LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Sembilan bulan bukan waktu yang pendek dalam politik. Namun, sepanjang itu pula Musda XI Partai Golkar Bandarlampung tertahan, sebelum akhirnya dijadwalkan kembali pada 21 September 2026. Yang menarik, ketika Musda akhirnya hendak digelar, konstelasi kandidat pun berubah.
Jika pada akhir tahun lalu nama Benny HN Mansyur dan Handitya Narapati SZP yang mengemuka, kini muncul satu nama dengan modal politik yang disebut lebih lengkap: Rycko Menoza SZP. Anggota DPR RI dan mantan Bupati Lampung Selatan itu menyatakan siap bertarung merebut kursi Ketua DPD Partai Golkar Bandarlampung.

Bahlil dan Rycko
Bukan sekadar menyatakan maju, Rycko juga mengklaim telah mendapatkan restu sekaligus perintah Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia. Ia juga mengklaim telah memperoleh dukungan sejumlah pimpinan kecamatan (PK), yang merupakan pemilik suara dalam Musda.
Dari kombinasi restu DPP dan dukungan PK itu, Rycko bahkan membuka kemungkinan Musda berlangsung secara aklamasi. Di titik inilah dinamika sembilan bulan penundaan Musda menjadi menarik.
Sebab, sejak akhir tahun lalu hingga memasuki September 2026, forum yang seharusnya menjadi arena pertarungan kader itu belum juga menemukan waktu pelaksanaan. Sementara kandidat yang sebelumnya disebut-sebut, Benny dan Handitya, kini menghadapi konstelasi baru dengan masuknya Rycko.
Apakah penundaan panjang itu sekadar persoalan kesiapan organisasi? Ataukah memang ada proses konsolidasi yang belum menemukan titik temu? Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari dinamika internal Golkar Bandarlampung.
Terlebih, Musda bukan sekadar agenda seremonial. Di dalamnya terdapat pertarungan dukungan, distribusi suara, konsolidasi PK, serta legitimasi kepemimpinan lima tahun ke depan. Kini, setelah berbulan-bulan tertunda, tanggal 21 September menjadi titik penentuan.
Plt Ketua DPD Partai Golkar Bandarlampung Riza Mirhadi dan Ketua Panitia Musda, Benny HN Mansyur, menyatakan siap menggelar Musda XI di Gedung Graha Karya Utama Golkar Provinsi Lampung.
Bila benar dukungan PK telah terkonsolidasi seperti diklaim Rycko, Musda bisa berlangsung tanpa pertarungan terbuka. Aklamasi menjadi jalan yang mungkin ditempuh.
Namun, sebelum palu sidang diketukkan, semua masih berada dalam ruang politik. Restu DPP harus diterjemahkan dalam mekanisme organisasi. Dukungan PK harus dibuktikan dalam forum Musda. Sedangkan aklamasi baru menjadi kenyataan ketika forum secara resmi menyepakatinya.
Yang pasti, sembilan bulan penantian telah mengubah peta. Dari Benny dan Handitya yang mencuat pada akhir tahun lalu, kini Rycko muncul di garis depan. Musda yang lama tertunda akhirnya memiliki tanggal, kandidat baru.
Pertanyaan besarnya: Apakah sembilan bulan penundaan itu akhirnya benar-benar menjadi karpet merah bagi Rycko menuju kursi Ketua Golkar Bandarlampung? Jawabannya akan ditentukan di ruang Musda, 21 September mendatang. (HBM)
