singkong makin hari makin menurun.
Selain itu, puluhan masyarakat juga menuntut supaya turunkan potongan kadar Air (%) Singkong, Perbaiki Timbangan dan Pasang Kembali Timbangan Digital.
Dengan kondisi rendahnya harga beli singkong oleh perusahaan, membuat para masyarakat petani singkong menjerit. Sebab, hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya tanam, pemupukan hingga biaya panen.
Terakhir hari Jumat 6 Desember 2024, harga singkong Rp1.070 per kilogram dengan potongan tonase 15 persen sekarang hanya menjadi Rp.970 per kilogram dengan potongan harga naik menjadi 16 persen.
Saat dikonfirmasi, Helo Lampung, Andika koordinator aksi tersebut menjelaskan, aksi ini dilakukannya karena para petani singkong menilai pihak perusahaan menurunkan harga singkong semaunya.
"Kami petani singkong melakukan hal ini karena pihak perusahaan ini sepertinya sudah semaunya menurunkan harga singkong," Tegasnya Andika.
Dalam pantauan media dilapangan, satu diantara petani singkong diterima pimpinan Perusahaan PT. Budi Starch & Sweetener Tbk.Bumi Waras (BWSSW) Satya Mandala Pratama Bandar Lampung dan Panumangan untuk menyampaikan Tuntutannya dengan dikawal Personil Polres untuk melaksanakan audiensi.
Pimpinan perusahaan BW di Penumangan Tubaba, Willy mengatakan tidak bisa mengambil keputusan dan kebijakan terkait harga singkong, mengingat kebijakan yang ia miliki sangat terbatas sebagai kepala pabrik yang ditunjuk di perusahaan BW. Penumangan.
"Kita tunggu saja keputusan dari pusat (Jakarta) dan saya tidak bisa memberikan keputusan dan kebijakan, waya disini hanya karyawan selaku Kepala Pabrik dan pengawas," imbuhnya (Rohman/HBM).