MHQ 2026 di MAJT Jadi Magnet, 372 Peserta dari Penjuru Negeri Ikuti Babak Penyisihan

Sabtu, 28 Februari 2026 21:09
Suasana penjurian MHQ 2026 yang digelar di Masjid Agung Jawa Tengah

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Gelaran Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ)  10 Juz yang digeber Panitia Ramadan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) tahun 2026 menjadi magnet dengan menyedot ratusan peserta dari berbagai penjuru negeri.

Semangat mencintai, memahami, dan menghafal Al-Qur’an terasa menyala dalam babak penyisihan MHQ  10 Juz yang digelar di ruang rapat dan aula MAJT, Kota Semarang, Sabtu 27 Februari 2026.

Lomba MHQ yang diinisiasi Ponpes Tahfidz Al-Qur'an MAJT- Baznas diikuti sebanyak 372 peserta yang telah mengikuti tahapan awal kompetisi ini dengan penuh kesungguhan.

Baca juga: Sekolah Jurnalistik PWI Jateng-FH Unissula: Amir Sebut AI hanya Asisten, bukan Pengganti

Mereka tidak hanya berasal dari Kota Semarang, Kudus, Grobogan, tapi kota - kota di Jabar,  DKI Jakarta,  Jatim dan DI Yogyakarta. Bahkan, terjauh dari NTT hingga kawasan Kalimantan.


Kegiatan secara resmi dibuka oleh Ketua Panitia MHQ, Dr  H Muh Syaifudin, Lc. MA . Dalam sambutannya, dia menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh peserta yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk mengikuti ajang tersebut.

Menurutnya, para peserta yang berhasil melaju ke babak final akan mendapatkan hadiah uang pembinaan dan sertifikat penghargaan.

Namun secara khusus ia menegaskan bahwa sertifikat tidak hanya diberikan kepada finalis, melainkan kepada seluruh peserta yang mengikuti perlombaan.
“Kenapa semua peserta perlu diberi sertifikat? Karena pada hakikatnya semua peserta itu adalah juara,” tegasnya.

Ia menjelaskan, para peserta adalah juara dalam melawan hawa nafsu, juara dalam mengalahkan rasa malas, serta juara dalam memanfaatkan masa muda untuk sesuatu yang lebih bermakna.

Manakala banyak anak muda menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, para peserta MHQ justru memilih mengorbankan waktunya untuk menghafal Al-Qur’an.
“Ini Masya Allah, kita harus memberikan apresiasi yang setidak-tidaknya bisa menjadi penyemangat bagi mereka,” ujarnya.

Di akhir sambutan, M Syaifudin mengajak seluruh hadirin untuk berdoa agar pelaksanaan musabaqah ini mendapatkan ridha Allah SWT, serta membawa keberkahan sejak awal hingga akhir rangkaian kegiatan.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan terdapat kekurangan, seraya berkomitmen menjadikannya sebagai bahan evaluasi dan perbaikan untuk kegiatan mendatang.

“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada segenap peserta. Pada hakikatnya, Anda semua adalah juara,” tuturnya.

Babak penyisihan MHQ tahun ini melibatkan 22 hakim yang melakukan pengujian secara daring melalui Zoom (online) yang diketuai Prof Dr Tholhatul Khoir.

Baca juga: Pascasarjana USM Gandeng Yayasan Meira Visi Persada Gelar Pelatihan Artikel Ilmiah

Setiap hakim menguji antara 18 hingga 20 peserta. Sistem penilaian dilakukan dengan metode undian, di mana peserta diminta memilih nomor amplop yang telah disiapkan panitia.

Masing-masing peserta kemudian mendapatkan tiga pertanyaan untuk diuji kemampuan hafalan dan ketepatan bacaannya.

Suasana lomba  berjalan tertib dan lancar. Para peserta tampak fokus dan penuh keyakinan saat menjawab setiap pertanyaan yang diberikan. Dukungan dari panitia serta sistem pengujian yang terstruktur membuat babak penyisihan berlangsung efektif meski melibatkan ratusan peserta.

Babak ini menjadi gerbang awal untuk menyaring para penghafal Al-Qur’an terbaik yang akan melangkah ke tahap berikutnya.

Lebih dari sekadar kompetisi, MHQ menjadi momentum membangun generasi Qur’ani yang tidak hanya unggul dalam hafalan, tetapi juga kuat dalam karakter dan komitmen spiritual.

Dari 372 peserta MHQ akan diambil semifinalis hingga mengerucut menjadi 10 peserta terbaik masuk grand final  pada Sabtu 7 Maret mendatang. 10 peserta terdiri atas 5 peserta putri dan 5 peserta putra.

Kualitas Baik

Sementara ditemui di sela - sela penjurian, Koordinator Hakim Prof Dr Tholhatul Khoir  mengungkapkan, secara umum kualitas hafalan peserta cukup baik.

“Dari sisi hafalan, mayoritas peserta sudah menguasai materi 10 juz dengan baik. Untuk tajwid dan makharijul huruf, rata-rata sudah terlatih karena mereka adalah santri tahfidz,” terangnya.

Baca juga: Jalan Nasional di Jateng 93,47 Persen Mantap, Siap Dilintasi Pemudik saat Lebaran 2026

Namun, ia menambahkan bahwa aspek keindahan bacaan atau lagu (nagham) masih menjadi pembeda.

Dia mencontohkan dalam salah satu breakout room yang mana dia melakukan penjurian, dari sembilan yang hadir,  hanya dua peserta yang menonjol dalam aspek tartil dan keindahan suara.

“Kalau ketartilan dan makhraj rata-rata sudah bagus. Tetapi untuk sisi keindahan memang lebih ke bakat. Secara keseluruhan, kualitas peserta sudah baik,”  tandasnya.

Diakui dia, pelaksanaan secara online  membawa tantangan tersendiri. Sejumlah peserta mengalami kendala teknis, mulai dari perangkat yang kurang siap, jaringan internet tidak stabil, hingga kesalahan pengoperasian aplikasi Zoom.

Akibatnya, beberapa peserta tidak dapat melanjutkan hingga akhir sesi karena terputus saat menjawab pertanyaan. (Aji)

Berita Terkini