Oleh Darwin Ruslinur
Jurnalis Senior PWI, Mantan Anggota DPRD Lampung,
INNALILAHI WA INNALILAHI RAJI'UN, Rabu, 21 Oktober 2026, kabar duka itu datang menyelimuti Bumi Lampung. H. Santori Hasan, SH, bin Nur Hasan, sosok yang merintis fondasi pemerintahan sekaligus bupati pertama Kabupaten Tulangbawang, Provinsi Lampung telah berpulang ke Rahmatullah.
Ada kabar kepergian seseorang yang cukup kita dengar, lalu berlalu bersama waktu. Namun, ada pula kabar yang membuat kita terdiam cukup lama, seolah pikiran mendadak ditarik kembali ke masa silam, menyusuri lorong-lorong kenangan yang selama ini tersimpan rapi di sudut hati.
Baca juga: Kabar Duka, Santori Hasan Berpulang di RSUDAM, Dimakamkan di Waykanan
Bagi saya, kepulangan Bang Santori, tidak sekadar kehilangan seorang tokoh daerah yang pernah mengukir sejarah bagi masyarakat Tulangbawang, tapi kehilangan seorang sahabat, saudara dalam perjalanan kehidupan, dan teman bertukar pikiran yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan panjang saya sebagai insan pers.
Hari ini, ketika kabar duka itu sampai kepada saya, ingatan tentang beliau datang silih berganti. Wajahnya, percakapannya, suasana kebersamaan kami, hingga sebuah perjumpaan istimewa di Tanah Suci Makkah pada 2004, kembali hadir begitu nyata.
Seakan-akan waktu yang telah berlalu puluhan tahun itu mendadak mendekat, membawa saya kembali kepada masa ketika kami masih sama-sama aktif menjalankan tugas dan pengabdian masing-masing.
Dari Balik Lensa dan Pena, Persahabatan itu Bermula
Saya mengenal Bang Santori pada masa beliau menjabat Kepala Bagian Protokol di era Gubernur Lampung Poedjono Pranyoto (1988-1997). Ketika itu, saya menjalankan tugas jurnalistik sebagai wartawan Harian Umum Suara Karya, surat kabar yang berkantor pusat di Jakarta.
Dunia kami berbeda, tetapi pekerjaan mempertemukan kami di banyak kesempatan. Saya datang membawa pena, kamera, dan rasa ingin tahu seorang wartawan. Saya harus mencari informasi, mengonfirmasi peristiwa, mengajukan pertanyaan, serta menyampaikan kepada publik apa yang berlangsung di lingkungan pemerintahan.
Sementara itu, Bang Santori berada di lingkaran birokrasi, menjadi salah satu sosok yang memahami seluk-beluk agenda gubernur dan dinamika komunikasi pemerintahan. Di ruang-ruang protokol, di sela-sela kegiatan gubernur, maupun dalam percakapan yang terkadang berlangsung singkat, saya mulai mengenal pribadi beliau.
Bagi seorang wartawan, bertemu pejabat mungkin merupakan bagian rutin dari pekerjaan. Ada yang mudah ditemui, ada yang sulit dihubungi, ada yang menjawab seperlunya, dan ada pula yang membuat komunikasi terasa seperti sekadar memenuhi kewajiban.
Namun, dalam ingatan saya, Bang Santori memiliki cara tersendiri dalam membangun hubungan dengan insan pers. Beliau responsif, tegas, dan cerdas. Tetapi yang membuat saya merasa dekat bukan semata-mata karena kemudahan berkomunikasi dengannya.
Ada kehangatan dalam sikapnya, ada keluwesan dalam percakapannya, dan ada penghargaan terhadap profesi wartawan yang saya rasakan dalam hubungan kami. Saya tidak melihat beliau hanya sebagai seorang pejabat yang harus saya temui demi memperoleh berita.
Perlahan-lahan, di balik urusan konfirmasi dan kepentingan pemberitaan, tumbuh hubungan yang lebih manusiawi. Percakapan tidak lagi selalu berakhir ketika urusan pekerjaan selesai. Ada ruang untuk bertukar pandangan, berbagi cerita, dan memahami kehidupan dari sudut pandang masing-masing.
Dari situlah saya belajar bahwa hubungan antara wartawan dan pejabat tidak harus berhenti pada kepentingan profesi. Ia dapat tumbuh menjadi persahabatan yang tulus, selama dibangun di atas rasa saling menghormati dan kepercayaan.
Seorang wartawan tetap harus menjaga pena dan integritasnya. Seorang pejabat tetap harus memahami bahwa pers memiliki tugas untuk bertanya, mengabarkan, dan mengawasi. Namun, di antara perbedaan peran itu, manusia tetap dapat saling menghargai.
Bang Santori adalah salah satu sosok yang membuat saya merasakan bahwa kedekatan seperti itu mungkin terwujud. Ketika urusan pekerjaan berubah menjadi ikatan persaudaraan.
