Program 1 Desa 1 Sarjana 1 Hafidz Menuju Lampung Maju

Sabtu, 29 Agustus 2026 08:18
Gunawan Handoko HELO LAMPUNG

Penulis Gunawan Handoko
Pengamat pendidikan, anggota Dewan Pakar Forum Literasi Lampung

PROGRAM Satu Desa, Satu Sarjana STEM, dan Satu Hafidz yang diluncurkan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal pada 27 Agustus 2026 di Lampung Timur merupakan langkah strategis yang sangat sejalan dengan semboyan “Lampung Maju”.

Karena Lampung Maju bukan hanya soal jalan mulus, tapi soal manusia Lampung yang maju: cerdas, berakhlak, dan berdaya saing. Salah satu makna “Lampung Maju” adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat melalui UMKM, industri dan pertanian modern.

Maka program 2.500 sarjana STEM yang diluncurkan Pak Gubernur Lampung ini sebagai jawabannya. Lulusan inilah yang akan membawa teknologi pertanian presisi, digitalisasi UMKM, dan mesin ke desa.

Bukan lagi pembangunan dari atas, tapi inovasi yang tumbuh dari desa. Artinya, pondasi Lampung Maju berakar pada adat dan budaya lokal. Sarjana STEM untuk kecerdasan nalar dan kemajuan, sedangkan Hafidz Qur’an untuk penguatan karakter dan spiritualitas.

Seperti kata Pak Gubernur: “Kita membangun manusia yang tidak hanya cerdas secara nalar, tetapi juga tangguh hatinya”. Inilah karakter Lampung, maju secara teknologi dan kuat secara moral.

Dengan melahirkan 2.500 Sarjana STEM dan 2.440 Hafidz dari desa, Lampung sedang menyiapkan SDM unggul untuk 2045. Desa tidak lagi jadi penonton, tapi jadi sumber inovasi dan keberkahan bagi Indonesia.

Agar Lampung Maju benar-benar terwujud, dan supaya visinya “dari desa untuk desa” tidak lari, mungkin perlu dibuat kontrak pengabdian bagi sarjana sebagai tenaga inovasi daerah dalam jangka waktu tertentu, misal 3 tahun.

Supaya seleksinya transparan dan kredibel sesuai budaya lokal, perlu melibatkan perguruan tinggi negeri seperti Unila, Itera, dan Polinela. Juga melibatkan dunia usaha, Baznas dan tokoh adat.

Ada hal yang menarik dari program ini, karena menyasar putra-putri terbaik desa, utamanya anak petani dan keluarga tidak mampu. Menurut pemahaman saya, anak petani berbeda dengan keluarga tidak mampu.

Selama ini banyak anak petani yang berjuang kuliah di luar Lampung dengan biaya sendiri tanpa beasiswa. Mereka cerdas, punya mental pejuang. Tapi setelah lulus S1, mereka enggan pulang. Bukan karena tidak cinta desanya, tapi karena takut ilmunya tidak terpakai.

Maka program “1 Desa 1 Sarjana STEM” harus mampu menjadi jawabnya. Pemprov Lampung harus bisa meyakinkan dan membuktikan ke mereka bahwa Sarjana Pertanian, Sarjana Mesin, Sarjana Teknologi itu punya masa depan di desa.

Salah satu cara dengan memberi mereka proyek di desa. Kalau anak-anak petani sudah mau pulang, maka desa benar-benar akan jadi sumber inovasi seperti yang disampaikan Pak Gubernur.

Hal yang tidak kalah penting, putra-putri petani jangan salah dalam mengambil jurusan, seperti Teknik Nuklir misalnya. Prioritaskan ambil jurusan Agro Industri, Teknik Mesin Pertanian, Teknologi Pangan, Sistem Informasi untuk UMKM, dan Teknik Energi terbarukan.

Pemprov Lampung juga perlu mempertimbangkan untuk memberi beasiswa dan lahan praktek. Selama kuliah, anak petani ini diberi beasiswa dan wajib punya proyek di desanya. Contoh, riset irigasi tetes di sawah milik bapaknya.

Biar sejak semester 1 mereka sudah merasa ilmunya bermanfaat untuk desa. Dengan begitu setelah lulus S1 nanti mereka pulang bukan sebagai “anak petani”. Mereka pulang dengan bangga sebagai pimpinan inovasi desa, atau direktur BUMDes.

Lampung Maju akan terasa nyata ketika anak petani tidak perlu lagi merantau untuk mencari kehidupan di negeri orang. Cukup dengan ilmunya, mereka bisa memajukan sawah, ladang, dan desa tempat kelahirannya.

Di tangan para Sarjana STEM dan Hafidz inilah masa depan masyarakat desa dan moral Lampung dipertaruhkan.

Wujudkan Skema Gotong Royong

Agar target 2.500 Sarjana STEM dan 2.440 Hafidz tercapai lebih cepat, Pemprov tidak bisa jalan sendiri. Perlu dukungan dan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten dan Kota melalui skema gotong royong pembiayaan.

Contoh, Pemprov Lampung menanggung 50 persen beasiswa, menyusun kurikulum dan kerjasama dengan Unila/Itera/Polinela. Sementara Pemkab dan Pemkot menanggung 50 persen beasiswa, dan seleksi di tingkat desa, serta menyiapkan program pengabdian di daerahnya.

Selain lebih cepat, juga lebih tepat sasaran karena Bupati dan Walikota yang lebih tahu siapa putra-putri terbaik desa di wilayahnya. Utamanya anak petani dan keluarga kurang mampu.

Karena kabupaten dan kota ikut membiayai, dan wajib menyiapkan tempat pengabdian bagi lulusannya, maka diharapkan akan tumbuh rasa memiliki. Ini sesuai semboyan “Lampung Maju”, dan maju itu.  ***

Berita Terkini