LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM --- Dua warga Desa Muara Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, Emi dan Sujito, menitipkan dua harapan kepada cagub-cawagub nomor urut 2, Rahmat Mirzani Djausal-Jihan Nurlela (Mirza-Jihan) jika menang terpilih terlantik memimpin Lampung hingga 2029 mendatang.
Dalam kesempatan sebelum kedua, Emi, ibu rumah tangga yang suaminya bekerja sebagai buruh pabrik BW, berharap duet Mirza-Jihan menang Pilgub 27 November lalu bergegas tunaikan program kerja unggulannya demi peningkatan kesejahteraan rakyat kecil seperti dirinya agar dapat memperbaiki nasib.
Sadar masa jabatan cuma lima tahun, Emi sesederhana itu, mengungkapkan sembari terkekeh ulah pemandu acara mengajaknyi dialog penuh selingan canda, bahwa ia cuma ingin anak-anaknya tak bernasib seperti ia dan suami.
"Kalau saya kepengennya anak-anak saya terjamin sekolahnya, setelah lulus bisa kerja yang layak, jangan seperti kami orang tuanya. (Jadi kalau orangtuanya cuma buruh pabrik, ibu pengen anak ibu bisa punya pabrik ya bu) Aamiin. Iya maksud saya mereka bisa punya masa depan yang lebih baik, lebih terjamin," tutur Emi.
Sementara, Sujito, warga lainnya sekaligus dirijen dadakan pemandu kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya pembuka acara, berharap kemenangan total bagi paslon 2 Mirza-Jihan dan paslon 1 Ela-Azwar, kelak dapat membawa perubahan besar dalam proses pembangunan daerah.
"Termasuk di desa kami ini Muara Jaya, yang masuk di kecamatan ibu kota kabupaten ini. Kami ingin desa kami ini maju, harga hasil pertanian perkebunan kami terjaga. Kami yakin pilihan kami tidak salah. Mirza-Jihan? (Gubernur!) Ela-Azwar? (Bupati!)" penggalan aspirasi Sujito. Dia kelewat bersemangat.
Emi dan Sujito, serta seluruh warga rerata berprofesi petani, pekebun, buruh tani, dan pelaku usaha ultramikro dan minimikro ini, dua jam lamanya sabar menunggu ketibaan tim Penggerak Desa TPT Mirza-Jihan, yang telat 22 menit usai berkampanye senada di titik sebelumnya, Desa Purwosari, Kecamatan Marga Sekampung, Lampung Timur.
Setibanya langsung dibuka Indonesia Raya pas pukul 16.02 WIB lanjut doa bersama, disusul pidato pembuka tim Penggerak Desa TPT Mirza-Jihan Lampung Timur, Afrianando Sanjaya, penanggung jawab kampanye.
Sesudah itu, jurkam tim Penggerak Desa TPT Mirza-Jihan, Abu Hasan dan Davit Kurniawan bergantian berpidato. Abu Hasan memantik antusiasme warga dengan berkisah singkat dia sempat ikut daftar bacawagub saat musim penjaringan calon, akhirnya gagal, berdasar keputusan orang banyak di jejaring sosialnya, mantap dukung menangkan Mirza-Jihan.
"Karena kita ingin Lampung maju kan pak bu. Kita ingin dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo, dan gubernur dan bupatinya yang segaris komando tegak lurus, apa yang masih tertinggal butuh kita kejar, kita kejar kerjakan. Sebab itu kita butuh pemimpin yang mampu gerak cepat kerjakan itu. Mirza-Jihan dan Ela-Azwar. Setuju pak bu," petikan pidato Abu, aktivis 98, Koordinator Presidium FGD Desa Kawasan Hutan (DKH) Lampung naungi 580 DKH se-Lampung sejak 2022 hingga kini.
Sefrekuensi, jurkam Davit Kurniawan, aktivis digitalisasi desa Indonesia, CEO DJ Corp dan inovator SEDSA.id ini bedah singkat profiling program kerja unggulan paslon 2 Mirza-Jihan terkait pemajuan desa Lampung. Davit ajak warga terlibat aktif dalam berbagai agenda pembangunan desa. Termasuk, melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Menariknya, kampanye diisi pula pembacaan bersama ikrar menolak politik uang, dipandu tim Penggerak Desa TPT Mirza-Jihan, Hefni, kebetulan dia juga Ketua Laskar Merah Putih Lampung Timur dan Ketua Relawan RAMPAS 08 Prabowo Lampung.
Tim membagikan contoh surat suara, kaos, kalender, stiker, serta memperagakan tata cara pencoblosan dipandu Afrianando. Lucunya, lantaran darurat lupa sedia paku, plastik ukuran lidi sedotan air minum dalam kemasan jadi paku darurat cucuk gambar.
Kampanye tatap muka terbatas Mirza-Jihan ini ditempel ketat waskat petugas Pengawas Pemilu Desa/Kelurahan (PKD) Desa Muara Jaya dan Bawaslu Lamtim, aman pula dijaga aparat Bhabinkamtibmas dan Babinsa Muara Jaya serta Polsek Sukadana Polres setempat. Hingga jelang ufuk senja mengukir, acara pun berangsur berakhir. (Muzzamil)
