JAKARTA, HELOINDONESIA.COM -- Setelah antarpendukung adu jotos, kubu Muhamad Mardiono versus Agus Suparmanto saling klaim terpilih aklamasi pada Muktamar ke-10 PPP di Ballroom Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Minggu (26/9/2025) diri hari.
Kubu Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono, dan Menteri Perdagangan periode 2019-2020 Agus Suparmanto saling klaim terpilih secara aklamasi jadi ketua umum PPP Periode 2025-2030.
Baca juga: Adu Jotos Saat Pembukaan Muktamar ke-10 PPP, Sejumlah Kader Luka
Dari kubu Agus Suparmanto, Pimpinan Sidang Paripurna VII Muktamar ke-10 PPP, Qoyum Abdul Jabbar yang menyampaikan bahwa sudah kehendak para muktamirin aklamasi memilih Agus Suparmanto sebagai ketum PPP Periode 2025-2030.
Dari kubu Mardiono, Pimpinan Sidang Muktamar ke-10 PPP Amir Uskara, dalam konferensi pers di sela-sela muktamar yang berlangsung tertutup menyatakan Mardiono terpilihnya aklamasi dalam Muktamar ke-10 PPP.
Namun, klaim kubu Mardiono, dibantah Ketua Umum Majelis Pertimbangan DPP PPP, Muhammad Romahurmuziy. Menurut dia, klaim kubu Mardiono disampaikan sepihak dan sebagai upaya memecah belah partai.

Muktamar ke-10 PPP berubah jadi ajang saling adu jotos saat Plt Ketum PPP, Muhammad Mardiono naik ke atas di Ballroom Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (26/9/2025).
Kericuhan saat sidang tersebut dipantik ketika sejumlah kader meneriakkan yel-yel penolakan terhadap kepemimpinan Muhammad Mardiono. Meledak, saat sebagian peserta sidang mencoba menghentikan sambutan Mardiono.
Adu mulut tak terelakkan, bahkan sejumlah kursi berterbangan. Bentrokan fisik pun terjadi. Beberapa kader terluka di bagian kepala dan bibir dan di antaranya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
Pengamat sekaligus Peneliti Indikator Politik, Bawono Kumoro, menilai kericuhan yang terjadi dalam Muktamar PPP sangat memprihatinkan. Menurutnya, forum tertinggi partai seharusnya menjadi ruang mediasi, bukan ajang konflik.
“Ya apa yang terjadi pada muktamar PPP kemarin, di mana terjadi kericuhan, lempar-lempar kursi dan cenderung anarkis dalam muktamar sebuah partai Islam tentu sangat memprihatinkan,” ujar Bawono, Minggu (28/9/2025).
Ia menekankan, muktamar sebagai forum paling terhormat semestinya dapat menjadi sarana menyelesaikan berbagai perbedaan dan kepentingan di internal partai. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
“Bagaimana bisa, forum tertinggi, forum paling terhormat dari sebuah partai Islam, muktamar itu justru menjadi ajang konflik. Harusnya kan muktamar itu menjadi alat terbaik untuk memediasi konflik dan juga berbagai kepentingan terdapat di partai tersebut, justru ini menjadi hal berkebalikan,” tegasnya.
Bawono menilai kondisi ini akan merugikan PPP dalam jangka panjang. Partai berlambang Ka’bah itu, masih memiliki pekerjaan besar untuk mengembalikan martabat politik mereka di pentas nasional, termasuk merebut kursi di DPR RI.
“Nah ini tentu akan merugikan PPP sendiri ke depan, di saat mereka memiliki PR besar untuk mengembalikan martabat politik mereka, kembali hadir ke DPR RI, memiliki kursi di DPR RI, tapi secara internal mereka bermasalah dalam hal soliditas seperti ini,” jelas Bawono. (HBM)
-
