Helo Indonesia

Senandung Petani di Sekitar Embung

Ajie - Ragam
Senin, 23 Oktober 2023 11:10
    Bagikan  
Senandung Petani di Sekitar Embung

Pemberian ikan dan penampakan Embung Subari. Anggota Poktan Marsudi Tani (dari kiri) Slamet Susilo, Subari, dan Rahmat serta data embung yang dibangun Pemprov Jateng. Foto: Wisnu S/Kalibareng.desa.id/Pusdataru.jatengprov.go.id

KENDAL, HELOINDONESIA.COM - Kemarau panjang tahun ini akibat fenomena El Nino mendatangkan mimpi buruk bagi para petani di beberapa wilayah Jawa Tengah. Suhu panas yang ekstrem dan kekeringan menyisakan cerita nestapa.

Di Desa Mojo, Boyolali, dampak kekeringan membuat puluhan hektare lahan pertanian mangkrak karena tak bisa digarap.Di Desa Deyangan, Kabupaten Magelang, warga harus berjibaku mencari air untuk mengairi sawahnya yang nyaris puso lantaran telah retak-retak.

Namun di atas bukit yang terjal di Desa Kalibareng, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Slamet Susilo (50) menatap tenang ladangnya  yang ditanami pepaya jenis Eksotik. Lahan itu membasah oleh aliran air dari sebuah embung. Sebanyak 450 pohon pepaya miliknya tumbuh subur dan berbuah lebat, di tengah kemarau yang tak bersahabat.

Slamet, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Marsudi Tani Desa Kalibareng itu hanya bisa bersyukur. Lahan untuk berkebun miliknya terselamatkan dari kekurangan air berkat keberadaan Embung Subari yang berjarak 500 meter.

Baca juga: Ganjar Minum Jamu dan Santap Pecel di Media Center TPN Usai Jalani Tes Kesehatan

Bagi Desa Kalibareng, yang 95 persen warganya hidup bertani, keberadaan embung Subari begitu berarti. Banyak petani menuai manfaat dari aliran airnya untuk bercocok tanam.

Pada musim kemarau panjang kali ini, meskipun airnya menyusut mencapai 1,5 meter dari permukaan, embung seluas 1.800 m2 itu masih mampu mengalirkan air ke 35 hektare lahan pertanian di Kalibareng.

embung2

Di mata warga, adanya embung sedalam 5 meter tersebut merupakan berkah. Petani bisa bersenandung riang, seraya membayangkan rezeki dari hasil panen pertanian padi, buah, dan sayuran yang melimpah.

''Jika sebelum ada embung, petani hanya bisa tanam dua kali dalam satu tahun, kini petani di sekitar embung bisa tiga kali tanam dalam satu tahun. Alhamdulillah,'' kata Slamet, Kamis, 12 Oktober 2023.

Slamet menganggap embung atau tandon air yang dibangun di lokasi paling tinggi  ini merupakan salah satu pilihan yang menjanjikan karena teknologinya sederhana, biaya relatif murah dan dapat dijangkau kemampuan petani.

''Kami bersyukur desa ini juga dianugerahi mata air dari Bukit Cenandi yang menjadi penyuplai air di embung melalui pralon besar,'' ujar Kasi Kesra Desa Kalibareng tersebut.

Desa Kalibareng laksana serpihan surga yang terlempar ke bumi. Segala komoditas tanaman pangan seperti padi dan jagung dengan varietas unggul tumbuh subur di sana. Ada juga melon dan semangka jenis premium, sayur-sayuran seperti bawang, cabai, dan kacang panjang. Produksi tanaman pangan yang berlipat sangat terbantu dengan adanya embung ini.

Berdasarkan sejarah, asal-usul Kalibareng berasal dari tokoh bernama Simbah Kiai Ageng Bareng. Desa itu berada di ketinggian 400 mdpl berjarak 35 km dari Kota Kendal. Wilayahnya diapit oleh Desa Kedungasri (Kecamatan Ringinarum) di sebelah Utara, Kalilumpang (Patean) di sisi Timur, Sukomangli (Patean) bagian Selatan dan Tambahrejo (Pageruyung) sebelah Barat.

Adanya Embung Subari sebagai penyangga kebutuhan air petani Kalibareng, berawal dari Gerakan Seribu Embung yang digagas Gubenur Jateng saat itu, Ganjar Pranowo. Nama embung diberikan Ganjar sesuai nama petani warga RT 1/RW 1 Desa Kalibareng bernama Subari (55).

Baca juga: Khalifah Umar Larang Putranya Copras Capres

Subari adalah petani sederhana dan bersahaja namun inspiratif karena rela menghibahkan tanahnya untuk lokasi pembangunan embung. Saat ditemui di rumahnya, Rabu (11/10), Subari mengatakan, ikhlas  menghibahkan tanah itu dengan satu tekad, membantu petani agar bisa panen, tanpa kekurangan air.

Masih terekam dalam memori Subari, bahwa sebelum ada embung, para petani menjerit karena kekurangan air untuk mengairi lahan. Bersama Poktan Marsudi Tani pimpinan Slamet Susilo, disampaikanlah usulan ke Pemkab Kendal agar Kalibareng dibuatkan embung.

embung3

Usulan itu juga didengar dan langsung direspons Pemprov Jateng. Pada 14 Februari 2023 lalu embung tersebut resmi beroperasi sebagai kolam konservasi untuk pengairan lahan pertanian, khususnya saat musim kemarau.

''Harapan saya, embung itu bisa mengaliri sawah setiap musim, sehingga hasil panen lebih optimal. Syukurlah bersama kawan-kawan petani, kami merasakan manfaat embung. Kami jadi sering panen,’’ kata local hero yang dikaruniai dua anak itu.

