✕

Titik Api Baru Muncul di Gondosuli, Ahmad Luthfi Perintahkan Penyisiran Total

Senin, 26 Oktober 2026 18:48
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat memimpin rapat terbatas bersama bupati Karanganyar, BPBD dan relawan

KARANGANYAR, HELOINDONESIA.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Lawu belum sepenuhnya usai. Meskipun sempat dinyatakan padam pada Minggu (25/10/2026), sebuah titik api baru terpantau kembali di kawasan atas Gondosuli, Karanganyar, pada Senin 26 Oktober 2026.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, langsung turun tangan meninjau lokasi dan menggelar rapat terbatas bersama Bupati Karanganyar Rober Christanto, BPBD, serta para relawan di Pos Sakura Hills, Tawangmangu. Dalam arahannya, Gubernur Luthfi memerintahkan seluruh petugas dan relawan untuk tetap bertahan di pos masing-masing guna melakukan penyisiran menyeluruh.

"Satu titik api ini penting untuk kita evaluasi agar tidak timbul titik api lain. Saya sudah koordinasi dengan Bupati dan BPBD, nanti heli BNPB di Lanud Adi Soemarmo akan diterjunkan satu sorti lagi, tetapi tetap melihat situasi cuaca," tegas Luthfi.

Baca juga: Drama Adu Penalti di Porprov Futsal: Kebumen Sisihkan Semarang, Segel Tiket Final!

Gubernur Luthfi meminta seluruh personel tidak meninggalkan pos terlebih dahulu. Evaluasi dan penyisiran perlu dilakukan secara menyeluruh, mengingat api yang sempat padam masih berpotensi muncul kembali.

Menurut dia, penanganan karhutla di Gunung Lawu membutuhkan kerja bersama pemerintah, TNI-Polri, BNPB, BPBD, Perhutani, dan masyarakat. Selain pemadaman, langkah pencegahan harus diperkuat agar kebakaran serupa tidak kembali terjadi.

“Kita perlu lebih gencar melakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi kebakaran lagi. Hutan harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Di tengah upaya pemadaman, Luthfi menekankan pentingnya mencegah kebakaran yang dipicu aktivitas manusia. Sosialisasi dan peringatan kepada masyarakat perlu digencarkan, terutama agar tidak membakar sampah sembarangan, membakar kawasan hutan, maupun membuang puntung rokok yang berpotensi memicu api.

Ia mengingatkan, tindakan sengaja yang mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan dapat berujung pada proses pidana sesuai ketentuan hukum.

Pelibatan Masyarakat

Luthfi juga meminta masyarakat setempat dilibatkan dalam pengawasan kawasan rawan kebakaran. Warga dinilai memiliki pengetahuan mengenai karakter wilayah dan kondisi lingkungan di sekitarnya yang penting untuk mendukung upaya pencegahan.

Adapun penyebab kebakaran di Gunung Lawu hingga kini masih diselidiki. Luthfi meminta proses penyelidikan diserahkan kepada kepolisian untuk memastikan apakah kebakaran dipicu kelalaian manusia, gesekan antarpohon, atau faktor lainnya.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharto, mengatakan, kebakaran di Gunung Lawu sempat dinyatakan padam pada Minggu (25/10/2026). Namun, pemantauan pada Senin pagi menemukan titik api baru di atas Gondosuli.

Helikopter BNPB disiapkan untuk kembali melakukan water bombing, dengan mempertimbangkan kondisi cuaca terkini.

Sugiharto menyebut operasi pengeboman air sebelumnya telah dilakukan sebanyak 34 kali. Dengan kapasitas sekitar 2.000 liter air dalam setiap penyiraman, total air yang dijatuhkan untuk memadamkan kebakaran di kawasan tersebut mencapai sekitar 68.000 liter.

Meski demikian, upaya pemadaman menghadapi tantangan karena karakteristik lahan di Gunung Lawu. Pada sejumlah lokasi, lapisan ilalang yang menumpuk di permukaan tanah dapat mencapai ketebalan sekitar 30 sentimeter. Kondisi ini membuat bara api berpotensi bertahan di bawah lapisan vegetasi meskipun api di permukaan telah padam.

“Karhutla Gunung Lawu ini kalau api padam bisa muncul lagi karena ada sebagian karakter tanah Lawu tertumpuk lapisan ilalang, bahkan ada yang sampai 30 cm seperti lahan gambut. Jadi perlu penanganan khusus,” kata Sugiharto.

Ia menambahkan, petugas telah mendapat cairan khusus untuk membantu memadamkan api hingga ke bagian dalam lapisan tersebut. Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya yang belum dilakukan.

Baca juga: Suara Bergetar Gubernur Luthfi Doakan Syabilla di Opening Porprov: Kami Sangat Kehilangan

Selain penanganan darurat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang. Luthfi meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Karanganyar, serta Perhutani merancang pembangunan embung, tandon air, maupun saluran air di kawasan yang membutuhkan.

Infrastruktur tersebut diharapkan dapat menjadi sumber air cadangan ketika terjadi kebakaran, terutama saat musim kemarau panjang.

“Geografis wilayah kita sangat susah, ada gunung dan lereng. Apalagi kalau kemarau panjang,” ujar Luthfi.

Menurut dia, penyediaan sumber air harus menjadi bagian dari perencanaan mitigasi bencana, bukan hanya dilakukan setelah kebakaran terjadi. Dengan dukungan infrastruktur, kesiapsiagaan petugas, dan keterlibatan masyarakat, risiko kebakaran berulang di kawasan Gunung Lawu diharapkan dapat ditekan. (Aji)

Berita Terkini