Helo Indonesia

Puji Pidato AHY, Pengamat Politik Ini Sebut Canggih, Prof Jimly Berharap Didengar Anies dan Surya Paloh

Winoto Anung - Nasional -> Politik
Senin, 4 September 2023 17:27
    Bagikan  
AHY
Tajuk Politik

AHY - Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat, memberikan pidato pertamanya pasca cabut dukungan ke Anies Baswedan.

HELOINDONESIA.COMKetua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono  (AHY) muncul memberikan pidato, Senin 4 September, di depan umum setelah peristiwa Anies Baswedan duet dengan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, yang keduanya sudah deklarasi Anies-Cak Imin.

Pengamat politik Hendri Satrio memuji pidato AHY itu canggih, karena politisi muda itu sudah berbicara nilai dan etika.

“Baru selesai dengerin Pidato Mas @AgusYudhoyono, satu kata untuk Mas AHY, Canggih!” kata Hensat, begitu sapaat pengamat politik ini di X (Twitter) dengan akun @satriohendri,

“Ketum Demokrat ini, masih muda sudah bicara nilai dan etika. Saya percaya Muda adalah Kekuatan! Semoga dimudahkan jalan dan karir politiknya Mas!” lanjut Hensat.

Baca juga: AHY Nyatakan Move On Usai Deklarasi Anies-Cak Imin

Sedangkan pakar hukum tata negara Prof Jimly Asshiddiqie mengomentari pendek, dan penuh arti. Ia berharap Anies Rasyid Baswedan (ARB) dan Surya Paloh (SP) mendengarkan pernyataan AHY tersebut. “Semoga statemen AHY ini didengar sendiri oleh ARB dan SP,” ungkap Prof Jimly.

Sedangkan mantan Sekjen Kementerian BUMN M Said Didu ikut AHY tersebut. “Pak AHY memiliki banyak kelebihan untuk meimimpin bangsa ke depan. Sukses selalu,” ujarnya.

Akan halnya netizen terkenal dengan nama King Purwa (akun @BosPurwa) turut memuji pidato AHY tersebut, terkait ucapan selamat dan sukses untuk pasangan Anies-Cak imin. Dia bilang: keren.

Baca juga: Demokrat-Nasdem Heboh soal Baleho Bacapres, PKB Masih Anteng Bae

“AHY @AgusYudhoyono dengan Jiwa Besar mengucapkan Selamat & Sukses kepada Pasangan ANIES BASWEDAN - MUHAIMIN ISKANDAR. Keren...” tulis @BosPurwa.

Sebelumnya, dalam pidato di DPP Partai Demokrat, Jakarta Pusat, AHY memberikan ucapan selamat kepada duet capres-cawapres  Anies-Cak Imin. Ucapan berarti disampaikan setelah Partai Demokrat keluar dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan.

“Saya mengucapkan selamat kepada bapak Anies Rasyid Baswedan dan bapak Muhaimin Iskandar yang baru saja mendeklarasikan sebagai pasangan capres dan cawapres 2024 ke depan. Semoga sukses,” kata AHY saat pidato di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta Pusat, senin 4 September.

Baca juga: Tak Hadiri Deklarasi Anies-Imin, PKS Diprediksi Bakal Keluar Dari Koalisi Perubahan

Dalam jumpa pers hari ini AHY juga menyatakan telah memaafkan pihak-pihak yang menyakiti partai. “Tentu dengan memberi maaf kepada siapapun yang menyakiti kita, baik secara langsung maupun tidak langsung,” kata AHY.

AHY menganalogikan manuver Anies dan NasDem dengan menggaet Ketua Umum PKB, Cak Imin seperti perang. AHY mengungkapkan saat masih aktif sebagai prajurit TNI, dirinya mengatakan diajarkan untuk memegang teguh nilai dan etika keperwiraan.

“Hal ini adalah modal utama bagi seorang prajurit dalam mengemban tugas apapun,” katanya.

Baca juga: Selang Tiga Hari Resmi Jadi Cawapres Anies, Cak Imin Bakal Diperiksa KPK Besok

AHY juga mengatakan, bahwa etika turut diterapkan saat dirinya ditugaskan untuk berperang. Sehingga perang bukan hanya tentang killed or to be killed. “Bukan hanya seolah tentang menang atau kalah tetapi juga cara untuk bisa memenangkan peperangan tersebut,” katanya.

AHY menilai, apa yang dipelajari dan diterapkannya saat masih aktif sebagai prajurit TNI dapat dilakukan pula dalam berpolitik khususnya soal etika.

“Tentunya kita mendambakan praktik-praktik yang baik. Kita juga tidak ingin seolah semuanya bisa asal tidak boleh kalah,” tuturnya.

AHY pun berharap ketika Demokrat, NasDem, dan PKS tergabung dalam Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP), maka etika berpolitik diterapkan terhadap tiap anggota.

Namun, hal tersebut tidak dapat diwujudkan. “Komitmen menjadi barang yang langka. Kata maaf dijadikan obat yang murah untuk pengingkaran atas sebuah komitmen,” katanya.

“Jika dibiarkan bisa menjadi budaya, sebuah pembenaran dan lambat laun bisa membentuk karakter bangsa yang tidak bertanggung jawab,” ungkapnya. (**)