BANJARNEGARA, HELOINDONESIA.COM - Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Universitas Sains Al-Qur'an (Unsiq) Kelompok 44 menggelar pelatihan pembuatan dan perawatan aquaponik di Desa Tlagawera, Kabupaten Banjarnegara, pada Rabu, 26 Agustus 2026 lalu.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa (Pemdes) dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Tlagawera.
Kegiatan ini diinisiasi sebagai upaya pemanfaatan lahan dan sumber daya secara produktif melalui sistem budidaya aquaponik, yakni metode yang memadukan budidaya ikan dengan penanaman sayuran dalam satu sistem yang saling mendukung.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa KPM mengenalkan tahapan pembuatan instalasi aquaponik sederhana, mulai dari perakitan media tanam, sistem sirkulasi air, hingga cara perawatan ikan dan tanaman secara berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, warga yang tergabung dalam PKK Desa Tlagawera turut dilibatkan secara aktif, mengingat aquaponik ini nantinya akan dilanjutkan pengelolaannya oleh PKK setempat. Mahasiswa KPM memberikan pendampingan teknis agar warga benar-benar memahami cara merawat sistem aquaponik secara mandiri setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir.
Salah satu aspek yang menjadi keunggulan program ini adalah pemanfaatan hasil aquaponik untuk mendukung penanganan stunting di Desa Tlagawera. Ikan lele hasil budidaya aquaponik diolah menjadi produk pangan bergizi berupa sempol lele bebas gluten (gluten free), yang kemudian didistribusikan ke posyandu dan balita dengan status stunting di wilayah desa.
Baca juga: Pemkab Wonosobo Perkuat Ekosistem Pariwisata melalui Tata Kelola dan Promosi Terpadu
Ketua Kelompok KPM 44 Lumhatul Ainiyah menjelaskan, inovasi olahan sempol lele gluten free ini dipilih sebagai bentuk intervensi gizi yang mudah diterima oleh balita, sekaligus aman dikonsumsi oleh anak-anak dengan kebutuhan khusus. Ia berharap program ini dapat menjadi salah satu solusi berkelanjutan dalam upaya menekan angka stunting di Desa Tlagawera.
''Kami melihat, dukungan dari Pemdes dan PKK Desa Tlagawera dinilai menjadi kunci penting keberlanjutan program ini. Pihak desa menyambut baik inisiatif mahasiswa KPM dan menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pengelolaan aquaponik setelah program KPM selesai, termasuk memastikan distribusi olahan bergizi kepada posyandu tetap berjalan secara rutin,'' kata Ainiyah dalam keterangan Jumat 4 September 2026.
Perwakilan PKK Desa Tlagawera menyampaikan apresiasi atas pelatihan yang diberikan. Menurutnya, program ini tidak hanya memberikan keterampilan baru bagi warga, tetapi juga membuka peluang usaha rumahan berbasis pangan bergizi yang dapat menopang perekonomian keluarga sekaligus mendukung upaya kesehatan masyarakat.
Melalui program pelatihan aquaponik dan pemanfaatannya sebagai bahan olahan bergizi ini, mahasiswa KPM Kelompok 44 berharap angka stunting di Desa Tlagawera dapat menurun secara bertahap.
Selain itu, program ini juga diharapkan mampu mendorong masyarakat menjadi lebih berdaya dan mandiri dalam mengatasi permasalahan stunting melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan. (Aji)