✕

Ditangkap Usai Dikepung, Presiden Korsel Yoon Suk Yeol

Kamis, 16 Januari 2025 14:03
TEGANG - Drama penangkapan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol, di Seoul, Rabu (15/1/2025) pagi waktu setempat. | AFP/BBC/EPA/Reuters/Muzzamil/Helo Indonesia Helo Lampung

SEOUL, HELOINDONESIA.COM - Dramatis. Usai ketegangan berminggu-minggu antara personel keamanan pribadinya dengan aparat penegak hukum setempat, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol, akhirnya ditangkap dalam operasi penyergapan menegangkan ditengah cuaca dingin Kota Seoul, ibu kota negeri asal K-Pop ini, Rabu (15/1/2025) waktu setempat.

Sejumlah media massa internasional turut melaporkan, drama perseteruan penyidik versus Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Korea Selatan yang setia membarikade Presiden 64 tahun itu, nyaris berakhir dengan pertumpahan darah.

"Yoon Suk Yeol menjadi Presiden Korea Selatan aktif pertama yang ditangkap penegak hukum. Penangkapan ini adalah perkembangan ketegangan terbaru antara penyidik dan personel keamanan pribadi Yoon selama berminggu-minggu," tulis BBC.

Dilaporkan, dalam proses penangkapan yang berlangsung dalam cuaca dingin di Seoul, para penyidik terpaksa harus menggunakan bantuan tangga dan pemotong kawat agar bisa masuk ke kediaman sang presiden.

Paspampres Korea Selatan sebelumnya membentuk barikade untuk menggagalkan penangkapan Presiden Yoon. Sang Presiden pun akhirnya setuju untuk hadir ke hadapan Kantor Investigasi Korupsi Korea Selatan (CIO) "untuk menghindari pertumpahan darah."

Kenapa Presiden ditangkap? "Penangkapan Yoon, buntut dari upaya sang Presiden dalam menerapkan status darurat militer di Korea Selatan, Desember 2024 lalu. Keputusan Yoon saat itu memicu kekacauan di Korea Selatan. Parlemen pun kemudian memakzulkannya. Penegak hukum pun berusaha menjeratnya dengan tuduhan pemberontakan," tulis BBC.

Proses penangkapan berlangsung dini hari melibatkan seribuan lebih penegak hukum. Ini upaya penangkapan kali kedua oleh para penyidik CIO, usai upaya senada sebelumnya, 3 Januari 2025 lalu. Penyidik memperoleh surat perintah penangkapan setelah Yoon mengabaikan beberapa panggilan untuk datang dan memberi keterangan kepada CIO.

Secara teknis, ketika ditangkap Yoon masih berstatus Presiden Korea Selatan. Alasannya, usulan pemakzulan oleh parlemen masih harus terlebih dahulu diuji dan disahkan oleh Mahkamah Konstitusi setempat.

Membela diri, melalui pesan video berdurasi tiga menit, Yoon menegaskan akan mengikuti proses penyidikan, meski pun dia membantah telah melakukan perbuatan melawan hukum.

Yoon konsisten menuding surat perintah penangkapannya tidak sah. Yoon berkata, dia menyaksikan bagaimana pihak berwenang "menyerbu" batas keamanan rumahnya dengan peralatan pemadam kebakaran.

"Saya memutuskan untuk hadir di hadapan CIO, meski pun ini adalah penyelidikan ilegal, untuk mencegah pertumpahan darah yang tidak menyenangkan," ucap Yoon menyergah.

Pengusungnya, Partai Kekuatan Rakyat (Kweon Seong-dong) mengecam. Mereka menuding langkah penyidik, tindakan ilegal. Pemimpin partai ini bilang penangkapan itu semestinya tidak terjadi.

Sebaliknya, oposannya, pimpinan kelompok oposisi dari Partai Demokrat, Park Chan-dae, menilai penangkapan Yoon menunjukkan, "keadilan di Korea Selatan masih hidup".

"Penangkapan ini langkah pertama menuju pemulihan ketertiban konstitusi, demokrasi, dan supremasi hukum," ujar Park.

Usai penangkapan Yoon, Menteri Keuangan Choi Sang-mok didapuk tampuk kekuasaan sebagai pimpinan sementara setelah Penjabat Presiden pertama, Han Duck-soo, juga apes, dimakzulkan oleh parlemen mayoritas oposisi.

