Helo Indonesia

Situs KPU Rentan Diretas Bisa Picu Chaos di Pemilu 2024

Drajat Kurniawan - Nasional -> Politik
Selasa, 5 Desember 2023 15:28
    Bagikan  
Roy Suryo,
Foto: tangkapan layar

Roy Suryo, - Mantan Menpora Roy Suryo menyebut acara goyang Rungkad di Istana pada HUT Kemerdekaan RI ke 78 mirip tarian genjer-genjer di film Pengkhianatan G 30 S.

HELOINDONESIA.COM - Pakar telematika Roy Suryo menilai situs resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Indonesia yang rentan diretas, bakal berpotensi menimbulkan masalah lebih besar.

Roy menyampaikan, potensi adanya peretasan hasil Pemilu Presiden sangat mungkin terjadi. 

“Bisa saja diretas, kemudian ada calon yang tadinya kalah jauh, tiba-tiba dalam hitungan cepat bisa naik pesat suaranya. Hal ini harus diantisipasi karena keamanan data KPU belum maksimal,” kata dia di Jakarta, Selasa (5/12).

Menurut dia, peretasan ini tidak hanya berdampak kerugian besar secara teknis, tetapi juga secara sosial politik.

“Bisa saja memicu chaos karena masyarakat dikecewakan,’’ kata Roy yang juga mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga ini.

Baca juga: PSI Desak KPU Tetap Gelar Debat Cawapres

Dia mengungkapkan, kekhawatiran hasil pemilu nanti dapat diretas, kemudian menggoyangkan kepercayaan masyarakat terhadap integritas proses demokrasi.

"Itu membuat orang khawatir jangan-jangan nanti hasil dari pemilu bisa diretas,” kata Roy 

Untuk itu, peretasan data tidak boleh hanya dipahami secara teknis, tetapi juga harus dipandang dari aspek sosial politik. Terlebih lagi, dengan biaya demokrasi yang sangat besar, mencapai Rp76,6 triliun rupiah untuk Pemilu 2024.

“Kalau hanya secara teknis menjadi signifikasi terlalu terlalu simpel memandangnya padahal dampaknya terlalu besar ke masyarakat,” kata Roy Suryo.

Baca juga: Data Pemilih Diduga Bocor, DPR RI Tuntut KPU Bertanggung Jawab

Dia menyoroti alokasi anggaran KPU RI sebesar Rp 76,6 triliun untuk Pemilu 2024. Seharusnya KPU lebih memprioritaskan pengamanan data daripada mengalokasikan dana untuk kegiatan yang dianggap remeh temeh seperti pawai, karnaval, atau deklarasi damai. “Buat apa kayak-kayak gitu lho. Gimik banget,” tegasnya 

Khusus pencurian data pemilih juga bisa dapat disalahgunakan untuk kepentingan lain. Misalnya, dengan data lengkap seperti nama, tanggal lahir, dan NIK, pelaku dapat melakukan penipuan atau kejahatan finansial, dalam aplikasi pinjaman online.

“Misalnya seseorang datanya diambil digunakan untuk aplikasi pinjaman online, ini akan berbahaya karena data-datanya lengkap,” ucap Roy Suryo.

Dalam konteks penerimaan input dari seluruh Indonesia untuk tabulasi data Pemilu dan Pilpres 2024, KPU juga dihadapkan pada tantangan untuk menjaga keamanan, mengingat sifatnya yang semi terbuka.

Baca juga: Diduga Adanya Kebocoran Data Pemilih di KPU, Bareskrim akan Segera Selidiki

Sehingga, perlu ada jaminan terkait kejujuran ribuan staf yang direkrut untuk menginput data hasil Pilpres 2024. Sebab dalam kondisi semi terbuka, risiko peretasan tetap tinggi, dan upaya harus dilakukan untuk mencegah kemungkinan manipulasi data.

“Ini harus benar-benar dipastikan atau di sumpah kerahasiaan nya, jangan sampai nanti dia dengan mudahnya username-nya apalagi passwordnya itu diumbar ke mana-mana,” imbuh Roy Suryo.

Sebelumnya, situs resmi KPU diisukan menjadi target peretas yang dikenal sebagai Jimbo. Menurut Lembaga Keamanan Siber, Cissrec, Jimbo berhasil mengakses data sekitar 247 juta pemilih