Jejak pengabdian Drs. H. Silahudin Ali Bin Moh. Ali Abu Hasan, pengusaha kargo yang mengabdikan kekayaannya untuk pendidikan anak-anak berprestasi di Pondok Pesantren Tahfid Zawiyah Al Mawahib Bandung
Banyak orang berusaha dan berhasil mengumpulkan kekayaan, namun tak banyak orang yang yang mengabdikan kekayaannya untuk membuka jalan bagi orang lain untuk mencapai kesejahteraan. Di antara yang tak banyak itu adalah Drs. H. Silahudin Ali Bin Moh. Ali Abu Hasan, pengusaha kargo asal Kabupaten Bandung yang lahir di Karawang, 6 Juli 1958, dan wafat 18 Juni 2016.
Dia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa apa yang dirintisnya dengan ketulusan di kemudian hari menjadi jalan bagi begitu banyak anak yang memiliki kecerdasan, semangat belajar, dan mimpi besar, tapi keluarga mereka kurang mampu membiayai pendidikan.
Silahudin Ali tidak bisa membiarkan keadaan seperti itu. Baginya, kemiskinan tidak boleh menghilangkan kesempatan anak untuk belajar. Keterbatasan ekonomi bukan penghalang menggapai mimpi. Dari keyakinan dan perjuangan inilah lahir Pondok Pesantren Tahfidz Zawiyah Al Mawahib dan Madrasah Aliyah Bina Insan Mulia (MABIM) Al Mawahib Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha kargo di Kabupaten Bandung, Silahudin mewujudkan kepeduliannya yang besar terhadap dunia pendidikan. Ia melihat bahwa banyak anak memiliki kemampuan dan potensi, tetapi tidak semuanya mempunyai kesempatan yang sama. Sebagian anak bisa belajar dengan tenang karena orang tua mereka mampu membiayai pendidikan. Tetapi sebagian lainnya harus menghadapi kenyataan yang berbeda. Mereka memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki biaya. Mereka memiliki cita-cita, tetapi tidak tahu bagaimana harus melanjutkan pendidikan. Mereka ingin sekolah, tetapi keadaan ekonomi keluarga sering menjadi penghalang. Keadaan itulah yang menyentuh hati almarhum.
Seperti pernah dikatakannya: ”Kalau anak itu mempunyai kemampuan dan kemauan untuk belajar, jangan sampai ia kehilangan masa depannya hanya karena tidak mempunyai biaya.”
Melalui Program Beasiswa Murid Berprestasi, anak-anak yang memperoleh kesempatan belajar di Al Mawahib tidak dibebani biaya pendidikan karena seluruh pembiayaan pendidikan sudah disediakan. Anak-anak belajar sungguh-sungguh, menghafal Al-Qur'an, mendalami ilmu agama, membangun karakter, mengejar prestasi, tanpa dihantui kekhawatiran tak bisa membayar biaya sekolah.
“Harta yang kita miliki tidak akan selamanya bersama kita. Tetapi jika harta itu digunakan untuk membantu pendidikan anak-anak, insya Allah manfaatnya akan terus tumbuh dan berkembang,” demikian ia mengungkapkan pandangannya.
Meninggalkan semangat pengabdian
Silahudin Ali tidak menjalani kisah ideal tentang pejuang-penderma yang menyiapkan dulu kemampuan para pewarisnya untuk melanjutkan perjuangannya sebelum ia meninggalkan mereka selamanya. Dia dipanggil sang Khalik justru ketika masih sangat dibutuhkan, karena perjuangan besar sebenarnya baru saja dimulai. Perjalanan pendidikan Al Mawahib ketika itu baru berusia sekitar tiga tahun. Harapan sedang tumbuh, anak-anak membutuhkan tempat untuk belajar, para pendidik sedang membangun sistem, tapi sang pendiri sudah waktunya pergi. Tanpa didahului sakit, pada 18 Juni 2016, Drs. H. Silahudin Ali Bin Moh. Ali Abu wafat.
