Helo Indonesia

Bongkar Jokowi Inginkan Dua Paslon Saja di Pilpres 2024, Romahurmuziy Ungkap Dua Alasannya

Winoto Anung - Nasional -> Politik
Jumat, 12 Mei 2023 23:25
    Bagikan  
Presiden Jokowi saat menjelaskan harga-harga bahan pokok dan infrastruktur (Foto Ist)
Presiden Jokowi saat menjelaskan harga-harga bahan

Presiden Jokowi saat menjelaskan harga-harga bahan pokok dan infrastruktur (Foto Ist) - Presiden Jokowi saat menjelaskan harga-harga bahan pokok dan infrastruktur (Foto Ist)

HELOINDONESIA.COM - Politisi PPP Romahurmuziy membonngkar keinginan Presiden Jokowi yang menginginkan hanya dua pasangan calon (paslon) capres – cawapres pada Pilpres 2024 mendatang. Romahurmuziy mengungkap dua alasan yang disampaikan Presiden Jokowi sehingga mengapa ingin hanya ada dua paslon capres-cawapres.

Pertama karena masalah anggaran, kalau dua paslon hanya satu putaran, dan yang kedua masalah keterbelahan jangan terlalu lama terjadi.

“Ya namanya juga Presdien ingin kontestasi besok itu mudah dan murah. Kan kalau dua paslon satu putaram negara,  tidak terlalu banyak anggaran lagi untuk untuk putaran kedua,” kata Romahurmuziy dalam bincang Chanel Youtube Gaspol.

Baca juga: Lumpuhnya Bank Syariah Indonesia Oleh Serang Siber, Perlu Waspadai Orang Dalam Hingga Hackers

Ketua Majelis Pertimbangan PPP itu mengatakan, maslaah anggaran akan bertambah kalau tiga paslon, karena harus ada dua putaran. Selain itu, kalau tiga paslon akan terjadi pembelahan lebih lama.

“Yang kedua, kalau dua paslon, masyarakat tidak terlalu berlama-lama terbelah. Tapi kalau tiga paslon kan terbelah jadi tiga. Setelah itu belahan yang kalah, terblah lagi, atau mengelompok ke satu saja,” tandas Romi, pangilan akrabnya.

Dia menambahkan, Presiden Jokowi juga melihat masalah Pilpres akan membuat pembelahan lama dan ,enmghabisakan waktu untuk publik mengalami kondisi seperti itu, dan jua membuang energi leboh banyak bagi bangsa ini.

 “Jadi terlalu lama kontesasi ini menghabiskan perhatian publik dan energi bangsa ini. Sebenarnya itu saja, jadi ambil praktisnya saja Presiden Jokowi,” ujar Romahurmuziy.

Baca juga: Mardiono Dan Suharso Jadi Penonton di Pileg 2024, PPP Tidak Mendaftarkan ke KPU

Namun, Romi tidak membongkar apakah dua palson ini harus dari all president’s man (semua orangnya Presiden) atau orangnya Presiden vs Cawapres Anies Baswedan. “Oh, nggak tahu kalau itu, tanyakan ke Pak Jokowi,” katanya.

“Kalau saya jadi Presiden, maka keinginan all the president’s man itu wajar, sesuatu yang alamiah. Kenapa? Satu, saya nggak ingin mebangunan yang sudah saya bikin diacak-acak. Nggak usah jauh-jauh kemarin antara Pak Anies dan Pak Heru, trotoar jadi jalan. Ribut,” katanya.

“Gimana nanti kalau waduk jadi tempat rekerasi, IKN menjadi monumen apa.  Ini  kan lebih dahsyat lagi, dan melibatkan angka ribuan triliun. Ini hal-hal yang membuat Pak Jokowi berkeingian Presiden besok paling mengetahui persoalan saat ini, mengetahui dasar filosofis mega proyek yan gdilakukan Jokowi, dan memahami hal-ha,k teksnis yang menyertai.,” ujar Romahurmuziy

Ia mencontohkan lagi, misalnya, KA Cepat Jakarta Bandung tidak selesai,  padahal ting-tiang dan jura bentangan rel sudah ada, lantas Presiden berikutnya menyatakan stop karena merugikan negeri, itu yang tidak diinginkan

Baca juga: Moncer di Survey, PDIP Klaim Warga Jakarta Masih Ingin Ahok Jadi Gubernur

“Misalnya, KA Cepat Jakarta-Bandung nggak selesai,  terus sudah berdiri semua tiang di sana atau relnya, terus Presiden besok menyatakn ini merugikan negara, nggak, stop. Coba mau jadi apa. Itu akan jadi monumen termahal dalam sejarah Indonesia,” kata Romi.

 Apalagi kalau kemudian Presidennnya tidak melajutkan IKN, sudah Rp 100 triliun akan dikucurkan sampai 2024.  “Terus tidak dilanjutin, itu akan jadi monumen termahal, lebih mahal dari candi Prambanan,” ujarnya. (*)

(Winoto Anung)