Warga Laporkan Adanya Jejak Harimau, Dicek Tim Gabungan Ternyata Tapir

Jumat, 19 September 2025 16:50
Tim gabungan lacak informasi masyarakat adanya jejak Harimau (Foto Apriyan/Helo) HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM – Tim gabungan melacak laporan masyarakat adanya jejak harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) di Umbul 5, Dusun Gumbib 2, Pekon Tiga Jaya, Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat, Jumat (19/9/2025).

Setelah dilakukan pengecekan oleh tim yang terdiri dari BKSDA Bengkulu, Balai Besar TNBBS, TNI, dan Polri, jejak tersebut dipastikan bukan milik harimau (Panthera tigris sumatrae), melainkan tapir (Tapirus indicus) atau yang disebut masyarakat setempat sebagai ternuk.

Menurut Apriyan Sucipto, SH, MH dari BKSDA Bengkulu SKW III Lampung, kegiatan ini merupakan bagian dari mitigasi dan perlindungan satwa liar sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem hutan lindung.

“Informasi masyarakat sangat penting bagi kami dalam menjaga keamanan kawasan hutan," katanya, Jumat (19/9/2025). Ia meminta masyarakat segera melapor ke petugas terdekat, baik resort kehutanan, babinsa, bhabinkamtibmas, maupun kepala desa jika menemukan tanda-tanda keberadaan satwa liar.

Tim juga mengimbau masyarakat agar selalu waspada saat beraktivitas di kawasan hutan. Warga diminta untuk tidak masuk hutan seorang diri, menghindari aktivitas berlebihan, serta tidak melakukan perburuan terhadap harimau sumatra maupun satwa lainnya.

Harimau sumatra sendiri tercatat sebagai satwa kunci yang masih bertahan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), kawasan konservasi yang sebagian besar berada di wilayah Lampung Barat.

Berdasarkan data Balai Besar TNBBS, populasi harimau di kawasan ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 25–30 individu. Jumlah ini menjadi bagian dari total populasi harimau sumatra di alam liar yang diperkirakan tinggal 500–600 ekor di seluruh Pulau Sumatra.

Habitat harimau di Lampung Barat kerap berbatasan langsung dengan lahan perkebunan dan permukiman warga, sehingga potensi konflik antara manusia dan satwa liar cukup tinggi.

Sepanjang lima tahun terakhir, beberapa laporan warga mengenai keberadaan harimau di perkebunan kopi dan hutan lindung di wilayah Sekincau dan Suoh juga sempat ditindaklanjuti oleh petugas. Namun, sebagian besar laporan ternyata berasal dari satwa lain, seperti tapir dan macan dahan.

“Kerja sama yang baik antara masyarakat dan petugas sangat kami harapkan, agar interaksi negatif dengan satwa bisa diminimalisir dan tidak menimbulkan korban jiwa,” tambah Apriyan.

KONFLIK HARIMAU VS MANUSIA

Februari 2024 – Juli 2025 (± 1,5 tahun) 9 orang diserang, 6 meninggal, 3 selamat Korban tersebar di beberapa kecamatan: Batu Brak, Air Hitam, Suoh, dan Bandarnegeri Suoh.

Februari 2024 – Januari 2025 5 kasus, 4 meninggal, 1 luka/terluka Peristiwa terjadi di berbagai area dekat kawasan TNBBS, termasuk Regirter 46B Gunung Sekincau. Sejak awal 2024 – pertengahan 2025 setidaknya 5 konflik, dengan 4 korban jiwa dan 1 luka berat.

Di Lampung Barat, banyak peristiwa tewasnya warga akibat diterkam harimau, terutama yang bekerja di kebun atau lahan yang berbatasan langsung dengan hutan lindung / konservasi.

Tahun 2025 (hingga sekitar Mei–Juli) Beberapa korban tewas, termasuk kasus “Misni (62)” dan “Sudarso (50)” Contohnya, Misni ditemukan tewas mengenaskan di area kebun dekat hutan lindung dalam pekon di Batu Brak.

PETANI KOPI

Kebanyakan korban adalah pekebun kopi atau penggarap lahan di dekat atau di dalam kawasan konservasi seperti Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Beberapa insiden terjadi karena kondisi korban beraktivitas sendiri di kebun, pulang dari kebun saat senja, atau masuk ke area hutan/semak belukar.

Lokasi konflik sangat sering berada di zona sempadan antara lahan warga dengan hutan lindung / konservasi. Ini memperlihatkan bahwa garis batas habitat harimau dan aktivitas manusia memang sangat dekat.

Upaya pemerintah seperti patroli, sosialisasi, pemetaan zona rawan konflik sudah dilakukan, namun masih dipandang kurang efektif karena korban masih terus muncul. (Rls/HBM)


 - 

Berita Terkini

Haji Mabur atau Haji Mardud?

Opini • 21 jam 47 menit lalu