HELOINDONESIA.COM - Presiden Jokowi berbicara soal kepemimpinan nasional dan kesinambungan kepemimpinan. Jokowi mengibaratkan kepemimpinan nasional seperti tongkat estafet yang dibawa berlari bergantian dengan satu tujuan bersama. Ternyata, hal ini mendappat tanggapan luas.
“Kepemimpinan itu ibarat tongkat estafet, dibawa berlari bergantian dengan satu tujuan bersama. Harus ada keberlanjutan dan kesinambungan,” tulis Presiden Jokowi (@jokowi).
Dalam unggahan itu, Jokowi menyertakan pernyataan dalam video dari sebuah acara, Jokowi menyebutkan, kepemimpinan berkesinambungan itu seharusnya kalau sudah TK, SD, SMP, SMA, lantas ke universitas. Kepemimpinan berikutnya S2, S3.
“Harus ada keberlanjutan dan kesinambungan, harus. Kalau sudah kepemimpinan satu, kedua, ketiga, sudah sapai ke SMA mestinya kepemimpinan yang keempat itu diteruskan untuk masuk ke Universitas. Jangan balik lagi ke SD lagi. Setuju?” kata Jokowi.
Baca juga: Resmi Jadi Pemain Real Madrid, Jude Bellingham Pakai Nomor 5 Milik Idolanya
“Kepemimpinan itu ibarat tongkat estafet, sekali lagi kepemimpinan itu ibarat tongkat estafet, bukan meteran Pom Bensin. Kalau meteran Pom bensin itu : Pak dimulai dari nol lagi ya?” lanjutnya.
“Apakah kita mau seperti itu? Ndak, kan? Masa'kayak meteran pom bensin. Mestinya, kalau sudah dari TK, SD, SMP, ini ya kepemimpinan berikut masuk ke SMA, universitas, nanti kepemimpinan berikut masuk ke S2, S3, mestinya seperti itu. Tidak maju mundur,” kata Jokowi.
MP3EI dan Mangkrak 5 Persen
Salah satu tanggapan datang dari pegiat media sosial (medsos) Munir dengan akun @Munir_Timur. Dia membuat cuitan cukup Panjang, dan kemudian ada sejumlah netizen memberi tanggapan. Munir membut cuitan dengan judul: Apa Bapak Pikir Rakyat RI Ini Dongo Semua?
“Kalau bapak komit dengan kepemimpinan yang "berkesinambungan," mestinya bapak dukung program MP3EI @SBYudhoyono,” ujar Munir.
Yang dia maksudkan MP3EI adalah Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang dibuat era Presiden Susilo Bambang Yudhono (SBY).
Munir menjelaskan, MP3EI merupakan suatu blue print ekonomi nasional berdasarkan wilayah koridor ekonomi yang telah dibuat di era SBY dan sudah diterjemahkan dalam bentuk perencanaan pembangunan nasional hingga besaran nilai investasi dari wilayah koridor ekonomi I-VI.
“Bapak datang dengan ekonomi Nawacita yang sampai sekarang membuat pertumbuhan ekonomi mangkrak di 5% (5 persen). Itu artinya ekonomi kita butuh transformasi, agar dapat terakselerasi menuju--mendekati potensinya,” tulis @Munir_Timur.
Dia juga mengoreksi penggunaan yang diberikan Presiden Jokowi, yakni analogi kesinambungan kepemimpinan seperti SD, SMP dan SLTA, ini sesuatu yang tidak tepat.
Baca juga: Media Singapura: Putra Bungsu Presiden Jokowi Bersiap Ikut Pilwalkot Depok
“Analogi bapak soal kepemimpinan ibarat jejang sekolah SD, SMP dan SLTA tidak tepat. Kepemimpinan itu suatu tugas transformasi. Terkecuali kebijakan ekonomi bapa itu benar-benar sophisticated, barulah perlu dipertahankan tanpa tawar menawar,” tulis @Munir_Timur.
Juga kata harus dipermasalahkan. “Frase "harus" yang bapak pakai untuk memutlakkan istilah "kesinambungan" itu lebih dekat pada idiom-idiom otoriterianisme. Transformasi selalu tumbuh dalam pilihan kreatif yang beragam, tidak dari dalam pilihan-pilihan tunggal yang absolut,” tulisnya.
“Apalagi frasa "harus dan berkesinambungan" yang bapak ucapkan dalam konteks kepemimpinan nasional, dipersonifikasikan pada salah satu figur politik secara absolut. Ini merusak demokrasi,”{ tulis @Munir_Timur.
Dia berharap agar Presiden Jokowi pensiuan dan kelak jadi negarawan. Kalau terlalu memaksakan kehendak, jelas menjadikan Sang Presiden tidak akan jadi negarawan.
“Pensiunlah dengan menjadi negarawan. Itu lebih baik buat bapak. Dari pada terlalu banyak memaksakan kehendak, akhirnya menempatkan bapak tidak sebagai negarawan sejati,” akun @Munir_Timur. (*)
(Winoto Anung)