Waktu berjalan. Berita berganti, peristiwa datang silih berganti, dan kesibukan masing-masing terus membawa kami melewati berbagai fase kehidupan. Namun, hubungan yang bermula dari pekerjaan jurnalistik itu tidak ikut memudar. Bagi saya, inilah yang paling berharga dari sebuah persahabatan: ketika hubungan tidak lagi bergantung pada jabatan, kepentingan, atau kebutuhan sesaat.
Ada orang yang dekat dengan kita karena posisi yang sedang kita miliki. Ketika posisi itu berubah, kedekatan pun perlahan menjauh. Ada pula orang yang tetap terasa dekat meskipun waktu berlalu, kesibukan memisahkan, dan urusan pekerjaan tak lagi mempertemukan sesering dahulu.
Bang Santori termasuk orang yang meninggalkan kesan kedua itu dalam kehidupan saya.
Saya mengenangnya bukan hanya sebagai pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung, melainkan sebagai pribadi yang memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan hidup saya.
Persahabatan kami telah melampaui batas hubungan wartawan dan narasumber. Ia tidak lagi sekadar tercatat dalam riwayat pekerjaan, tetapi tersimpan sebagai bagian dari perjalanan batin yang tak mudah dihapus oleh waktu.
Barangkali, ketika masih sama-sama aktif, kami tidak pernah berpikir bahwa suatu hari kelak pertemuan-pertemuan itu akan menjadi kenangan yang begitu berharga. Sebab, pada saat itu, kami hanya menjalani hari sebagaimana mestinya: bekerja, berkomunikasi, berdiskusi, dan sesekali berbagi cerita.
Kita memang sering tidak menyadari nilai sebuah kebersamaan ketika kebersamaan itu masih berlangsung. Baru setelah waktu mengambil jarak, kita mengerti bahwa percakapan yang dahulu terasa biasa ternyata merupakan bagian dari kebahagiaan yang tak dapat diulang dengan cara yang sama.
Makkah, 2004: Ketika Persahabatan Menemukan Makna yang Lebih Dalam
Di antara sekian banyak kenangan bersama Bang Santori, ada satu peristiwa yang menempati ruang paling istimewa dalam ingatan saya: perjumpaan kami di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah pada 2004.
Pertemuan itu bukan lagi perjumpaan dalam suasana tugas jurnalistik, bukan pula pertemuan di tengah kesibukan protokoler pemerintahan. Kami berjumpa di tempat yang mengajarkan manusia untuk menanggalkan kesombongan, merendahkan hati, dan menyadari betapa kecilnya diri di hadapan kebesaran Allah SWT.
Di Tanah Suci, semua manusia datang dengan pakaian ihram dan tujuan yang sama: mengharap rida serta ampunan Allah. Gelar, jabatan, pangkat, dan kedudukan duniawi tidak lagi menjadi hal yang utama. Yang tersisa adalah manusia dengan segala kerendahan hati, membawa doa, harapan, dan kesadaran akan kefanaan hidup.
Seusai melaksanakan lempar jumrah, saya berkesempatan menyaksikan sisi lain Bang Santori. Dalam suasana ibadah itu, saya mengenangnya sebagai sosok yang bersahaja, religius, dan rendah hati. Bagi saya, perjumpaan tersebut memiliki makna yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata.
Ada perasaan haru ketika seseorang yang selama ini kita kenal melalui kesibukan dunia kerja hadir kembali di hadapan kita dalam suasana yang begitu dekat dengan kehidupan rohani.
Jika dahulu kami dipertemukan oleh tugas, di Makkah kami dipertemukan oleh perjalanan ibadah.
Jika dahulu percakapan kami mungkin banyak berkisar pada pekerjaan dan urusan pemerintahan, di Tanah Suci kami sama-sama diingatkan bahwa pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah.
Saya masih menyimpan kenangan itu sebagai bagian yang istimewa dari persahabatan kami. Sebuah perjumpaan yang melampaui urusan profesi, melampaui sekat jabatan, dan melampaui hiruk-pikuk kehidupan dunia.
Kini, ketika Bang Santori telah berpulang, kenangan Makkah itu terasa semakin dalam. Seolah-olah sebuah lembaran kehidupan yang pernah kami lalui bersama kini menjelma menjadi pengingat bahwa setiap perjumpaan memiliki batas waktu, dan setiap kebersamaan pada akhirnya akan sampai pada perpisahan.
Bedanya, perpisahan kali ini tidak lagi memberi kesempatan bagi kami untuk berjumpa kembali di dunia.
Bang Santori dan Jejak yang Ditinggalkan
Sebagai bupati pertama Kabupaten Tulangbawang, Bang Santori memiliki tempat tersendiri dalam sejarah perjalanan daerah tersebut. Merintis sebuah pemerintahan bukanlah pekerjaan sederhana. Ada fondasi yang harus dibangun, tata kelola yang harus dirintis, dan harapan masyarakat yang harus dijawab melalui kerja nyata.
