Konsultan Jelaskan Penyebab Ambruknya Trotoar Wayhalim yang Dikerjakan PT Asmi Hidayat

Selasa, 1 September 2026 22:43
Konsultan Iqbal saat menjelaskan penyebab ambrolnya pengerjaan proyek trotoar di Jl. Sultan Agung, Wayhalim. (Foto Hakim/Helo) HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Konsultan CV Tri Paica Artha, Iqbal, menjelaskan penyebab robohnya trotoar yang sedang dibangun di kiri dan kanan Jl. Sultan Agung, Wayhalim, Kota Bandarlampung. Dia juga menerangkan material yang dipersoalkan Ketua Gapeksindo Lampung, Doni Barata.

Menurut Iqbal, dalam analisa memang tidak ada uraian khusus bekisting, tetapi perancah dan paku sudah ter-cover dalam item beton. "Secara substansi, kebutuhan bekisting itu ada dalam pelaksanaannya," ujarnya di Kantor Dinas PU Kota Bandarlampung, Sukarame, Selasa (1/9/2026), pukul 13.40 WIB.

Baca juga: Gapeksindo Lampung: Ada Dugaan Penyimpangan Revitalisasi Trotoar Wayhalim dan Rigid Beton Tirtayasa

Dia juga membantah anggapan bahwa kayu yang digunakan dalam pekerjaan utama revitalisasi trotoar senilai Rp21,77 miliar yang dikerjakan PT Asmi Hidayat merupakan material bekas. Ia menjelaskan, kayu balok untuk bekisting merupakan material baru berukuran 6/12 dan 5/5.

Terkait robohnya perancah pada pekerjaan sebelumnya, Iqbal mengatakan pihaknya telah melakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut. Hasilnya, kata dia, persoalannya bukan pada kekuatan perancah, melainkan pada tumpuannya.

Saat itu, perancah berdiri di atas fondasi batu belah existing yang ternyata tidak mampu menahan beban beton. “Terkait kejadian roboh kemarin, kami sudah evaluasi. Itu bukan kegagalan kekuatan perancahnya," katanya.

Baca juga: Akan Dilaporkan Gapeksindo ke BPK dan Kejati, Rigit Beton Tirtayasa dan Trotoar Wayhalim

Setelah kejadian tersebut, pihaknya melakukan evaluasi dan perbaikan. Pada titik pekerjaan berikutnya, dibuat fondasi batu belah baru yang difungsikan sebagai tumpuan perancah.

“Kami tidak berhenti di situ. Selanjutnya langsung dilakukan evaluasi dan perbaikan. Untuk titik berikutnya dibuat fondasi batu belah baru sebagai tumpuan, sehingga risiko kejadian yang sama bisa diminimalkan,” katanya.

Plastik Cor untuk Menjaga Mutu Beton

Iqbal juga menjelaskan penggunaan plastik cor yang tidak tercantum secara spesifik dalam analisa. Menurutnya, plastik cor dipasang berdasarkan kebutuhan teknis di lapangan untuk menjaga mutu hasil pengecoran, terutama mencegah air semen merembes melalui bagian bawah beton.

“Untuk plastik cor juga perlu kami tegaskan. Memang item tersebut tidak tertulis secara spesifik dalam analisa, tetapi kami pasang berdasarkan kebutuhan teknis di lapangan untuk menjaga mutu beton,” ujarnya.

“Kalau air semen merembes melalui bawah beton, tentu berpotensi memengaruhi mutu pekerjaan. Jadi menurut kami, jangan hanya melihat apa yang tertulis secara spesifik di analisa, tetapi juga lihat fungsi dan kebutuhan teknis dalam pelaksanaannya,” sambung Iqbal.

Analisa dan Pelaksanaan Perlu Dilihat Secara Utuh

Iqbal menilai persoalan yang muncul perlu dibedakan antara kelengkapan uraian dalam analisa dengan pelaksanaan pekerjaan sec

Baca juga: Tak Ada Bencana, Trotoar Sultan Agung Tiba-tiba Ambruk, DPRD Pertanyakan Proyek Rp21 Miliar

ara nyata di lapangan.

Jika dalam analisa terdapat komponen yang tidak dijabarkan secara detail, seperti ukuran balok, multiplex, atau komponen pendukung bekisting lainnya, menurutnya hal itu merupakan persoalan kelengkapan analisa, bukan bukti bahwa pekerjaan tersebut tidak ada atau tidak dilaksanakan.

“Kalau memang ada kekurangan dalam analisa karena komponen bekisting tidak dijabarkan secara detail, misalnya ukuran balok, multiplex, maupun komponen pendukung lainnya, itu harus kita lihat sebagai persoalan kelengkapan analisa, bukan kemudian dianggap bahwa pekerjaan tersebut tidak ada atau tidak dilaksanakan,” tuturnya.

Ia menegaskan, pekerjaan dilaksanakan sesuai kontrak. Namun, kondisi lapangan dapat membutuhkan langkah teknis tertentu untuk memastikan aspek keamanan dan mutu pekerjaan tetap terjaga.

“Pekerjaan kami laksanakan sesuai kontrak, tetapi ketika kondisi lapangan membutuhkan tindakan teknis tambahan untuk menjaga keamanan dan mutu, kami tetap lakukan,” ujarnya.

Baca juga: Ambruk, Evaluasi dan Audit Pengerjaan Trotoar Rp21,7 M Wayhalim

Karena itu, Iqbal berharap persoalan pekerjaan trotoar tersebut tidak semata-mata dinilai dari bunyi analisa secara tekstual, tetapi juga mempertimbangkan fungsi pekerjaan dan kondisi aktual di lapangan.

“Jadi kami harap persoalan ini dilihat secara substansi pekerjaan dan kondisi aktual di lapangan, bukan hanya berdasarkan bunyi item analisa secara tekstual,” katanya.

Ia kembali menegaskan, apabila yang menjadi persoalan adalah tidak adanya uraian bekisting secara spesifik dalam analisa, hal tersebut terbuka untuk dibahas dan dievaluasi. Namun, menurutnya, kondisi itu tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa bekisting tidak terakomodasi atau tidak dikerjakan.

“Kalau persoalannya analisa tidak menjabarkan bekisting secara spesifik, itu kami bisa bahas. Tapi jangan disimpulkan bahwa bekisting tidak ter-cover atau pekerjaan kami tidak ada. Secara fungsi, sudah jelas terakomodasi dalam perancah dan paku pada pekerjaan beton, dan secara fisik memang kami laksanakan di lapangan,” tandas Iqbal. (Hajim)

Berita Terkini