Helo Indonesia

Momentum Hardiknas, UBL Transformasi Pendidikan Tinggi: Fokus Talenta dan Masa Depan Karier Mahasiswa

Prty - Teknologi
1 jam 42 menit lalu
    Bagikan  
Momentum Hardiknas, UBL Transformasi Pendidikan Tinggi: Fokus Talenta dan Masa Depan Karier Mahasiswa

Prof. Dr. M. Yusuf S. Barusman

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ---- Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 menjadi momentum bagi Universitas Bandar Lampung (UBL) untuk menegaskan transformasi pendidikan tinggi yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Kampus ini memperkuat posisinya sebagai career and talent platform yang berorientasi pada pengembangan talenta serta kesiapan karier mahasiswa di tengah dinamika dunia industri.

Di tengah disrupsi teknologi, digitalisasi, dan perubahan cepat lanskap pekerjaan, UBL menilai perguruan tinggi tidak lagi cukup menjalankan fungsi akademik secara konvensional. Kampus dituntut mampu menghadirkan ekosistem pembelajaran yang terintegrasi dengan pengembangan kompetensi dan arah karier mahasiswa sejak dini.

Rektor UBL, Prof. Dr. M. Yusuf S. Barusman, MBA, menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus bergerak lebih dinamis dan tidak terjebak pada pola pembelajaran yang kaku. “Dunia kerja berubah sangat cepat. Perguruan tinggi tidak bisa hanya fokus pada ruang kelas, tetapi harus membangun sistem yang membantu mahasiswa memahami potensinya, mengenali kebutuhan industri, dan menyiapkan jalur karier sejak awal,” ujarnya, Senin (4/5/2026).

Menurutnya, relevansi pendidikan ke depan tidak lagi ditentukan oleh pilihan jurusan semata, melainkan oleh kemampuan institusi dalam menciptakan sistem pembelajaran yang fleksibel dan terhubung dengan perkembangan industri.
“Yang terpenting hari ini bukan sekadar memilih jurusan, tetapi bagaimana mahasiswa mampu beradaptasi, reskill, dan terus berkembang mengikuti perubahan,” katanya.

Melalui konsep career and talent platform, UBL menghadirkan pendekatan pendidikan yang lebih personal dan adaptif. Mahasiswa didorong untuk membangun jalur belajar sesuai minat, bakat, dan tujuan karier, termasuk melalui eksplorasi lintas disiplin ilmu dan pengalaman berbasis kebutuhan industri.

UBL menilai pendekatan ini relevan dengan pola dunia kerja saat ini yang tidak lagi linear. Satu bidang ilmu dapat membuka berbagai peluang industri, sementara satu sektor industri membutuhkan kombinasi kompetensi dari beragam disiplin.
“Pendekatan seragam sudah tidak relevan. Setiap mahasiswa memiliki potensi dan arah yang berbeda, sehingga sistem pembelajaran juga harus fleksibel dan personal,” lanjut Yusuf.

Dengan 12 program studi Sarjana (S1), 4 program Magister (S2), dan 2 program Doktoral (S3), UBL menyebutkan bahwa mahasiswa memiliki lebih dari 3.000 kemungkinan jalur karier yang dapat dikembangkan melalui kombinasi kompetensi, pengalaman proyek industri, serta konektivitas profesional selama masa studi.

Selain penguatan akademik, UBL juga menekankan pembentukan independent learner, yakni mahasiswa yang mampu belajar secara mandiri dan berkelanjutan di tengah perubahan global. “Ke depan, kompetensi paling penting bukan hanya apa yang dipelajari hari ini, tetapi kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menciptakan nilai. Itu yang sedang kami bangun di UBL,” tutupnya.( rls)