✕

Jaringan Ikaperta Unila, Modal Besar Jembatani Akademi dan Lulusan

Senin, 28 September 2026 12:24
Elvira Umihanni, S.P., M.T. HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Ketua Umum Ikaperta Unila, Dr. Elvira Umihanni, S.P., M.T mengatakan Program Karir Akademi Ikaperta Unila merupakan bentuk nyata kontribusi alumni Fakultas Pertanian Unila dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia pertanian, sekaligus menjembatani dunia kampus dengan kebutuhan dunia kerja.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Provinsi Lampung itu, jaringan alumni yang kini tersebar di berbagai sektor merupakan modal besar yang tidak semestinya berhenti sebagai ikatan emosional semata. Jejaring tersebut dapat menjadi jembatan bagi mahasiswa dan lulusan untuk mengenal lebih dekat dunia profesional, industri, kewirausahaan hingga peluang karier yang terus berkembang.

Baca juga: Karir Akademi Ikaperta Unila, Menjembatani Kampus dan Dunia Kerja

“Alumni memiliki pengalaman dan jejaring yang sangat beragam. Potensi tersebut perlu dikembalikan untuk memberi manfaat kepada mahasiswa dan lulusan. Karir Akademi menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana alumni ikut menyiapkan generasi muda pertanian agar lebih kompeten dan berdaya saing,” kata Elvira.

Ia menilai, tantangan lulusan pertanian hari ini semakin kompleks. Dunia kerja tidak lagi hanya membutuhkan tenaga yang memahami teori budidaya atau produksi pertanian, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu membaca pasar, membangun jejaring bisnis, berkomunikasi secara profesional, mengelola tim, serta mengikuti perubahan teknologi.

Kebutuhan itu menjadi semakin relevan bagi Lampung. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 26,90 persen terhadap PDRB Lampung pada 2025. Nilai tambah sektor tersebut mencapai sekitar Rp140,92 triliun atas dasar harga berlaku.

Memasuki 2026, peran sektor tersebut tetap besar. Pada Triwulan II 2026, pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 25,92 persen struktur PDRB Lampung atas dasar harga konstan. Pada periode yang sama, sektor ini tumbuh 2,97 persen secara tahunan (year on year).

Angka tersebut menunjukkan bahwa pertanian bukan sekadar cerita tentang sawah, kebun dan komoditas. Di baliknya terbentang rantai ekonomi yang panjang—dari agroinput, produksi, pengolahan, pemasaran, distribusi hingga perdagangan. Di sepanjang rantai itulah terbuka ruang karier baru bagi generasi muda pertanian.

Karena itu, Elvira mengatakan, pembelajaran dalam Karir Akademi dirancang lebih luas dari sekadar penguatan teori pertanian. Mahasiswa dan lulusan akan dibekali kemampuan bisnis, marketing, selling skill, komunikasi profesional, kepemimpinan, kerja tim, manajemen waktu, hingga pemanfaatan teknologi digital dan artificial intelligence (AI).

Pembekalan juga mencakup pemahaman dasar mengenai agroinput, bisnis agroinput, strategi pemasaran, teknik penjualan serta kesiapan memasuki dunia kerja. Dengan pendekatan tersebut, lulusan diharapkan tidak gagap ketika harus menyeberang dari ruang kuliah menuju ruang profesional yang penuh persaingan.

Apalagi transformasi digital kini mulai menjadi bagian penting dari modernisasi pertanian. Kementerian Pertanian bahkan telah menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 637/Kpts./OT.050/A/09/2026 tentang pembentukan Tim Pengembangan Sistem Informasi Pertanian Berbasis Kecerdasan Artifisial. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian sekaligus mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Dengan demikian, kemampuan menggunakan teknologi digital, membaca data dan memanfaatkan AI bukan lagi sekadar nilai tambah. Bagi generasi baru pertanian, kemampuan tersebut semakin dekat dengan kebutuhan nyata industri dan ekosistem agribisnis.

“Harapannya, lulusan Fakultas Pertanian Unila memiliki pilihan dan akses karier yang lebih luas. Mereka tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu berkembang menjadi tenaga profesional yang memahami kebutuhan industri,” ujarnya.

Ikaperta Unila berharap Karir Akademi dapat menjadi ruang pertemuan antara pengalaman alumni, energi mahasiswa dan kebutuhan dunia kerja. Dari sana diharapkan lahir lulusan yang tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa kompetensi, jejaring dan keberanian membaca peluang.

Pada akhirnya, pertanian membutuhkan lebih dari sekadar orang yang mampu menanam. Ia membutuhkan generasi yang mampu mengolah pengetahuan menjadi nilai tambah, membaca pasar menjadi peluang, dan teknologi menjadi alat untuk membuat sektor pertanian semakin produktif dan berdaya saing.

Bagi Lampung, yang perekonomiannya masih ditopang kuat sektor pertanian, investasi pada manusia pertanian berarti menyiapkan masa depan salah satu urat nadi ekonomi daerah. (Rls) 

Berita Terkini