Generasi Jalan Kaki Aspema 77 Semarang: Tentang Rindu, Peluh, dan Persaudaraan

Sabtu, 25 April 2026 15:30
Lilik Kelana Putri dan Widodo Irianto, ketika bercerita berjalan kaki saat berangkat ke SMPN 5 Semarang, pada momen HBH Aspema 77, di Semarang beberapa waktu lalu.

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Rambut boleh memutih, kulit boleh mengeriput pelan, dan langkah mungkin tak lagi segesit dulu. Namun, bagi sekitar 80 manusia yang berkumpul di sebuah hotel kawasan Jalan Rinjani, Semarang, Sabtu lalu (18/4) itu, waktu seolah kehilangan kuasanya.

Di sana, di bawah langit April 2026, para alumni SMP Negeri 5 Kota Semarang angkatan 1977—yang menamakan diri Aspema 77—sedang melakukan ritual paling sakral: pulang ke masa lalu.

Ini bukan sekadar Halal Bihalal rutin. Ini adalah peristiwa batin. Saat Kriswantoro menyapa Ari Merapi dengan seloroh khas Jawa, "Eh… kowe yo? Isih kelingan aku ora?", seketika itu juga dinding usia runtuh. Mereka bukan lagi lansia dengan sejuta kesibukan; mereka kembali menjadi bocah-bocah berseragam putih-krem (seragam SMPN 5 Semarang kala itu) yang dulu "menguasai" jalan aspal Kota Semarang dengan keringat dan tawa.

Baca juga: Aruna Hadir di Semarang, Tawarkan Model Baru Pembinaan Sepakbola Usia Dini

Dengan balutan seragam warna-warni, para alumni hadir dari berbagai penjuru Pulau Jawa. Ada yang datang dari kota besar, ada yang menempuh perjalanan jauh dengan segala keterbatasan. Namun satu hal yang sama yakni mereka datang membawa rindu.

Bagi anak zaman sekarang, jarak adalah angka di aplikasi transportasi daring. Namun bagi angkatan '77, jarak adalah integritas.

Ketua Panitia, Sigit Pramono, mengenang masa itu dengan suara yang sesekali bergetar.

"Kita hidup pas-pasan. Dulu, makan saja sudah syukur," lirihnya.

Di era 70-an, kemewahan adalah hal asing. Satu-satunya "dewa penyelamat" di jalanan hanya Bemo—kendaraan roda tiga yang berisik—itu pun jalurnya terbatas.
Ia lalu mengisahkan bagaimana satu-satunya angkutan yang bisa diandalkan hanyalah Bemo yakni kendaraan roda tiga yang menjadi saksi bisu kehidupan kota Semarang kala itu.

Jalurnya terbatas, hanya melintasi jalan-jalan besar seperti untuk menuju kawasan Kagok, jalurnya dari Pasar Johar, menyusuri Jalan Pemuda, Dr Soetomo, hingga jalan Sultan Agung, lalu berakhir di kawasan Kagok. Selebihnya, bertumpu pada otot-otot kaki.

Mereka adalah generasi yang "ditempa oleh aspal". Menembus gang sempit, mendaki tanjakan jalan Sultan Agung, hingga berteduh di bawah rindangnya pohon mahoni Sisingamangaraja saat matahari tepat berada di puncak kepala.

Mahoni, Lapar, dan Seragam Polwan

Asiani, salah satu alumni, memejamkan mata sejenak, seolah menghirup kembali udara tahun 1976. Ia bercerita tentang kepulangan sekolah di hari Jumat yang terik. Perut kosong, tenggorokan kering, namun kaki harus tetap mengayun puluhan kilometer.

"Lapar, haus, tapi tetap jalan. Dan anehnya, kita bisa melewati itu semua," kenangnya sambil tersenyum tipis.

Baca juga: Sirnas Padel Seri Semarang Tuai Apresiasi Ketum KONI Pusat, Optimistis Cetak Atlet Dunia

Rasa lelah itu ternyata adalah sebuah investasi. Tjahyo Budiati, yang terbiasa berjalan dari Tegalsari ke Kagok, mengaku bahwa ketangguhan masa kecil itulah yang meloloskannya menjadi seorang Polwan.

“Dulu tidak terasa. Kita sudah terbiasa berjuang sejak kaki ini masih kecil. Bahkan saat saya mendaftar jadi Polwan, mungkin ini salah satu bekalnya. Karena kita sudah terbiasa berjalan, terbiasa berjuang," ucapnya bangga.

Ketua Aspema 77, Widodo Irianto atau yang akrab disapa Gowid, memandang kerumunan itu dengan tatapan haru. Di matanya, kawan-kawannya tidak berubah. Mereka masih memiliki "bara" yang sama.

"Mungkin karena kita ditempa oleh jalan kaki, hati kita jadi kuat," ujar Gowid terbata.

Ketulusan itu memang terasa nyata. Tidak ada lagi sekat jabatan atau status sosial di ruangan itu. Semua kembali menjadi cerita “anak-anak SMP 5” yang dulu berjalan kaki bersama, bercanda tanpa beban, jajan bareng di warung Yuk Pin. Semua kembali menjadi "anak-anak Pak Ladi"—sang penjaga sekolah yang dulu sering memarahi mereka jika nekat memanjat pagar.

Mami LKP (Lilik Kelana Putri) tak mampu membendung air mata. Baginya, rasa lelah saat berjalan kaki puluhan tahun lalu adalah lem yang merekatkan mereka hingga hari ini. "Sama-sama lelah, sama-sama tertawa. Itu yang tidak pernah hilang."

Baca juga: JPE Bungkam Gresik Phonska Plus 3-1, Selangkah Lagi Pertahankan Mahkota Proliga

Puncak pertemuan itu pecah saat lagu "Kemesraan" melantun. Lingkaran tangan terbentuk, genggaman mengerat. Di tengah nyanyian itu, ada doa yang mengalir tanpa suara agar usia diberi ruang sedikit lebih lama lagi untuk sekadar saling menyapa.

Perlahan. Setia. Tanpa suara. Namun nyata. Dan mungkin, itulah yang tersisa dari perjalanan panjang ini. Bukan tentang siapa yang paling berhasil. Bukan tentang siapa yang paling jauh melangkah. Melainkan tentang siapa yang tetap tinggal, di dalam kenangan, di dalam hati, dan di dalam doa satu sama lain.

Ketika acara usai, mereka melangkah pulang dengan berat hati. Namun, mereka sadar bahwa perjalanan sebenarnya tidak pernah berhenti. Langkah-langkah kecil dari tahun 1977 itu masih terus berderap di dalam ingatan, melewati ruang dan waktu.

Sebab pada akhirnya, yang mereka rayakan bukan sekadar reuni, melainkan jejak-jejak cinta yang tertinggal di trotoar Semarang. Sebuah persahabatan yang membuktikan bahwa meski raga kian senja, jejak kaki yang tulus tak akan pernah benar-benar lelah.

(Sigit Pramono, penulis alumni SMP Negeri 5 Semarang Angkatan 77)

Berita Terkini