LAMSEL, HELOINDONESIA.COM — Tidak semua anak muda menemukan panggungnya di lapangan olahraga atau di atas panggung seni. Sebagian menemukannya di antara kata, lensa kamera, dan potongan gambar. SMA Negeri 1 Kalianda membuka ruang itu.
Puluhan siswa kelas X mengikuti rekrutmen calon penulis, jurnalis, fotografer, dan kreator film pendek di lingkungan sekolah, Sabtu (29/8/2026). Seleksi ini menjadi bagian dari upaya sekolah memperkuat budaya literasi sekaligus menggali potensi kreatif siswa sejak dini.
Kepala SMA Negeri 1 Kalianda, Darmiyati, S.Pd., M.Pd., mengatakan program tersebut merupakan bagian dari visi sekolah untuk membangun lingkungan belajar yang inovatif dan memberi ruang seluas-luasnya bagi siswa mengembangkan bakat.
Menurut Darmiyati, peserta berasal dari kelas X dan dipilih melalui proses seleksi yang dilakukan secara ketat dan transparan. Mereka yang lolos nantinya tidak dilepas begitu saja. Sekolah menyiapkan pelatihan dan pendampingan secara intensif agar potensi yang dimiliki siswa dapat berkembang menjadi keterampilan dan karya.
Untuk bidang kepenulisan, materi yang diberikan mencakup penulisan cerpen, artikel jurnalistik, hingga karya kreatif lainnya. Sasarannya jelas: siswa tidak hanya mampu menulis, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan memiliki daya saing di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Para siswa juga dipersiapkan mengikuti berbagai kompetisi menulis dan jurnalistik.
Menulis untuk Membaca Zaman
Pembina bidang kepenulisan cerpen dan jurnalistik SMA Negeri 1 Kalianda, Riswo, S.E., M.Si., mengatakan sekolah memiliki komitmen membentuk generasi muda yang terampil menulis sekaligus memiliki karakter dan kepercayaan diri.
Menurut dia, kemampuan menulis perlu ditanamkan sejak dini. Sebab, menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga belajar membaca keadaan, menyusun gagasan, dan menyampaikan pikiran secara bertanggung jawab.
Karena itu, siswa akan dibekali pengetahuan dan keterampilan agar siap mengikuti berbagai kompetisi kepenulisan dan jurnalistik, baik di tingkat kabupaten maupun nasional.
Program tersebut juga diharapkan mampu menumbuhkan minat siswa terhadap dunia literasi sekaligus meningkatkan kualitas karya tulis mereka.
"Harapannya, anak-anak semakin tertarik dengan dunia literasi dan mampu menghasilkan karya yang lebih baik," ujar Riswo.
Tak Berhenti di Pena dan Kertas
Ekosistem kreativitas di SMA Negeri 1 Kalianda tidak berhenti pada pena dan kertas. Pada hari yang sama, sekolah juga melakukan seleksi calon fotografer dan pembuat film pendek.
Langkah ini menunjukkan bahwa literasi yang dibangun sekolah tidak semata-mata soal kemampuan membaca dan menulis. Siswa juga didorong mampu menyampaikan gagasan melalui visual, fotografi, dan karya audio-visual.
Pembina bidang fotografi dan film pendek, Siti Usnaeni, S.Pd., mengatakan SMA Negeri 1 Kalianda sebagai sekolah unggulan di Lampung berkomitmen menyiapkan kader-kader muda yang mampu berkompetisi hingga tingkat nasional.
Menurutnya, pelatihan tersebut diarahkan untuk melahirkan kreator muda yang tidak hanya mampu berkarya secara individual, tetapi juga dapat bekerja sama dan membangun kolaborasi.
Sebab, sebuah karya kadang lahir bukan dari satu kepala, melainkan dari pertemuan banyak gagasan.
Sekolah Menjadi Ruang Kreativitas
Program tersebut mendapat sambutan positif dari orang tua dan masyarakat. Mereka berharap sekolah terus membuka ruang bagi siswa untuk mengenali, mengembangkan, dan mempertajam bakatnya.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Syahrin Sahid, S.Pd., mengatakan SMA Negeri 1 Kalianda memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi penerus bangsa.
Menurutnya, kecerdasan akademik saja tidak cukup. Siswa juga harus memiliki kreativitas, kemampuan berkomunikasi, keberanian berkompetisi, serta kemampuan memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat.
Karena itu, pengembangan literasi dan kreativitas menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di sekolah.
Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat anak-anak mengejar angka di rapor. Sekolah adalah tempat mereka menemukan suara.
Ada yang menemukan suaranya lewat tulisan. Ada yang bercerita melalui kamera. Ada pula yang memilih menyusun cerita melalui gambar bergerak.
Dari SMA Negeri 1 Kalianda, suara-suara muda itu kini mulai diberi ruang.
Dan siapa tahu, dari ruang kelas itulah kelak lahir penulis, jurnalis, fotografer, atau sineas yang bukan hanya mampu memenangkan lomba, tetapi juga mampu menuliskan dan merekam wajah zamannya. ***