Auto Kangen Ibu Lee

Senin, 27 November 2023 09:06
HBM Herman BM

Oleh Herman Batin Mangku*

SUHU politik mulai panas, terutama persaingan memperebutkan kursi eksekutif dan kepala negara yang tinggal dua bulan lagi. Semua partai telah memanaskan mesin politiknya dan para relawan menggeliat sambil ngamen lagu basi berjudul "Kesejahteraan Rakyat.

Pemihan gubernur/bupati/wali kota yang belum begitu terasa, masih tipis-tipis. Alasan para kandidatnya nyaris seragam, masih fokus merebut kursi legislatif dan memenangkan bakal calon presiden dan wakil presiden.

Jika pun ada yang kelihatan sibuk, incumbent. Dengan waktu mepet jelang berakhirnya masa jabatan, mumpung masih dapat menggunakan APBD dan banyak anak buah yang takut dimutasi, bagi-bagi beras hingga ke gang-gang sempit kantong suara.

Ribuan orang diumrohkan, banyak yang tak mampu, tapi juga nyelip orang-orang aji mumpung. Nyisir suara ke tengah, gelar pengajian ngundang ustadz top, jalan sehat berhadiah menggoda, bidik milenial dengan pertunjukan musik.

Yang tidak berkuasa, harus sabar. Siapa tahu jagonya menang, gantian mendukungnya jadi gubernur. Untuk menjaga tetap dinilai peduli rakyat tipis-tipis aja dulu, cukup bagi-bagi sesuatu yang bisa bikin macet kendaraan sehingga banyak yang tahu si bedul lagi baksos.

Dalam suasana politik yang makin panas ini, saya kok auto kangen dengan Purwanti Lee, bos Sugar Group Companies (SGC). Walau kangennya cinto kelapo, aku cinto dio dak apo-apo. Kangen melihatnya dalam usia tak muda lagi tetap modis tak kalah gaya sportynya dengan anak milenial.

Kangen melihatnya naik panggung kampanye presiden dan melihatnya memerintah calon gubernur atau bupati pakai telunjuknya. Biasanya, jelang pemilihan seperti ini, kasak-kusuknya sudah terdengar, arah anginnya sudah terasa.

Namun, tak seperti sebelumnya, jelang Pemilu 2024, suaranya masih sesunyi suasana ratusan ribu hektare kebun tebunya. Mudah-mudahan kabar baik, Pemilu 2024, dirinya tak ikut-ikutan lagi agar rakyat tak lagi terpengaruh memilih karena terbuai wayangan dan jalan sehat berhadiah wahnya.

Bisa juga, dirinya belum terdengar suaranya karena ikut galau sulitnya menebak arah angin pusat kekuasan "pascapisah ranjangnya" Jokowi dengan Megawati. Belum lagi pertimbangan, mungkin, bagaimana nasib kebunnya jika Anies yang bertagline perubahan menang.

Salah memilih yang didukung, resikonya lumayan, maklum suara-suara sumbang soal pajak dan lahan masih terus menyundul-nyudul ke kepermukaan. Selama ini sih, tak ada masalah, aman-aman saja sejalan gubernur dan presiden yang didukungnya aman lancar berjaya.

Mungkin pula, para calon gubernur belum "jor-joran" karena faktor masih menunggu jari telunjuknya. Pengalaman 10 tahun terakhir ini, didukung Purwanti Lee, tiket peluang jadi gubernur atau bupati memenangkan kontestasi pemilihan.

Ridho Ficardo yang masih berusia 34 tahun bisa punya partai dan jadi gubernur tak bisa dilepas dari tangan dingin Purwanti Lee. Arinal Djunaidi, seorang ASN yang kenal dengan Purwanti Lee sejak masih jadi kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung (2005-2010) jadi ketua partai dan gubernur.

Ridho Ficardo mencoba berjuang sendiri untuk periode kedua dengan modal elektabilitas yang jauh lebih tinggi bisa kesalip dengan Arinal Djunaidi dengan pola sosialisai yang sama dengannya waktu periode pertama: wayangan, jalan sehat, sembako.

Mungkin, jelang pesta demokrasi ini, bukan hanya saya saja yang auto kangen dengan Purwanti Lee, banyak yang juga barang kali kangen juga, apa lagi para kandidat calon kepala daerah ya? Ayooo ngaku? 

* jurnalis

Berita Terkini