Kepergiannya meninggalkan duka, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh perjalanan pendidikan yang selama ini ditopang oleh kedermawanannya. Sang dermawan telah pergi, sementara anak-anak itu masih ada. Mereka masih belajar, masih memiliki cita-cita, dan masih menunggu masa depan. Mimpi yang telah dimulai bersama almarhum tidak mungkin dibiarkan berhenti.
Pembina Pondok Pesantren Tahfidz Zawiyah Al Mawahib, KH. Hilmi Ashshiddiqie Al Aroqi, melihat pada Silahudin Ali keberanian untuk mewujudkan gagasan menjadi sebuah gerakan nyata.
“Cinta almarhum kepada anak-anak yang mempunyai potensi, tetapi terkendala ekonomi, begitu besar. Karena itu lah ia berjuang membuka jalan bagi mereka,” ujar KH. Hilmi.
”Dan perjuangan beliau harus kita lanjutkan,” tambahnya. Namun diakuinya bahwa wafatnya Silahudin Ali menjadi titik awal perubahan penting dalam perjalanan Al Mawahib
Babak menuju kemandirian
Setelah Drs. H. Silahudin Ali wafat, Al Mawahib harus menghadapi kenyataan baru. Lembaga pendidikan harus terus berjalan. Para guru harus terus mengajar, para murid harus tetap belajar, dan cita-cita besar yang telah dimulai tidak boleh berhenti.
Karena itu, sebuah sistem baru mulai dibangun. Para orang tua yang mampu kemudian ikut berpartisipasi membantu keberlangsungan pendidikan. Perubahan tersebut dilakukan bukan untuk menghapus semangat awal Al Mawahib. Justru sebaliknya, cara itu untuk mempertahankan semangat dan perjuangan tersebut.
Menurut Pemimpin Pondok Pesantren, K.H. Ahmad Husen Jali, S.Ag., mempertahankan sebuah cita-cita tidak selalu berarti mempertahankan seluruh cara lama. Kadang sebuah perjuangan harus menemukan cara baru agar tetap bisa bertahan.
“Yang kami jaga adalah ruh perjuangannya. Almarhum ingin anak-anak yang memiliki kemampuan tetap mempunyai kesempatan untuk belajar. Ruh itulah yang tidak boleh hilang,” katanya.
Perubahan sistem pembiayaan juga diterima oleh para orang tua murid dengan berbagai pertimbangan dan pemahaman. Salah seorang orang tua murid, Bapak Syarif Hidayatullah, orang tua murid bernama Fachry Dliya Rahman, berasal dari Solo Jawa Tengah, mengatakan bahwa para orang tua memahami perubahan tersebut sebagai sebuah kenyataan yang harus dihadapi bersama dan tidak mungkin hanya menjadi penonton.
Ia juga mengatakan bahwa bantuan dari orang tua bukan hanya dipandang sebagai kewajiban, tapi juga keinginan untuk ikut menjaga perjuangan yang telah dimulai.
“Kami mungkin tidak bisa menggantikan beliau. Tidak ada yang bisa menggantikan kedermawanan dan pengorbanannya. Tetapi kami ingin ikut mengambil bagian, sesuai kemampuan kami, supaya perjuangan beliau tidak berhenti,” katanya.
Menurut Syarif, keberadaan Program Beasiswa Murid Berprestasi yang tetap dipertahankan memberikan keyakinan bahwa Al Mawahib masih memegang teguh cita-cita awal pendirinya.
“Yang membuat kami tersentuh adalah meskipun keadaan sudah berubah, pesantren tidak melupakan anak-anak yang kurang mampu. Program beasiswa masih tetap ada, meskipun hanya bagi sebagian dari mereka yang betul-betul sangat membutuhkan. Itu artinya, mimpi almarhum masih terus dijaga,” tambahnya.
Sang Dermawan telah pergi, namun kebaikan dan amal salehnya tetap hidup pada orang-orang yang lanjutkan perjuangannya. (Kafyama)