Sejarah akan mencatat kiprahnya sebagai seorang tokoh daerah dan bagian dari generasi perintis pembangunan Tulang Bawang. Jejak pengabdiannya akan menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat yang pernah dipimpinnya.
Namun, bagi saya, warisan seseorang tidak hanya terletak pada jabatan yang pernah diemban atau pembangunan yang pernah dirintis. Ada warisan lain yang tidak selalu tertulis dalam dokumen resmi, tetapi hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya.
Warisan itu berupa sikap, cara memperlakukan sesama, kesediaan membangun komunikasi, dan hubungan baik yang tetap bertahan ketika waktu telah membawa setiap orang ke jalan kehidupannya masing-masing.
Saya mengenang Bang Santori melalui jejak sejarahnya, tetapi saya juga mengenangnya melalui hubungan personal yang pernah kami bangun. Sebab, di balik seorang tokoh yang dikenal masyarakat, selalu ada sisi manusiawi yang mungkin hanya diketahui oleh orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Bagi saya, sisi itulah yang kini terasa begitu dekat sekaligus begitu jauh.
Hari ini, pena saya menulis perpisahan
Bang Santori, hari ini saya menulis tentangmu dengan perasaan yang berbeda dari ketika dahulu saya menulis berita tentang kegiatan pemerintahan.
Dahulu, pena saya bekerja untuk merekam peristiwa, menyusun fakta, dan menyampaikan kabar kepada pembaca. Hari ini, pena yang sama mencoba merekam sesuatu yang jauh lebih personal: rasa kehilangan seorang sahabat.
Saya menyadari bahwa tidak semua kenangan dapat dituliskan secara utuh. Ada kehangatan yang hanya bisa dirasakan, ada percakapan yang hanya dipahami oleh mereka yang mengalaminya, dan ada ikatan batin yang tak sepenuhnya dapat diterjemahkan menjadi rangkaian kalimat.
Namun, saya ingin menuliskan kenangan ini sebagai penghormatan. Bukan semata-mata kepada seorang tokoh yang pernah menduduki jabatan penting, melainkan kepada seorang sahabat yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Terima kasih, Bang, untuk persahabatan yang bermula dari urusan pekerjaan, tetapi tidak berakhir ketika urusan itu selesai. Terima kasih atas kebersamaan, kesempatan bertukar pikiran, dan kenangan yang kini menjadi bagian berharga dari perjalanan saya sebagai insan pers.
Terima kasih pula untuk perjumpaan kita di Tanah Suci pada 2004.
Kenangan itu akan tetap saya simpan, bukan hanya sebagai kisah tentang dua sahabat yang bertemu di Makkah, tetapi juga sebagai pengingat bahwa di tengah perjalanan hidup yang panjang, Allah pernah memberi kesempatan kepada kita untuk berbagi sebuah momen yang begitu bermakna.
Kini, saya hanya bisa mengenangmu melalui jejak yang tertinggal dan mengiringi kepergianmu dengan doa.
Mungkin, suatu hari nanti, ketika saya kembali membuka lembaran-lembaran lama perjalanan jurnalistik, nama dan kenangan tentangmu akan kembali hadir.
Saya akan mengingat masa ketika kita masih dapat bertukar pikiran, ketika tugas mempertemukan kita, dan ketika persahabatan tumbuh tanpa pernah kita duga akan menjadi seberharga ini.
Tetapi hari ini, saya harus menerima kenyataan bahwa perjalananmu telah sampai di penghujungnya.
Selamat Jalan, Bang Santori Hasan.
Di dunia, kita pernah dipertemukan oleh pekerjaan, didekatkan oleh persahabatan, dan dipertemukan kembali oleh ibadah di Tanah Suci. Kini, ketika jalan kita di dunia telah berakhir pada persimpangan yang berbeda, saya hanya bisa mengantarmu dengan doa.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan dosamu, menerima seluruh amal ibadah dan pengabdianmu, melapangkan alam kuburmu, menerangi tempat peristirahatanmu, serta menempatkanmu di sisi-Nya bersama orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah melimpahkan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan dalam menghadapi kehilangan ini.
Selamat Beristirahat, Bang.
Jabatanmu telah menjadi bagian dari sejarah. Pengabdianmu menjadi bagian dari perjalanan daerah. Namun, bagiku, persahabatan kita akan tetap menjadi bagian dari cerita kehidupan yang tak akan lekang oleh waktu.
Hari ini, pena saya mungkin telah selesai menuliskan kisah ini. Tetapi kenangan tentangmu tidak akan berhenti di sini.
Sebab, ada orang-orang yang ketika hidupnya berakhir, namanya tetap tinggal dalam sejarah. Ada pula yang menetap di dalam hati orang-orang yang pernah mengenalnya. Bagiku, Bang Santori adalah keduanya. Al-Fatihah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. ***