SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Mahasiswa harus mengedepankan kritik yang objektif dibandingkan kebencian. Sebab, Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dalam mengawal kebijakan publik, sementara ujaran kebencian justru dapat menghilangkan objektivitas.
Hal itu diungkapkan Presiden Mahasiswa BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) 2025, Tiyo Ardianto dalam Seminar Hak Asasi Manusia (HAM) bertajuk ''HAM di Era Digital: Peran Mahasiswa dalam Menjaga Kebebasan yang Bertanggung Jawab'' di Gedung Prof Ir Joetata Hadihardja, Universitas Semarang (USM), Kamis 11 Juni 2026.
''Mahasiswa harus fokus pada kritik, bukan pada kebencian. Mari bicara tentang objektivitas dan kritik terhadap kebijakan publik. Jika suatu saat menyentuh aspek yang bersifat personal, lakukan secara bertanggung jawab, penuh perhitungan, dan strategis,'' kata Tiyo.
Baca juga: Ahmad Luthfi Gandeng KPK Benahi Hulu-Hilir Tambang Jateng
Selain berpikir kritis, kata Tiyo, keberanian menjadi faktor penting agar kebebasan berekspresi memiliki makna.
Dia menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa terhadap kebebasan yang dimiliki sebagai dasar dalam menjalankan hak berekspresi secara bertanggung jawab.
''Setiap mahasiswa harus menyadari kebebasannya. Setelah menyadari kebebasan itu, maka kebebasan tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab,'' katanya.
Menurut Tiyo, perkembangan teknologi dan media sosial telah menciptakan arus informasi yang sangat besar sehingga mahasiswa dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi palsu maupun ujaran kebencian.
''Hari ini kita berhadapan dengan situasi di mana informasi terlalu banyak dan tidak semuanya terverifikasi. Yang dibutuhkan adalah berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, kita tidak akan mudah terjebak pada kebohongan, informasi palsu, maupun ujaran kebencian,'' jelasnya.
Dia berharap, para peserta seminar mampu menjadi generasi yang lebih berani dalam menyampaikan pendapat dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
''Saya berharap, peserta seminar hari ini memiliki keberanian yang lebih daripada sebelumnya. Kita semua mungkin bebas, tetapi tanpa keberanian, kebebasan itu menjadi hampa dan tanpa makna,'' ujarnya.
Hadirkan Tyo
Kegiatan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa USM itu diikuti 150 peserta yang berasal dari kalangan siswa SMA di Kota Semarang dan mahasiswa USM.
Seminar menghadirkan narasumber dari Amnesty International Indonesia, yakni Claudia Destianira dan Michelle Dionisius, serta Presiden Mahasiswa BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2025, Tiyo Ardianto.
Baca juga: Pembangunan Koperasi Merah Putih Diduga Pakai Listrik PLN Secara Ilegal di Pesawaran
Ketua Pelaksana Seminar HAM, Hapsari Okta mengatakan, tujuan kegiatan memberikan pembekalan kepada generasi muda mengenai hak asasi manusia, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital.
''Peserta seminar berasal dari SMA di Kota Semarang dan mahasiswa Universitas Semarang dengan jumlah sekitar 150 peserta. Harapannya, seminar ini dapat memberikan pembekalan kepada peserta mengenai HAM, media, serta berbagai lingkup yang berkaitan dengan hak asasi manusia,'' ujarnya.
Dia berharap, melalui seminar tersebut, peserta dapat memahami pentingnya hak asasi manusia, meningkatkan literasi digital, serta mampu menggunakan kebebasan berekspresi secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab di tengah dinamika kehidupan digital yang terus berkembang. (Aji)