HELOINDONESIA.COM - Loyalis Anies Baswedan, Geisz Chalifah, menilai dinamika politik nasional masih sangat cair, terutama terkait peluang gerakan rakyat mengikuti kontestasi politik serta posisi Anies dalam peta kekuatan mendatang.
Mantan aktivis di Lembaga Seni dan Budaya MN KAHMI dan PB Pemuda Al Irsyad, mengatakan, gerakan yang dibahas dalam pertemuan tersebut telah menyelesaikan seluruh persyaratan administratif dan kini tinggal menunggu proses verifikasi faktual oleh Komisi Pemilihan Umum atau KPU dalam waktu dekat.
Menurut Geisz, gerakan tersebut juga telah membangun jaringan di puluhan provinsi, kabupaten, dan kota.
Ia menilai kepatuhan terhadap persyaratan administrasi sejauh ini sangat kuat di berbagai daerah hingga sekarang.
Baca juga: Crafted Sanwidch, Kuliner Cepat Saji Sebagai Makanan Pembuka dan Pelipur Lara di Malam Hari
Namun, Geisz menilai masa depan gerakan tersebut masih dipengaruhi keputusan pemerintah. Salah satu pertanyaannya adalah apakah pemerintahan Prabowo memberikan ruang bagi gerakan rakyat berpartisipasi dalam kegiatan politik terbuka ke depan.
Selain itu, persoalan ambang batas nol persen masih menjadi perdebatan. Geisz menyebut mekanismenya kemungkinan memerlukan proses panjang di DPR setelah Mahkamah Konstitusi menangani persoalan tersebut dan politik nasional ke depan.
Mantan Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, perusahaan pengelola kawasan wisata Ancol di Jakarta di zaman Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, juga memertanyakan apakah gerakan rakyat nantinya perlu bekerja sama dengan partai politik yang telah memiliki kursi di DPR, atau memilih bergerak secara mandiri dalam kontestasi menjelang pemilu nantinya.
Baca juga: Ketua PERADI Bey Pakde Sujarwo Mantu, Putrinya Naya Dipersunting Rey
Sebagai gambaran, pria jebolan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Jayabaya
Tahun lulus 1987, menyebut modal awal yang biasanya dibutuhkan untuk membangun kekuatan politik dan memenuhi kebutuhan penyelenggaraan di tingkat nasional dapat mencapai sedikitnya satu triliun rupiah untuk tahap awal perjuangan.
Di tengah dinamika tersebut, posisi Anies Baswedan juga menjadi perhatian. Saat ini, mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak memegang jabatan publik dan relatif jarang tampil di hadapan publik secara langsung.
Geisz mengatakan sejumlah survei politik tetap menempatkan Anies pada posisi atas. Ia menyebut Anies kerap berada di peringkat ketiga setelah Prabowo dan kandidat lainnya dalam berbagai pengukuran elektabilitas nasional terkini.
Survei terbaru Median, menurut Geisz, menunjukkan Prabowo berada di posisi teratas, sementara KDM dan Anies berada cukup dekat di belakangnya dalam peta persaingan politik nasional saat ini secara keseluruhan.
Meski tidak memiliki posisi kelembagaan seperti AHY maupun Gibran, Geisz menilai Anies masih mempunyai tingkat pengenalan publik yang kuat. Namanya tetap diperhitungkan dalam dinamika politik nasional hingga kini.
Baca juga: Satu Pelaku Curas Diamankan Polisi, Aksinya Sempat Viral di Medsos
Geisz mengakui prospek politik Anies sulit dipastikan. Perubahan koalisi, kebijakan pemerintah, perkembangan partai, serta respons masyarakat dapat memengaruhi peta politik menjelang agenda elektoral berikutnya dalam waktu mendatang.
Lelaki Betawi yang tumbuh di Poncol, Senen, Jakarta Pusat, juga menjelaskan alasan dirinya dan sejumlah rekan tidak bergabung dengan organisasi politik tertentu. Menurut Geisz, pencantuman nama mereka berpotensi langsung dikaitkan dengan Anies Baswedan oleh publik luas secara langsung.
Kondisi itu, kata aktivis dan pekerja kebudayaan serta pernah terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan, dikhawatirkan akan membatasi ruang gerak rekan-rekan mereka. Karena itu, pilihan untuk tidak melekat pada organisasi tertentu dinilai menjaga kebebasan dalam menentukan sikap politik secara terbuka.
Baca juga: Perteguh Kebhinekaan, PSMTI Gelar Rangkaian Munas VIII, Rapimnas, hingga Charity Walk di Jakarta
Perkembangan gerakan rakyat, penyelesaian persoalan ambang batas, serta arah kebijakan pemerintah menjadi faktor penting yang akan menentukan konfigurasi politik berikutnya, termasuk peluang Anies kembali menjadi pusat perhatian publik nasional.