Setibanya diperiksa di gedung kantor CIO di Gwacheon, Yoon diperkirakan akan ditahan di Pusat Penahanan Seoul di Uiwang, Provinsi Gyeonggi, sekitar lima kilometer dari kantor ini. Namun jika pengadilan tak menerbitkan surat perintah penahanan tempo 48 jam usai penangkapan, penyidik harus melepaskannya.

Karuan, jagat politik berikut jagat maya negeri asal lahir lagu Gangnam Style milik PSY yang sejak dirilis videonya di YouTube 15 Juli 2012 silam hingga saat warta ini usai disusun pukul 17.42 Waktu Indonesia Barat telah ditonton 5,42 miliar kali ini, geger bukan kepalang.

Picu awalnya, gegara Selasa 3 Desember 2024 malam, saat Presiden Yoon bikin heboh seantero negeri, saat dia tetiba saja umumkan status darurat militer di Korea Selatan (kali pertama dalam hampir 50 tahun terakhir), melalui siaran televisi pukul 23.00 waktu setempat atau 21.00 WIB.

Keputusan drastis Yoon menyebut, terdapat "kekuatan anti-negara" dan ancaman dari Korea Utara. Namun, belakangan terungkap keputusan itu tidak didorong oleh ancaman eksternal tetapi oleh situasi politik internal.

Oposisi, tuding Yoon, berupaya melemahkan pemerintahannya. Dia kemudian mengatakan bahwa dirinya mengumumkan darurat militer untuk "menghancurkan kekuatan anti-negara yang telah menimbulkan kekacauan". Dekrit darurat militer yang dia umumkan untuk sementara menempatkan militer sebagai penanggung jawab pemerintahan.

Karuan, keputusan Yoon sontak mendorong ribuan orang berkumpul di depan parlemen sebagai bentuk protes, sementara anggota parlemen kubu oposisi bergegas ke gedung tersebut guna mendorong pemungutan suara darurat demi mencabut keputusan presiden.

Sekejap, serdadu dan polisi dikerahkan ke gedung. Sejumlah helikopter bahkan terlihat mendarat di atap. Media lokal menampilkan tayangan pasukan bertopeng dan bersenjata memasuki gedung parlemen, sementara staf gedung mencoba menahan mereka dengan alat pemadam kebakaran.

Pukul 23.00 waktu setempat, militer merilis larangan protes dan aktivitas oleh parlemen dan kelompok politik, sekaligus menempatkan media di bawah kendali pemerintah.

Beberapa jam kemudian, memasuki Rabu dini hari waktu setempat, Yoon lantas mencabut perintah darurat militer itu, 4 Desember 2024.

Para warga pemrotes turun ke jalan. Gedung parlemen digeruduk. Politisi parlemen oposisi memulai proses pemakzulan.

Polisi pun sigap. "Penyelidikan kasus sedang dilakukan", Kepala Markas Besar Investigasi Nasional di Kepolisian Nasional Korsel, Woo Jong-soo kepada anggota parlemen, Kamis (5/12/2024), seperti dikutip AFP.

Kini, notabene, penangkapan presiden yang sedang menjabat merupakan hal yang luar biasa bagi politik Korea Selatan. Meski Yoon telah ditangkap, krisis politik negara dinilai banyak pakar masih jauh dari selesai. Drama penangkapan ini cuma salah satu fase dalam drama politik yang sedang berlangsung.

Kerumunan luar rumah Yoon, Rabu pagi misal, memperlihatkan perpecahan mendalam di negara ini. Kubu anti-Yoon bersorak, bertepuk tangan, nyanyi lagu "selamat dan perayaan" saat pengumuman penangkapan. Suasana berbeda, "Kami sangat kecewa dan marah, supremasi hukum telah dilanggar," seseorang dari kubu fanatik Yoon bilang kepada BBC.

Kebuntuan juga mempertemukan dua cabang kekuasaan eksekutif: aparat penegak hukum, dilengkapi surat perintah penangkapan resmi, dan staf keamanan presiden, yang membuat klaim berkewajiban melindungi presiden.

Sebelum mengumumkan darurat militer, kekuasaan Yoon melemah karena partai oposisi memegang mayoritas di parlemen.
Yoon belakangan juga hadapi kontroversi ulah istrinya yang menerima hadiah tas Dior.

Untung saja, drama pengepungan --seperti ilustrasinya meminjam syair refrain lagu viral remix Lampung ala Bunda Susilawati, tembak tembak, dor dor dor dor!--, tak pula berubah menjadi babak berdarah. (Muzzamil)

Berita Terkini