Jantung Desa

Pratomo, Direktur Eksekutif Yayasan Obor Tani sekaligus konsultan pembangunan embung mengapresiasi langkah Pemprov Jateng membangun embung untuk warga Kalibareng. Ini bentuk kehadiran Pemerintah membantu petani dan masyarakat dalam menyokong tersedianya air sepanjang waktu.

Menurut dia, wilayah Kecamatan Patean di mana Kalibareng berada, menjadi lokasi yang tepat membangun embung sebagai sumber irigasi untuk budidaya komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi. Dikatakan Pratomo, embung dikenalkan pertama kali di Jateng berada di Patean, tepatnya di Agrowisata Ngebruk Desa Sidokumpul pada 2005. Selanjutnya disusul di kawasan agrowisata Hortimart Bawen.

Dia menjelaskan, embung sangat penting bagi desa. Waduk berukuran mikro ini tak ubahnya jantung desa karena untuk menjaga keseimbangan alam serta sumber kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia. Embung juga secara tidak langsung berperan sebagai penghasil oksigen melalui proses fotosintesis oleh berbagai jenis fitoplankton yang hidup di dalamnya.

‘’Embung pun bisa menjadi radiator desa, yang menurunkan suhu 2 derajat Celsius dari suhu sekitar,’’ kata Pratomo saat dihubungi Minggu 15 Oktober 2023.

Bagaimana prasyarat pembangunan embung? Dia berpendapat diusahakan di titik kontur tanah tertinggi, agar tidak kehilangan gaya gravitasi untuk penyiraman. Makin datar kontur ,biaya makin rendah. Sebaliknya, makin curam biaya pun makin tinggi.

‘’Kontur tanah liat dengan pasir yang seimbang itu paling bagus untuk membuat embung. Jika berada di tanah kapur perlu diaduk dengan tanah liat untuk pemadatan dengan vibro roller (alat berat yang dilengkapi getaran). Tanah berbatu paling mahal karena harus pakai breaker,’’ ujar ilmuwan lulusan Agrobisnis Stiper Farming Semarang, dan S2 Jurusan Teknologi Pangan Unika Soegijapranata itu.

Konsultan yang sudah terlibat dalam pembangunan sejumlah embung di Jateng, Yogyakarta, dan Sumatera Utara itu menyarankan agar dalam merawat dan menghijaukan embung, warga bisa menanami sekitar embung dengan pohon-pohon berkayu seperti mangga, rambutan, nangka atapun mahoni.

Menurut buku Tata Ruang Air yang ditulis Rustam (2010), embung didefinisikan sebagai bangunan artifisial yang berfungsi untuk menampung dan menyimpan air dengan kapasitas volume kecil tertentu, lebih kecil dari kapasitas waduk/bendungan. Sedangkan mengacu PP No. 77 Tahun 2001 tentang Irigasi,  embung disebut juga waduk lapangan dan didefinisikan sebagai wadah penampung air irigasi pada waktu terjadi surplus air di sungai atau pada saat hujan.

Baca juga: Soal Gibran Cawapres Prabowo, Ganjar: Selamat dan Kita Bertanding dengan Fair

Pemprov Jateng menaruh perhatian besar dengan membangun embung di berbagai kabupaten/kota guna menguatkan ketahanan ekonomi masyarakat setempat. Prinsipnya, membantu petani untuk bertahan manakala kemarau melanda.

embung4

Merujuk data di portal Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) Jateng, saat ini sebanyak 1.141 embung telah dibangun di Jateng dan akan terus ditambah.

Anggaran pembangunan embung bersumber dari APBN pusat dan APBD Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sebanyak 142 embung telah dibangun dengan dana APBN dan dikerjakan oleh BBWS, sedangkan melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng ada 512 unit.

Pembangunan yang didanai APBD dilakukan secara gotong royong oleh Dinas Pusdataru sebanyak 75 unit, Dinas Pertanian dan Perkebunan (4 unit), dan pemerintah kabupaten/kota (13 unit).

Kepala Dinas Pusdataru Provinsi Jateng Eko Yunianto menjelaskan, pihaknya telah membangun embung 75 unit di 19 kabupaten/kota. Embung tersebut ditambah dengan 17 long storage berkapasitas tampungan air mencapai 2,5 juta m3.

Baca juga: Puncak Peringatan Hari Santri Nasional 2023, PPFF Gelar Mujahadan, Upacara dan Pentas Seni

Selain embung, di Jawa Tengah juga terdapat 41 bendungan eksisting. Saat sekarang tengah dibangun tiga bendungan baru, yakni Bendungan Jragung di Kabupaten Semarang, Bendungan Jlantah di Karanganyar, dan Bendungan Bener di Purworejo.

Dalam sebuah diskusi yang dihadiri DPRD Jateng, Eko menjelaskan, anggaran yang dibutuhkan untuk membangun satu buah embung sekitar Rp 2,5 – Rp 3 miliar dengan perhitungan luas lahan yang dibutuhkan sekitar satu hektare.

"Fungsi embung juga untuk menjawab kekurangan air baku, sehingga tidak selalu didesain pembangunanya hanya untuk irigasi. Dulunya embung untuk pengairan tanaman ekonomi tinggi, seperti kelengkeng dan buah naga. Namun sekarang ada kesenjangan kekeringan air bersih, sehingga konsep embung harus dihadirkan di tempat yang membutuhkan," terang Eko.

Ya, ketika kemarau begitu genting, di mana sumur dan sungai mengering, kita tahu betapa berharganya air. Seniman besar Leonardo da Vinci pernah mengatakan, air adalah kekuatan pendorong semua alam. Dan di desa-desa, embung bagi petani, adalah jembatan untuk mewujudkan harapan. (Wisnu Setiadji)